Biaya Produksi Tanaman Padi Membengkak, Ekonomi Petani Semakin Terpuruk

* Pemerintah Diharapkan Awasi Pendistribusian Pupuk Bersubsidi

112 view
Biaya Produksi Tanaman Padi Membengkak, Ekonomi Petani Semakin Terpuruk
Foto:SINDONews
Ilustrasi petani sedang memukul padi yang sudah dipanen. 
Simalungun (SIB)
Harga berbagai jenis kebutuhan untuk kebutuhan perawatan tanaman padi cenderung naik di pasaran, akibatnya daya beli masyarakat melemah dan ekonomi petani semakin terpuruk.

Hakim S warga tani Siborna Kecamatan Panei, Rabu (10/11) mengatakan, berbagai jenis kebutuhan untuk perawatan tanaman padi sejak satu tahun lalu naik tajam di pasaran.

"Kenaikan harga kebutuhan tersebut mengakibatkan biaya produksi semakin besar, sementara harga padi dipasaran menyesuaikan dengan harga yang ditentukan pemerintah. Hal ini memengaruhi pendapatan masyarakat relatif rendah dan ekonomi petani terpuruk," sebut Hakim S.

Beberapa jenis kebutuhan perawatan tanaman padi yang mengalami kenaikan harga di pasar disebutkan seperti pupuk, pestisida dan herbisida.

Herbisida digunakan dalam membrantas gulma, sebelum dan sesudah pindah bibit. Pestisida digunakan mencegah berkembangnya penyakit perusak tanaman, mulai dari pensemaian bibit sampai masa menjelang panen. Harga masing-masing kebutuhan naik sekitar 30% dari harga sebelumnya. Misalnya, jika satu kemasan pestisida harganya Rp 90.000 kemudian naik menjadi Rp 120.000 dalam satu kemasan yang sama.

"Anehnya, harga pupuk Urea bersubsidi juga merangkak naik di pasaran. Sebagaimana diketahui HET pupuk Urea bersubsidi Rp 112.500 per - zak, tetapi harga di tingkat pengecer bisa mencapai Rp 140.000 per - zak," jelas Hakim S.

Untuk mempertahankan eksistensi usaha tani dalam pengadaan ketahanan pangan lokal maupun nasional, ia mengharapkan perhatian dan kemauan pemerintah juga wakil rakyat yang duduk di DPRD melakukan pengawasan pendistribusian pupuk bersubsidi, sehingga tepat sasaran.

"Kita mengharapkan perhatian pemerintah berpihak kepada petani, mencegah permainan mafia pupuk, sehingga pendistribusian pupuk tepat sasaran," tegas Hakim S.

Ekonomi petani sawah beberapa tahun terakhir terpuruk karena kenaikan harga berbagai kebutuhan dalam perawatan tanaman padi. Hal ini jelas, biaya produksi membengkak, sehingga selisih antara penjualan produksi dengan biaya produksi relatif rendah. Kondisi ini dikatakan diperburuk dengan pandemi Covid-19 dalam masa dua tahun terakhir. (BR4/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com