ISBFE World 2021 di Parapat 10-12 Desember, Momen Kompetisi Indonesia dalam 5 Besar Negara Produsen Rempah Dunia


151 view
ISBFE World 2021 di Parapat 10-12 Desember, Momen Kompetisi Indonesia dalam 5 Besar Negara Produsen Rempah Dunia
Foto Doc: GPEI-DRI
JELANG ISBFE. Ketua Umum Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) Pusat, Khairul Mahalli, selaku Wakil Ketua Dewan Rempah Indonesia (DRI) Provinsi Sumut, memaparkan prospek dan problem bisnis rempah Indonesia dalam bursa ekspor internasional, di kantor Kementerian Pertanian RI Jakarta, Selasa (30/11) lalu.
Medan (SIB)
Penyelenggaraan forum bisnis dan bursa pameran rempah Indonesia dalam expo rempah dunia, Indonesian Spices Forum and Business Expo (ISFBE) pada 10-12 Desember mendatang, diproyeksikan sebagai ajang kompetisi produk dan prospek rempah Indonesia dalam lima besar negara produsen rempah dunia, yaitu Cina, India, Indonesia, Srilanka dan Vietnam.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) Pusat, Khairul Mahalli selaku Wakil Ketua Dewan Rempah Indonesia (DRI) Provinsi Sumut, menyatakan kelima negara sesama produsen rempah terbesar dunia tapi juga sekaligus saingan atau kompetitor, dengan rekam jejak Indonesia sukses ketika ekspor rempah melonjak hingga 45 kali lipat sepanjang tahun 1990 hingga 2015 lalu.

"Konsumen dunia mengakui produk rempah Indonesia dikenal sebagai produk bercita rasa istimewa khas atau volcano land dengan kualitas komoditi 100 persen natural yang bermanfaat ganda, mulai dari bumbu masakan (penyedap rasa), bahan kosmetik hingga manfaat untuk farmasi dan kesehatan. Fakta lanjut bahwa ekspor rempah kita anjlok hingga 27,2 persen sepanjang 2016-2019, itulah yang akan kita pulihkan dengan forum ISBFE ini untuk kembalinya kejayaan rempah Indonesia," katanya kepada pers di Medan, Jumat (3/12).

Melalui tayangan virtual, dia mengutarakan hal itu di sela-sela paparan program kerja ISBFE di kantor Staf Khusus Presiden RI, sementara di Medan pada hari yang sama, berlangsung rapat kordinasi lanjutan Panitia Lokal ISBFE di kantor Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Sumut, yang dipimpin Ketua Panitia Lies Handayani (Kadisbun) dan Sekretaris Panitia Ruth Kristina Tarigan.

Misi 'Kembalinya Kejayaan Rempah Indonesia' sebagai motto ISBFE, yang dirangkai dengan gelaran Hari Rempah Nasional (HRN) nanti, akan diraih dengan sejumlah rekomendasi dan langkah kompetisi. Dari aspek bisnis, ujar Khairul, ISBFE jadi rekomendasi bagi pemerintah untuk buat kebijakan fiskal berupa keringanan atau penurunan biaya atau pajak ekspor rempah. Soalnya, biaya logistik sangat tinggi sehingga rempah Indonesia lebih mahal di pasaran dunia.

Dari aspek sarana, Khairul berharap tersedianya lahan pertanian organik, misalnya di area hutan rakyat atau hutan sosial, perkebunan konvensional milik negara atau swasta. Selain untuk ekspansi dan intensifikasi produk rempah mulai dari lini hulu (bahan mentah) hingga hilir (produk jadi), juga untuk mempertahankan konsistensi kualitas rempah secara nasional maupun lokal (di daerah). Soalnya, kebutuhan akan rempah oleh konsumen dunia masih tinggi dengan frekuensi ekspor yang stabil walau volume bervariasi (fluktuatif) berdasarkan permintaan pasar.

"Dari aspek teknologi, ISBFE kita harapkan sebagai rekomendasi sistem budidaya yang selama ini kita masih masif plus mekanisasi terbatas. Teknologi pengolahannya masih dominan konvensional--tradisional, sementara India dan Srilanka sejak 30 tahun lalu sudah menerapkan sistem teknologi pertanian organik, plus murni menggunakan mesin buatan lokal dengan hasil olahan dan kualitas lebih baik dibanding menggunakan mesin buatan Cina, walau harganya sama. Brazil dan Vietnam bahkan telah menggunakan mesin berfungsi ganda, untuk mengolah, sortir, pengeringan hingga pengepakan produk. Ini sebagian harapan dan target kita," katanya sembari menyebutkan nama produk rempah yang akan ditampilkan pada ISBFE 2021.

Secara nasional, produk rempah Indonesia yang akan disajikan itu antara lain: adas manis atau biji anis (seeds of anis), biji buah (whole fruit), biji lada (pepper), bunga pala (mace), cengkeh (cloves), jahe (ginger), kapulaga (cardamom), kayu manis (cinnamon three flower), ketumbar (coriander), kunyit (saffron atau turmeric), pala (nutmeg), dan vanilla.

Sedangkan rempah lokal dari Sumut, khususnya dari Toba-Tapanuli, antara lain andaliman, asam glugur, bawang Batak atau lokio, jeruk jungga yang mirip jeruk nipis dan rias atau kencong. Khairul juga optimis daerah lainya di Indonesia akan turut menyajikan produk rempah unggulan daerahnya masing-masing. (A5/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com