Jalan Umum Diklaim Milik Pribadi, Warga Desa Pardomuan Toba Protes


305 view
(Foto SIB/Eduwart MT Sinaga)
PROTES: Warga Buluh Silape Ambar Birong Silaen Toba melakukan protes atas klaim akses jalan umum berubah menjadi tanah milik pribadi. Bentuk protes warga ini dilakukan dengan  mendirikan plang yang berisi " Ini tanah umum", Selasa (11/5).
Toba (SIB)
Jalan desa yang merupakan akses satu - satunya di desa itu diklaim sebagai tanah milik pribadi, memicu aksi protes sejumlah warga Buluhsilape dan Ambarbirong Desa Pardomuan, Kecamatan Silaen Kabupaten Toba, Selasa (11/5).

Warga mendirikan plang "Ini jalan umum". Mengetahui aksi protes warga itu membuat Kapolsek Silaen, Iptu R Tampubolon dan Camat Silaen Sedi Lumbanraja turun ke lokasi.

Manuasa Sianipar mewakili warga kepada wartawan di lokasi menyebutkan, jalan yang diklaim sebagai tanah milik pribadi ini merupakan akses utama dan satu-satunya menuju dan dari perkampungan itu. Kampung itu sudah lama ditinggal warga akibat longsor yang melanda daerah itu tahun 1989 yang lalu.

" Dari dahulu ini sudah jalan. Dari nenek moyang kami, ini sudah menjadi jalan umum. Bahkan yang dulu disebut dengan Repelita Zaman Orde Baru, kami sudah gotong-royong membuat pengerasan atas jalan ini. Dilanjutkan lagi dengan program yang disebutkan Bandes dari pemerintah. Bahkan tiga kepala desa berasal dari daerah ini, " terang Manuasa didampingi warga lainnya.

Walaupun rumah - rumah tidak ditempati lagi oleh warga akibat longsor yang melanda daerah ini, tetapi hampir tiap hari, jalan ini selalu dilintasi warga menuju perladangan dan areal persawahannya.

"Kurang lebih 150 hektare perladangan dan sawah ada di sini. Bahkan rumah - rumah warga kurang lebih 28 unit saat ini masih tetap berdiri sini. Warga pindah dulunya karena adanya arahan dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara yang saat itu dijabat Lundu Panjaitan, karena takut ada longsor susulan. Dasar itulah warga pindah ke daerah pinggir jalan saat ini.

Akan tetapi sampai saat inipun jalan ini masih tetap jalan umum yang setiap saat dilintasi warga, " ujar Manuasa.

Sebelum longsor yang menimpa daerah Buluhsilape dan Ambarbirong, daerah ini merupakan perkampungan dan persawahan. Akan tetapi setelah terjadinya longsor, areal persawahan warga tinggal sedikit dan berubah menjadi areal perladangan. Namun sampai saat ini jalan tersebut masih tetap terawat karena memang setiap saat dilintasi warga.

Menurutnya, warga mengetahui bahwa jalan tersebut diklaim sebagai tanah milik pribadi setelah berdirinya plang pada bulan Oktober 2020 yang lalu.

"Ternyata sertifikat tanah tersebut telah keluar pada tahun 2009. Atas keluarnya sertifikat tanah itu, warga langsung menyurati Badan Pertanahan Nasional (BPN) Tobasamosir untuk memertanyakan perihal keluarnya sertifikat atas jalan tersebut. Dan sesuai jawaban surat yang diberikan BPN atas surat warga dikatakan untuk menempuhnya melalui pengadilan, " sebut Manuasa.

Akibat jalan desa yang diklaim sebagai tanah milik pribadi ini, tambahnya lagi, Kepala Desa Pardomuan Kecamatan Silaen telah ditetapkan sebagai tersangka atas pembangunan jalan yang dilakukan diakses jalan ini dengan tuduhan pemamfaatan lahan tanpa izin.

Sebagai lanjutan bentuk protes, kata Manuasa, warga akan melaporkan hal tersebut ke Polres Toba. (G1/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com