Dipanggil DPRD Medan, Ratu Entok Sebut Videonya yang Viral di Medsos Cuma Curhat Rakyat


282 view
Dipanggil DPRD Medan, Ratu Entok Sebut Videonya yang Viral di Medsos Cuma Curhat Rakyat
Foto: SIB/Horas Pasaribu
BERBINCANG: Irfan Satria Putra alias Ratu Entok berbincang-bincang dengan Wakil Ketua Komisi II DPRD Medan Sudari ST, Modesta Marpaung, Wong Chun Send dan Haris Kelana Damanik usai rapat dengar pendapat (RDP), Senin (3/5) di ruang rapat Banggar DPRD Medan.
Medan (SIB)
Irfan Satria Putra alias Ratu Entok yang sempat viral di media sosial lewat unggahan videonya yang dinilai melecehkan profesi perawat dipanggil Komisi II DPRD Medan dalam rapat dengar pendapat (RDP) untuk mengklarifikasi ucapannya tersebut. RDP tersebut digelar atas permintaan Dewan Pimpinan Cabang Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPC-PPNI) Kota Medan, Senin (3/5) di ruang rapat anggaran DPRD Medan.

Rapat RDP dipimpin Wakil Ketua Komisi II Sudari ST didampingi Modesta Marpaung, Afif Abdillah, Janses Simbolon, Wong Chun Sen, Johannes Hutagalung, haris Kelana Damanik dan Dhiyaul Hayati. Sedangkan Ratu Entok didampingi penasehat hukumnya Rahmat Sianturi SH MH. Hadir Ketua PPNI Jefri Banjarnahor, Seketaris Farida Aruan dan pengurus lainnya dan perwakilan perawat dari berbagai rumah sakit.

Pengurus PPNI dalam RDP itu hanya ingin mendengar pernyataan maaf Ratu Entok kepada seluruh perawat serta meminta keterangan apa motivasinya menyudutkan perawat terkait kejadian perawat RS Siloam di Palembang sebulan lalu. Tapi klarifikasi Ratu Entok tidak bisa dilakukan karena DPP PPNI Pusat sudah mengadukan dia ke Polda Sumatera Utara.

Sehingga RDP tersebut diskors, meminta DPC PPNI Medan berkordinasi dengan DPP agar mencabut pengaduan agar bisa dilakukan klarifikasi, minta maaf dan perdamaian lewat RDP. Karena dewan tidak punya hak melakukan RDP terhadap permasalahan yang sudah masuk ke ranah hukum. “Kami tidak bisa mencampurinya, karena sudah jadi tupoksinya Polda, jika ada perdamaian dengan PPNI di Poldalah dilaksanakan,” terang Sudari sambil menutup RDP.

Ratu Entok kepada wartawan mengatakan tidak ada ujaran kebencian dari video yang dipostinya tersebut, karena dia mengaku hanya seorang mamak-mamak berdaster yang tidak punya motivasi apa-apa. Semua itu kata dia murni unek-unek, kalau ada mengatakan ujaran kebencian itu dianggapnya hanya oknum tertentu yang tidak suka kepadanya.

“Ucapan saya itu unek-unek dalam logat Medan, saya juga bukan menghakimi, karena di video kedua saya sebut mayoritas. Kalau ada kalimat saya yang menyakitkan mereka dengan berbagai kiasan, itu kan dalam pelayanan BPJS. Kan tidak semua perawat melayani BPJS, ada oknum yang membesar-besarkan masalah ini,” kata Ratu Entok.

Menurut dia, ini adalah masalah kecil, jangan jadi seperti kasus koruptor besar sehingga harus di serang sana-sini. Tidak ada unsur apa-apa di dalamnya selain curahan hati rakyat yang dialami banyak orang dan Ratu Entok sendiri mengaku pernah mengalaminya ketika ekonominya masih surut.

“Tidak ada masalah kalau saya minta maaf, tapi tujuan maafnya kalau ada kata-kata saya menyakiti para perawat. Sementara sekarang ini perkataan harus pakai istilah oknum, sama juga dengan ucapan saya itu ditujukan kepada oknum perawat. Jadi hanya ada kesalahapahaman. Tapi banyak komen-komen yang pro kepada saya, lebih banyak yang pro daripada yang kontra. Jadi yang kontra itu orang yang tidak suka, mungkin salah satu duania medis yang tersudutkan. Itusa saja, saya rasa selebihnya adalah suara rakyat,” tegasnya. (A8/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com