Dampak Pembangunan Bendungan, Warga Desa Mardinding Protes Gedung SD Dipindahkan Terlalu Jauh


371 view
Foto.Dok/Anto Ginting warga Desa Mardinding
PROTES : Puluhan orangtua pelajar dan warga mendatangi gedung SDN 105305, protes atas pemindahan gedung sekolah terlalu jauh, Rabu (5/5/2021) di Desa Mardinding Kecamatan Biru-biru.
Lubukpakam (harianSIB.com)

Sekira 55 orang warga Desa Mardinding Kecamatan Biru-biru Kabupaten Deliserdang di antaranya orangtua pelajar, menyatakan protes dan keberatan atas pemindahan gedung SD Negeri 105305 di Dusun I Desa Mardinding, terlalu jauh sekira 8 Km dari lokasi gedung SDN, sehingga menyulitkan orangtua.

Protes itu disampaikan Anto Ginting (34) bersama orangtua pelajar, Abel Sembiring (45) dan Daniel Sembiring (55) ketiganya warga Desa Mardinding kepada harianSIB.com, Kamis (6/5/2021). Protes dan keberatan itu sudah dituangkan ke dalam surat pernyataan keberatan yang ditandatangani 55 orang warga desa setempat.

Puluhan orangtua pelajar dan warga mendatangi gedung SDN 105305 untuk menemui kepala sekolah, guna mengetahui bagaimana nasib anak mereka ke depan yang sedang belajar di SDN tersebut, Rabu (5/6/2021) di Desa Mardinding.

Lahan gedung SDN 105305 terkena lahan untuk pembangunan bendungan Lau Simei-mei, sehingga gedung SD itu harus dipindahkan. Namun orangtua pelajar dan warga keberatan karena lokasi pindahnya terlalui jauh yaitu ke gedung SD Santa Maria milik Yayasan Perguruan Katolik Don Bosco, di Desa Penen Kecamatan Biru-biru.

Menurut mereka, pembebasan lahan itu sudah terjadi tahun 2017, namun pembangunan gedung baru sebagai pengganti gedung SDN hingga sekarang belum ada tanda-tandanya, sementara sebahagian besar gedung SDN 105305, sudah dirusak untuk diratakan.

"Jika belajar tatap muka sudah diberlakukan, bagaimana nasib sekira 70 orang anak desa yang sedang belajar di SDN itu," keluh Anto Ginting.

Kepala Sekolah SDN 105305 Desa Mardinding, Herman Perangin-angin ketika dikonfirmasi harianSIB.com, mengatakan pemindahan itu hanya untuk sementara, sedang saat ini belum ada belajar tatap muka masih belajar online, sehingga anak didik belum ada ke sekolah. Permasalahan itu sedang ditangani Dinas Pendidikan Kabupaten Deliserdang.

Sementara Kepala Desa Mardinding, Dermawan Sitepu ketika dikonfirmasi harianSIB.com, membenarkan adanya protes warga desa itu. Sebelumnya sesuai permintaan dari pihak pelaksana proyek yaitu Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera II, kepada Pemerintah Desa dan Kepala Sekolah, bahwa pihak BWS bersedia menyiapkan bus sekolah untuk mengantar dan menjemput pelajar yang akan belajar tatap muka di Desa Penen.

"Fasilitas angkutan sekolah itu sudah disosialisasikan kepada masyarakat dan orangtua pelajar," jelas Kepala Desa. Terkait lahan, seorang warga desa Mardinding sudah bersedia untuk memberikan lahannya untuk pembangunan gedung sekolah pengganti SDN tersebut, namun kendalanya lahan itu butuh timbunan. “Setelah ditimbun, kan belum tentu bisa langsung dibangun” jelas Kades. (*).

Penulis
: Lisbon Situmorang
Editor
: Robert/Eva R Pelawi
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com