Gagal Panen, Petani Dua Nagori di Kecamatan Panei Semakin Menderita

* Puluhan Hektare Tanaman Padi Diserang Hama Tikus

117 view
Gagal Panen, Petani Dua Nagori di Kecamatan Panei Semakin Menderita
(Foto: SIB/Revado Marpaung)
Gagal Panen : R Purba salah satu petani yang memiliki lahan di Nagori Siborna dan Nauli Baru Kecamatan Panei menunjukkan tanaman padi yang gagal panen akibat diserang hama tikus, Rabu (13/10). 
Simalungun (SIB)
Ditengah situasi pandemi Covid-19 yang melumpuhkan perekonomian masyarakat sejak dua tahun terakhir, ditambah tanaman padi di Nagori Siborna dan Nagori Nauli Baru Kecamatan Panei Kabupaten Simalungun mengalami gagal panen akibat tanaman padi diserang hama tikus, membuat masyarakat semakin menderita.

Keluhan itu disampaikan R Purba L Siahaan, D Saragih dan R Nainggolan warga Siborna serta Nauli Baru kepada SIB, Rabu (13/10).

R Nainggolan mengatakan, puluhan hektare lahan di Nagori Siborna dan Nauli Baru mengalami gagal panen. Sehingga kondisi ini menambah beban masyarakat dalam mengolah lahan pertanian di musim yang akan datang, karena gagal panen.

Diakuinya, serangan hama tikus kali ini cukup mengerikan. Pasalnya, hama tikus menyerang tanaman padi dan hanya menyisakan yang dipinggir saja. Padahal, berbagai cara sudah kita lakukan untuk mencegah gagal panen. Mulai dari penyemprotan, membuat racun tikus serta melakukan pemupukan sudah dilakukan. Namun hasilnya tetap sia-sia.

Karena itu, sebagai bentuk kekecewaannya, Nainggolan memilih untuk membabat habis tanaman padi yang diserang hama tikus.

Sementara R Purba mengaku serangan hama tikus kali ini sangat mengerikan. Padahal, para petani disini menerapkan pola tanam serentak mengantisipasi gagal panen. Namun kenyataannya, puluhan hektare lahan masyarakat gagal panen akibat serangan hama tikus.

"Kalau sudah begini, kami harus berbuat apalagi? Sementara banyak kebutuhan hidup yang harus dipenuhi ditengah situasi pandemi ini," keluhnya.

Dia menuturkan untuk biaya mengolah lahan miliknya seluas 15 rante mulai biaya benih padi Rp 343.000, obat-obatan Rp 400.000, biaya pupuk dua kali Rp 2.000.000 biaya traktor mengolah lahan Rp 1.000.000 serta biaya untuk menanam padi Rp 900.000 dan total menghabiskan biaya Rp 4.643.000.

Sementara hasil yang didapat kalau tidak diserang hama tikus dan penyakit lain, per rante menghasilkan 4 karung dengan berat rata-rata 60-65 kilogram per karung. "Kalau ditotal mencapai 1.800 kilogram untuk 15 rante dengan hasil Rp 9.360.000. Jadi masih ada yang diterima sekitar Rp 4 juta lebih," katanya.

Kemudian, akibat kondisi gagal panen ini, petani semakin menderita dan semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Belum lagi nanti harus membayar biaya sewa lahan, padahal hasil yang didapat tidak ada," keluhnya.

Oleh karen itu, mereka berharap agar Pemerintah Kabupaten Simalungun melalui dinas pertanian bisa turun langsung ke lapangan melihat kondisi tanaman padi masyarakat Nagori Nauli Baru dan Nagori Siborna yang mengalami gagal panen. "Saat ini kami butuh perhatian serius dari pemerintah di tengah situasi pandemi ini," ungkapnya. (D10/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com