Hakim PN Simalungun Ingatkan :

Jangan Tebang Pilih Dalam Penindakan Kasus Narkotika


266 view
Jangan Tebang Pilih Dalam Penindakan Kasus Narkotika
Foto: Internet
Hakim PN Simalungun
Simalungun (SIB)
Hakim Pengadilan Negeri (PN) Simalungun, Aries Kata Ginting SH meminta agar BNN dan juga Kepolisian tidak melakukan "tebang pilih" dalam menangani kasus narkotika.

Hal itu terungkap dalam persidangan di Pengadilan Negeri Simalungun baru-baru ini, terhadap 2 pelaku narkotika yang statusnya tidak ditahan sejak di kepolisian. Lalu jaksa menuntut hukuman agar pelaku direhabilitasi selama 6 bulan.

Dasarnya, sudah ada surat rekomendasi dari Tim Assasement Terpadu (TAT) yang terdiri dari BNN, Kepolisian, Kejaksaan dan Dinas Kesehatan.

"Bagaimana dengan pelaku lainnya, banyak kasus seperti ini. Ditangkap hanya sisa sabu atau sisa dalam kaca pirex dengan berat 0,0.. sekian. Mengapa tidak dilakukan evaluasi oleh TAT?, jangan tebang pilih dalam penindakan," kata Aries dalam persidangan beberapa waktu lalu.

Hakim Aries Kata Ginting SH yang juga Humas PN Simalungun saat diwawancarai wartawan mengatakan, sejak dia menjadi hakim, baru kali ini ada perkara narkotika dilimpahkan ke pengadilan meski sudah direkomendasikan untuk direhabilitasi.

"Biasanya jika sudah ada hasil TAT untuk dilakukan rehabilitasi, maka tidak perlu disidangkan. Ini pertama kali saya tangani perkara yang sudah ada hasil TAT nya tapi dilimpahkan ke Pengadilan. Jadi BNN dan Kepolisian jangan tebang pilih," ungkapnya lagi.

Sementara itu Joko Sirait SE, Humas BNN kepada wartawan menjelaskan, dalam rekomendasi rehabilitasi ada 2 kategori.

Jika hasil tangkapan polisi, proses hukum tetap berjalan meski sudah direkomendasikan untuk direhabilitasi. “Karena ada barang bukti berupa sisa narkotika yang akan digunakan lagi,” jelasnya. (D2/f)

Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com