Banyak Kendala DP2K Kota Medan dalam Memadamkan Kebakaran


101 view
Banyak Kendala DP2K Kota Medan dalam Memadamkan Kebakaran
Foto Dok
Alboin Sidauruk
Medan (SIB)
Dinas Pencegah dan Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan memiliki kendala dalam tugas penanganan kebakaran sering akibat lambatnya komunikasi. Padahal DP2K sudah menyediakan berbagai saluran komunikasi mulai dari saluran telepon di nomor 113, (061)4515356, aplikasi e-damkar, istagram @disdamkar maupun facebook Dinas Damkar Medan.

Hal itu dikatakan Kepala DP2K Kota Medan Alboin Sidauruk kepada wartawan di ruang kerjanya Jalan Candi Borobudur Medan, Jumat (17/9).

Dia mencontohkan dalam kebakaran di Jalan Mahkamah Medan yang terjadi beberapa waktu lalu. "Kebakaran di Jalan Mahkamah itu yang sampai memusnahkan 17 pintu rumah diakibatkan keterlambatan informasi yang dilaporkan masyarakat. Padahal lokasinya dekat dari kantor kita, sekitar 3 menit waktu tempuhnya. Hanya terlambat dilaporkan ke mari, jadi anggota saya sampai di TKP itu sudah 8 sampai 9 unit yang terbakar. Berarti kebakarannya sudah terjadi sekitar 15 sampai 20 menit," ucapnya mengilustrasikan dampak dari keterlambatan informasi dalam komunikasi.

Dia berharap agar warga Kota Medan dapat menggunakan seluruh saluran komunikasi yang telah disiapkan tersebut untuk sesegera mungkin melaporkan terjadinya kebakaran. Sehingga penanganan kebakaran dapat cepat dilakukan DP2K Medan.

"Kita dituntut Permendagri 114 dengan SPM (Standar Pelayanan Minimum) di mana respon time itu minimum 15 menit harus sampai di TKP. Bahkan sasaran saya di Kota Medan ini saya rencanakan 10 menit respon time-nya. Semakin cepat kita sampai di lokasi semakin tertolong masyarakat," jelasnya.

Tujuan untuk meminimalisir kerugian masyarakat akibat kebakaran. Itulah perlindungan DP2K kepada masyarakat. Selain itu dia menyebutkan bahwa kendala lain DP2K Medan adalah suplai air. Dari semua UPT yang ada diungkapnya hanya UPT Belawan yang tak ada tandon karena UPT itu numpang di Kantor Camat Belawan.

Dia membeberkan kalau UPT di Kawasan Industri Medan (KIM) memiliki tandon kapasitas 30 ton. Demikian juga UPT Amplas memiliki tandon berkapasitas 30 ton serta di Kantor DP2K Medan ada kapasitas 100 ton. Itu hanya di tandon belum yang di armada. "Jadi kalau terjadi kebakaran besar yang butuh air dalam jumlah banyak, maka armada yang ada harus berulang dan bolak-balik ke kantor untuk pengisian air," terangnya.

Hal itu, ungkapnya, dikarenakan saluran hydrant yang ada di Jalanan di Kota Medan tidak berfungsi. "Dua tahun lalu saya ditugaskan sebagai Kepala DP2K, telah memerintahkan staf untuk mencek semua hydrant yang ada di Kota Medan. Dari data, katanya ada 113 titik hydrant. Tapi setelah dicek di lapangan yang ada hanya 53 dan dari 53 hydrant itu yang bisa berfungsi hanya 16. Tapi dari 16 itupun yang bisa berfungsi total hanya 6 hydrant," bebernya.

Sidauruk mengaku telah membangun komunikasi dan koordinasi dengan pihak PDAM Tirtanadi lewat surat dan juga melalui rapat forum Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tahunan dalam perencanaan DP2K yang juga dihadiri pihak PDAM Tirtanadi.

"Mereka hadir dan saya sampaikan itu. Tapi penjelasan mereka dapat dimaklumi karena PDAM Tirtanadi di Kota Medan kekurangan suplai air. Debit airnya rendah dan tidak sebanding lagi dengan tingkat kebutuhan konsumen yang ada. Bahkan ada daerah tertentu yang saya dengar seperti di Perumnas Helvetia masyarakat susah mendapatkan air Tirtanadi karena suplainya kurang," jelas Sidauruk.

Menyiasati kondisi tersebut dia telah membuat Standart Operasional Pelayanan (SOP) armada yang ada dengan kapasitas daya angkut air masing-masing 3,5 ton, 5 ton dan 10 ton. "Jadi bila terjadi kebakaran, 3 armada sekaligus digerakkan ke TKP. 1 unit dengan kapasitas 3,5 ton dan 2 unit dengan kapasitas 5 ton," urainya.

Perlu diketahui DP2K Kota Medan memiliki 2 unit armada dengan kapasitas angkut air 10 ton. Karena bobotnya besar, armada itu tidak dapat dipaksa bergerak dengan cepat. Maka dijadikanlah kedua armada itu sebagai pensuplai air ke TKP kebakaran.

"Kalau terjadi kebakaran maka yang duluan bergerak adalah 3 armada dengan kapasitas angkut air 5 ton. Dan bila dibutuhkan tambahan air maka armada kapasitas 10 ton yang mensuplai kebutuhan air. Jadi tergantung informasi dari lapangan," terangnya.

Disinggung soal jumlah armada pemadam kebakaran DP2K Kota Medan yang ada saat ini, Sidauruk menyebutkan ada 35 unit yang layak pakai yang tersebar di 4 UPT dengan rincian, armada usia sampai 10 tahun ada 12 unit. Keempat UPT itu yakni Belawan, KIM, Amplas dan di Kantor DP2K Kota Medan.

"Untuk mengejar target respon time tadi di bawah 10 menit, dalam Renstra sampai 2026 kita telah merencanakan menambah 4 UPT lagi dan tahun ini sedang dibangun di Tuntungan. Tahun depan kita rencanakan untuk dibangun di Letda Sujono, Tembung. Tahun 2023 direncanakan di Helvetia dan tahun berikutnya direncanakan dibangun di Jalan Bilal," paparnya.

Selain itu, DP2K Kota Medan juga pada tahun berikutnya merencanakan pembangunan pos di USU dengan konsep USU menyediakan lahannya dan DP2K Kota Medan yang membangunnya. Kemudian, DP2K Kota Medan juga dikatakan Sidauruk telah merencanakan pembangunan Pos di Simpang Kantor dan Marelan.

Dia juga menyebutkan bahwa untuk setiap UPT akan disiapkan 3 unit armada dan Pos 2 armada dengan kapasitas masing-masing armada 3,5 ton. Dengan konsep tersebut diyakininya kerja DP2K Kota Medan akan efisien dan tidak perlu menggerakan banyak armada. Penanganan kebakaran juga menjadi cepat dan efektif.

Pengamanan Gedung
Terkait pengamanan gedung-gedung di Kota Medan dari bahaya kebakaran, dikatakannya, DP2K Kota Medan rutin melakukan inspeksi dan investigasi terhadap sarana dan prasarana pencegah pemadam kebakaran di gedung-gedung yang ada setiap tahunnya.

"Seluruh gedung sesuai dengan UU 28 Tahun 2001 Tentang Gedung Dan Bangunan yang digunakan untuk publik atau yang tidak tapi lebih dari 4 lantai wajib menggunakan alat proteksi pemadam kebakaran. Maka di situ ada hydrant lapangan dan juga di setiap lantainya serta memiliki sistem proteksinya di dalam gedung," jelasnya.

Bila terjadi kebakaran pada gedung-gedung itu sambungnya, DP2K Kota Medan tidak bertugas untuk memadamkan apinya karena sistemnya sudah ada di gedung itu, tapi memeriksa alat-alat proteksi yang ada di gedung tersebut.

"Setiap gedung ada STPL-nya berupa Surat Keterangan Laik Fungsi dan itu kita periksa kalau kita memberikan rekomendasi. Bila tidak laik fungsi, tidak kita terbitkan rekomendasinya. Jadi bila terjadi kebakaran, kita hanya fokus pada upaya penyelamatan dan juga mensuplai air yang dianggap tidak cukup di tandon karena mereka rata-rata punya tandon," terang Sidauruk.

Maka dalam rangka pencegahan terjadinya kebakaran, imbuhnya lagi DP2K Kota Medan memeriksa kelayikan itu pada setiap gedung di Kota Medan dalam rentang waktu setahun sekali. Sebab tugas DP2K adalah mencegah, memadamkan dan menyelamatkan.

Dalam tugas penyelamatan dia menyebut bahwa DP2K Kota Medan juga hampir setiap hari melakukan penyelamatan kepada warga dari gangguan hewan liar seperti ular, biawak, maupun hewan lainnya. (A13/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com