Ditangkap Diduga Pelaku Penganiayaan, LSM Penjara Dairi Demo Minta Kedua Anggotanya Dilepas

* Kapolres: Penangkapan dan Penetapan Tersangka Sesuai Prosedur

268 view
(Foto: SIB/Tulus Tarihoran)
DIALOG: Kapolres Dairi AKBP Ferio Sano Ginting berdialog dengan Ketua LSM Penjara, Rezeky Sihombing dan Sekretaris Daniel Sihombing terkait permintaan pelepasan dua anggotanya dan lainnya, Rabu (3/2) di aula Mapolres Dairi. 
Sidikalang (SIB)
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Penjara demo meminta polisi melepaskan dua anggotanya yang ditangkap dengan dugaan penganiayaan, Rabu (3/2) di Mapolres Dairi.

Massa menyuarakan penangkapan rekannya diduga ada kriminalisasi dan polisi juga diminta penuntasan kasus dugaan korupsi yang mengendap serta pemberantasan judi di Dairi.

Ketua LSM Penjara, Rezeky Sihombing didampingi Daniel Sihombing yang juga koordinator aksi pada orasinya menyampaikan, penangkapan kedua anggotanya diduga ada kriminalisasi dan tidak memiliki bukti yang cukup. Keduanya ditangkap, tetapi tidak pernah ada surat pemanggilan sebagai saksi.

Koordinator aksi juga meminta polisi untuk menunjukkan alat bukti sebagai dasar penangkapan SS dan JS. Bahkan laporan korban ke polisi tidak ada nama terlapor tercantum. Tetapi disangkakan melakukan penganiayaan secara bersama-sama. "Penangkapan dan proses penetapan tersangka begitu cepat, ada apa ini," katanya.

Selain itu, mereka juga menyuarakan penuntasan kasus- kasus korupsi sesuai aduan masyarakat dan pemberantasan judi. "Ada laporan masyarakat terkait dugaan korupsi, tetapi belum ada tindaklanjut," katanya.

Usai menyampaikan orasi, Kasat Intel Polres Dairi, AKP Polin Damanik menemui koordinator aksi untuk mengajak berdialog di aula Mapolres Dairi. Di aula, Kapolres Dairi AKBP Ferio Sano Ginting menerima massa dan Ketua DPD LSM Penjara Sumut, Zulkifli.

Ferio Sano mengatakan, penangkapan terduga pelaku penganiayaan sudah sesuai dengan prosedur. Bila ada kesalahan dalam proses penetapan tersangka, negara menfasilitasi tersangka untuk melakukan pra peradilan.

Sesuai fakta kata Ferio Sano, korban malaporkan kejadian ke polisi karena jiwanya terancam karena kerap mendapat intimidasi dan dianiaya orang yang tidak dikenal. Namun, korban mengenal pelaku secara fisik.

Bagaimana nantinya, seorang kakek mendapat penganiayaan dan intimidasi bila polisi tidak hadir. "Kita punya semangat yang sama untuk memberikan keadilan kepada siapa pun, karena semua sama di mata hukum," katanya.

Mekanisme sudah dijalankan dan melakukan proses penyelidikan. Penangkapan dan penetapan tersangka karena penyidik sudah memegang dua alat bukti bahkan lebih. "Polisi tidak diwajibkan membeberkan alat bukti, karena ini bukan forum pembuktian. Bukti sudah lengkap. Polisi tidak main-main memproses suatu perkara," katanya.

Penuntasan kasus korupsi membutuhkan waktu untuk pembuktian. Kendati demikian, pihaknya akan menindaklanjuti. Dikatakannya, polisi tidak berhak melakukan audit, karena sudah ada lembaga yang menbidangi mengaudit dan menghitung kerugian negara. Ia juga mengapresiasi LSM Penjara, memiliki semangat yang sama dengan polisi, pemberantasan judi di Dairi.

Sebelumnya, polisi melakukan penangkapan terhadap SS dan JS, Senin (1/2) lalu. Keduanya diduga pelaku penganiayaan terhadap Mangantar Sihite (81) warga Dusun Kabandollong, Desa Kentara Kecamatan Lae Parira pada 11 Januari lalu. (K05/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com