Kekuatan Militer Indonesia Harus Menjadi Lima Besar Dunia


229 view
Kekuatan Militer Indonesia Harus Menjadi  Lima Besar Dunia
Foto Dok
Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Anis Matta 
Jakarta (harian SIB.com).
Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengharapkan kekuatan militer Indonesia menjadi kekuatan lima besar dunia sejajar dengan Amerika Serikat, Uni Eropa, Rusia dan China.

Untuk mencapai itu memang membutuhkan roadmap dan reformasi sistem pertahanan, serta modernisasi alutsista.

Hal ini akan menjadi agenda strategis yang akan diperjuangkan Partai Gelora sebagai bentuk partisipasi dalam politik, selain ilmu pengetahuan dan ekonomi.

Anis Matta menyatakan hal itu dalam diskusi dengan wartawan termasuk jurnalis koran SIB Jamida P Habeahan, Rabu (3/5/21) malam, di Jakarta yang juga dihadiri Ketua Komisi I DPR RI ( 2010-2016 ) Mahfuz Sidik, pengamat pertahanan Dr. Connie Rahakundini Bakrie dan anggota Komite Kebijakan Industri Pertahanan Mayjen TNI Purn Tri Tamtomo.

Anis Matta juga meminta asumsi-asumsi dasar mengenai sistem pertahanan nasional saat ini harus dilakukan perubahan secara fundamental, terutama menyangkut isu konflik global dan perang masa depan.

“Asumsi-asumsi yang kita percaya selama ini, harus kita pertanyakan kembali. Isu alutsista yang sedang mencuat menjadi entry point bagi Partai Gelora untuk memulai pembicaraan yang lebih strategis,” kata Anis Matta sambil menyebutkan Partai Gelora tidak ingin terjebak soal isu mafia alutsista karena yang lebih penting membicarakan asumsi-asumsi dasar strategi pertahanan ke depan.

Sebab, hal ini merupakan satu momentum, saat isu alutsista mencuat untuk memulai pembicaraan yang fundamental, menyusun strategi pertahanan ke depan.

Ketua Komisi I DPR 2010-2016 Mahfuz Sidik mengatakan, angaran Rencana Strategis (Renstra) pertahanan Indonesia sebesar Rpp 1.760 triliun untuk periode 2020-2044 yang dipercepat ke 2024 dinilai masih sulit untuk mendongkrak kapabilitas sistem pertahanan.

Sebab kekuatan militer suatu negara, juga harus ditopang dengan kekuatan industri pertahanan yang memproduksi alat pertahanan sendiri di dalam negeri.

Artinya, belanja pertahanan juga dibelanjakan di dalam negeri dengan memproduksi alat-alat pertahanan seperti negara maju, Amerika dan Prancis yang berada di lima besar kekuatan pertahanan dunia.

Anggota Komite Kebijakan Industri Pertahanan Mayjen Pur Tri Tamtomo mengatakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah menginstruksikan agar penggunaan anggaran tepat sasaran karena pemerintah saat ini tengah berperang melawan Covid-19, sehingga anggaran di kementerian/lembaga dikurangi.

“Anggaran harus digunakan tepat sasaran dan jelas secara mutu. Alutsista yang dibeli juga tidak boleh mangkrak dan memberdayakan industri pertahanan. Industri pertahanan harus diperkuat dan dibangkitkan,” kata Tri Tamtomo, sambil menambahkan, Kementerian Pertahanan harus bisa menjelaskan mengenai besaran kebutuhan anggaran pertahanan yang luar biasa ini di tengah pandemi Covid-19 agar tidak memicu polemik publik. (*)

Editor
: Robert/Eva R Pelawi
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com