Dorong Petani Sejahtera, Tagor Aruan Tinjau Poktan dan GP3A Desa Kayubesar

Bendungan Sungai Lagundadi Sergai Nyaris Jebol, Petani 2 Desa Resah


218 view
Bendungan Sungai Lagundadi Sergai Nyaris Jebol, Petani 2 Desa Resah
Foto: SIB/Frans Sihombing
NYARIS JEBOL. Warga petani, tokoh masyarakat dan perangkat desa bersama Tim AISI meninjau dan perlihatkan objek Bendungan Sungai Lagunda di Desa Pematangbulu dan Kayubesar di Kecamatan Bamndarakalipa Kabupaten Sergai, Sabtu (17/4). Kiri-kanan: Hermanto Simanungkalit Sekdes Kayubesar, Jamotlen Sitinjak pengurus GP3A, Tagor Aruan Kordinator Tim AISI dan Ketum KIB, Luhut Nainggolan, Sarji Simanjuntak dan   Pierson Siringoringo, masing-masing tokoh masyarakat dan petani Desa Kayubesar.
Sergai (SIB)
Sarana pengairan pertanian primer berupa Bendungan Sungai Lagunda di Desa Kayu besar dan Dusun Pematangbulu Kecmatan Bandarkalipah Kabupaten Serdangbedagai, saat ini rusak parah dengan kondisi nyaris jebol-ambrol sehingga meresahkan para petani setempat.

Pengurus Gabungan Petani Penyalur dan Pemakai Air (GP3A) Kecamatan Bandarkalipa Jamotlen Sitinjak dan pengurus Kelompok Tani (Poktan) Pematangbulu-Kayubesar Pierson Siringoringo bersama sejumlah tokoh masyarakat setempat, menyatakan Bendungan Sungai Lagunda yang disebut juga Bendungan Golkar (karena konon dibangun oleh Partai Golkar) pada 1993 lalu, hingga kini belum pernah ditinjau sebagai tindak pemeliharaan rutin maupun berkala oleh pihak atau instansi terkait di daerah itu.

"Bendungan Sungai Lagunda dulunya dibangun untuk mengairi areal persawahan desa di dua kecamatan. Tapi sekarang, sudah belasan tahun rusak parah dan terancam jebol. Kami warga desa dan petani hanya bisa mengantisipasi seadanya untuk mencegah gerusan air. Kalau bendungan ini jebol-ambrol, sawah-sawah di beberapa desa ini akan tergenang dan tidak bisa dikerjakan sama sekali untuk bercocok tanam, termasuk menanam padi. Melalui tim peninjau ini kami minta pihak Pemda turunlah sesekali ke desa ini, jangan sampai bendungan ini hancur dulu baru datang," ujar mereka kepada pers di Serdangbedagai, Sabtu (17/4).

Bersama tokoh masyarakat desa Kayubesar dan Pematangbulu: Luhut Nainggolan dan Sarji Simanjuntak, mereka mengutarakan hal itu di hadapan Sekretaris Desa (Sekdes) Kayubesar Hermanto Simanungkalit dan Kordinator Tim Survey Peningkatan Ekonomi dan Investasi Masyarakat Captain Tagor Aruan dari Asosiasi Independen Surveyor Indonesia (AISI) Pusat. Selain meninjau lokasi bendungan yang selama ini dikelola GP3A dan Poktan setempat, Tagor Aruan bersama timnya ke desa itu juga untuk menghadiri perjamuan warga sebagai tradisi doa bersama mulai menanam padi (pra tabur benih) di gereja HKBP desa Pematangbulu.

Warga desa yang mayoritas rumpun masyarakat Batak, dalam kesempatan itu juga mendaulat Tagor Aruan yang juga Ketua Umum Komite Independen Batak (KIB) untuk memberi masukan dan advis agar mendorong semangat kerja para petani setempat. Kalangan tokoh masyarakat dan sesepuh petani desa itu juga mencetuskan beberapa keluhan lama akan hal-hal krusial, termasuk yang agak sensitif menyangkut kesejahteraan ekonomi dan kesetaraan sosial warga petani setempat, selama ini.

"Lahan persawahan yang produktif milik petani sekitar desa ini saja mencapai 550 hektar, tapi aliran air utama dari Bendungan Bajayu sebagai bendungan induk, ternyata tidak merata kepada petani. Sementara, bendungan lokal Sungai Lagunda untuk pengairan primer pun tidak terawat. Kalau sempat bendungan ini jebol karena tak dirawat, plus aliran air dari Bendungan Bajayu tidak pernah merata, 'lengkap' dan 'berlipat-ganda'lah ancaman dan penderitaan petani di sini, belum lagi dengan kondisi jalan lintas desa yang juga rusak parah ini," ujar Tagor sembari menunjukkan data berupa rekaman foto-foto kondisi objek pertanian setempat.

Secara khusus, petani Pierson Siringo-ringo dan tokoh masyarakat Luhut Nainggolan serta Sarji Simanjuntak, memaparkan keresahaannya dan mempertanyakan siapa nantinya yang akan bertanggungjawab bila para petani setempat gagal panen akibat ketiadaan air rutin untuk persawahan sekitar, terlebih di masa pandemi saat ini.

Soalnya, ujar mereka, di musim panen saja selama ini para petani juga terus mengeluhkan masalah angkutan hasil tani karena jalan alternatif dari desa Pematangbulu dan Kampungjuhar menuju Pagurawan (Kecamatan Tebingsyahbandar arah kota Tebingtinggi) juga masih rusak parah. (A05/d)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com