GPEI Sumut Kunjungi Eksportir Bunga di Karo, Gunakan Teknologi Budidaya Pertama di Indonesia


115 view
GPEI Sumut Kunjungi Eksportir Bunga di Karo, Gunakan Teknologi Budidaya Pertama di Indonesia
Foto Dok/GPEI
TINJAU: Rombongan GPEI Sumut, pejabat Pelindo dan Kantor Karantina foto bersama saat meninjau teknologi budidaya bunga pertama di Indonesia, yang berada di Kabanjahe, Kabupaten Karo.
Karo (SIB)
Rombongan Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Sumut yang dipimpin Drs Hendrik Sitompul MM meninjau penerapan teknologi budidaya bunga di Kabanjahe, Kabupaten Karo, Kamis (11/11/2021). Teknologi itu merupakan yang pertama dan satu-satunya diterapkan di Indonesia.

Kunjungan kerja (kunker) GPEI itu juga diikuti Eriansyah dari PT Pelindo Multi Terminal dan Kepala Balai Karantina Belawan, Andi Yusmanto. Dari Pelindo juga hadir SVP Komersial, Jony Utama dan Rizky, Kepala Kantor Bea Cukai Belawan Tri Utomo serta Sudiwan Situmorang dari Kantor Karantina Kualanamu. Kunjungan itu dilakukan ke areal Toba Huss Farm, perusahaan eksportir bunga, yang dihadiri Bupati Karo, Corry Sebayang.

Dalam kesempatan itu, Corry Sebayang mengaku bangga karena perusahaan itu telah membawa nama baik Kabupaten Karo. “Saya berharap, expor bunga membawa nama baik Karo sekaligus memberi lapangan kerja bagi warga serta memberi kesempatan belajar bagi petani di Kabupaten Karo tentang penerapan teknologi pertanian,” harap Bupati Corry.

Sementara General Manager Toba Huss Farm Bert Knelisen menjelaskan pihaknya mengelola lahan kebun 10 hektare selama tiga tahun. Selama itu pula telah mengekspor ke negara Australia dan Jepang.

"Namun disayangkan masih banyak bahan baku yang diimpor. Misalnya, serbuk kelapa yang digunakan untuk media tanam bunga masih diimpor dari India dan irigasi dari Inggris. Ini masih uji coba dan hasilnya cukup oke. Saat ini dalam persiapan scale-up menjadi 100 hektare. Dengan demikian, akan menyerap lebih banyak tenaga kerja,” kata Knelisen.

Di sisi lain untuk melakukan ekspor juga pihaknya masih sering mengalami kendala. Bert mencontohkan ketika kontainer tertunda satu hari maka buang panen bunga satu hari juga akan terjadi.

Dia berharap pihak lain ikut mengembangkan bisnis pertanian komoditas lain di Karo. “Kami merasa tidak bersaing dengan lokal, karena kami tidak menjual di pasar lokal,” katanya.

Sementara terkait mempercepat fitosertifikat, menurut Bert, biasa ngikutin barang. “Tapi, barang kita sudah sampai di Australia, sertifikat belum sampai,” imbuhnya.

Kunjungan GPEI dan pejabat Karantina dan Pelindo itu juga dalam rangka melihat langsung dan berdiskusi dengan perusahan produsen bunga yang berorientasi pasar internasional utamanya Eropa dan Chili, yaitu Tamora Stekindo di Merek dan CV Berastagi, Eksportir Kol dengan pasar Taiwan dan Malaysia. Selain itu juga CV Buana Agri Sejahtera sebagai eksportir sayur.

Selain Bupati Karo Cory Sebayang, juga hadir dari DPRD Karo, Kadisperindag Karo Keliat, Disnaker Karo Adison Sebayang, Dinas Pertanian Karo, serta sejumlah pengusaha daerah.

Sementara Eriansyah dari PT Pelindo Multi Terminal mengaku siap mewujudkan kesejahteraan rakyat Karo bersama GPEI dan bupati Karo. “Kita akan lihat apa faktor yang mempengaruhi hambatan itu, kita punya SLA (Service Letter Agreement) ,” tegasnya.(R8/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com