Ketua DPRD SU: Tangkap Mafia Pupuk Sengsarakan Petani Setiap Musim Tanam Tiba

* Perlu Ditelusuri Apakah Distributor Pupuk Sudah Salurkan Sesuai e-RDKK

388 view
Ketua DPRD SU: Tangkap Mafia Pupuk Sengsarakan Petani Setiap Musim Tanam Tiba
Tribunnews.com
Ilustrasi distribusi pupuk bersubsidi.    

Medan (SIB)

Ketua DPRD Sumut Drs Baskami Ginting mendesak aparat penegak hukum untuk segera menangkap mafia pupuk yang terus menyengsarakan petani setiap musim tanam tiba, dengan "menghilangkan" pupuk bersubsidi dari agen-agen maupun toko pengecer.


"Di sini perlu ditelusuri melalui distributor pupuk bersubsidi. Berapa sebenarnya disalurkan ke agen maupun tingkat pengecer. Apakah sesuai dengan sistem elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK) yang sudah ditetapkan atau tidak, sehingga diketahui masalah benang merahnya," ujar Baskami Ginting kepada wartawan, Selasa (22/3) di DPRD Sumut.


Jika dari distributor juga tidak disalurkan sesuai dengan e-RDKK kepada petani, tambah politisi PDI Perjuangan ini, berarti ada permainan distributor dengan mafia pupuk menyelewengkan pupuk bersubsidi ke perusahaan perkebunan dengan harga yang lebih mahal.


"Semua pihak hendaknya bekerja sama menelusuri adanya dugaan permainan pupuk bersubsidi ini, agar jangan masalah kekurangan kuota pupuk yang terus menjadi kambing-hitam untuk menyelamatkan jejak mafia pupuk," tandas Baskami.


Ketua Baguna Sumut ini juga mengaku prihatin, masalah pupuk bersubsidi ini tidak pernah bisa diselesaikan dan tetap terjadi kelangkaan pada saat musim tanam atau masa pemupukan tanaman tiba, sehingga para petani tetap dihantui keresahan.


"Pemerintah harus transparan, dimana sebenarnya akar masalah kelangkaan pupuk ini. Apakah karena kuota tidak mencukupi atau memang tidak disalurkan sesuai kebutuhan, karena ada permainan mafia pupuk dengan para distributor.


Masalah ini perlu diungkap, agar diketahui masyarakat petani," tandasnya.


Dalam kesempatan itu, anggota dewan Dapil Medan ini juga merasa sedih melihat nasib petani kecil yang terus tertindas, bahkan mengalami kebangkrutan akibat terjadinya kelangkaan pupuk bersubsidi, sebab mereka tidak mampu membeli pupuk non subsidi yang harganya sangat tinggi.


"Akibat terjadinya kelangkaan pupuk bersubsidi ini, para petani kecil yang disebutkan marhaen oleh Bung Karno atau petani gurem dengan lahan di bawah setengah hektar yang paling menderita, sehingga perlu mendapat prioritas dari pemerintah untuk mendapat pupuk bersubsidi," tambahnya. (A4/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: KORAN SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com