KSPN Pematangsiantar Gelar Diskusi Publik Peringati Hardiknas


107 view
Foto: Dok/May Luther Dewanto Sinaga
FOTO  BERSAMA : Peserta diskusi publik bersama para nara sumber di 2’DP Cafe Aura Madu, Jalan Farel Pasaribu, Pematangsiantar, Minggu (2/5) sore, sejenak foto bersama seusai pertemuan.
Pematangsiantar (SIB)
Kelompok Studi Pendidikan Merdeka (KSPN) gelar diskusi publik di 2’DP Cafe, Jalan Farel Pasaribu, Pematangsiantar, Minggu (2/5) sore, terkait masa depan pendidikan di era kehidupan baru, sebagai rangkaian memperingati Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional) 2 Mei 2021.

Diskusi publik KSPN, mengusung tema “Masa Depan Pendidikan di Era Kehidupan Baru” sebuah momen bagi komunitas pemuda di Kota Pematangsiantar, kata May Luther Dewanto Sinaga kepada SIB, Senin (3/5).

Dijelaskannya ada 6 orang nara sumber terdiri Drs Daniel Siregar Sekretaris Satgas Covid-19 Kota Pematangsiantar, Binsar Gultom SPd MSc akademisi, Plt Kadis Pendidikan Rosmayana Marpaung SPd MM, Suanto Pakpahan SE MHan anggota Komisi II DPRD Pematangsiantar, Francius Sipayung seorang tenaga pendidik dan May Luther Dewanto Sinaga mahasiswa pascasarjana.

Diskusi mencoba membedah pembelajaran lebih efektif lagi ke depan di tengah pandemi Covid-19 menyikapi pertanyaan peserta “apakah ada kajian akademisi pembelajaran online masih berlangsung sampai saat ini perlu metode baru atau masih harus kembali diperpanjang.”

Akademisi Binsar Gultom berpendapat, hal ini telah dicoba dikaji terkait berbagai metode dan di Kampus Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar telah melaksanakan tatap muka bagi mahasiswa semester VI dalam mata kuliah “microteaching” serta pertemuan setiap kelas hanya dibolehkan 15 orang mahasiswa.

Di awal diskusi, Sekretaris Satgas Covid-19 Drs Daniel Siregar memaparkan tingkat penyebaran Covid-19 di Kota Pematangsiantar masih belum kunjung menurun. Sehingga untuk membuka kembali sekolah tatap muka butuh pertimbangan.

Suhanto Pakpahan menambahkan, DPRD setempat, Pemko dan Dinas Pendidikan sudah matang membicarakan soal pembelajaran lebih efektif bagi siswa ke depan. Rosmayana Marpaung mengatakan, pemerintah memberikan beberapa modul terkait pendampingan.

Francius Sipayung mengutarakan metode mengajar survive, bertemu anak didik serta memberikan banyak hal di luar pembelajaran hard skil, yaitu pendidikan karakter anak harus lebih baik. May Luther Dewanto Sinaga mewakili pemuda menyinggung kejanggalan, mengapa aktivitas pusat pasar atau pasar swalayan (mall) tidak diterapkan limit kehadiran pengunjung.

Kristian Silitonga SH pengamat publik selaku penanggap di arena diskusi tersebut berpesan, terpaan pandemi Covid-19 saat ini sudah memasuki pertengahan kehidupan baru, menuntut implementasi cara-cara baru, bukan menggunakan pemikiran lama. (D1/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com