Ketum PPP: Pembangunan Adalah Fondasi Kokoh untuk Persatuan


124 view
Ketum PPP: Pembangunan Adalah Fondasi Kokoh untuk Persatuan
Foto: PPP
Ketua Umum PPP, Suharso Monoarfa
Jakarta (SIB)
Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa mengungkap resep partainya dalam menyongsong momentum satu abad Indonesia Emas pada 2045. Menurutnya, untuk mencapai pada fase itu dibutuhkan tekad persatuan dan pembangunan.

"Dua hal tersebut cukup relevan bagi Indonesia sebagai bangsa besar dan majemuk. Persatuan dan pembangunan tak bisa hanya diupayakan sekali untuk selamanya (once for all) melainkan harus terus menerus tak henti-hentinya diikhtiarkan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (21/8).

Hal ini dia ungkapkan dalam Pidato Kebangsaan dalam rangka ulang tahun ke-50 Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia.

Dia menyinggung pandemi Covid-19 yang melanda warga dunia telah memberi dampak turunan yang cukup luas baik di bidang sosial, ekonomi dan kebudayaan. Menurutnya, persatuan dan pembangunan mengalami tantangan dan ancaman yang cukup serius akibat pandemi ini.

"PPP berpandangan bahwa merawat persatuan hanya bisa dilakukan dengan terus melanjutkan dan meningkatkan pembangunan. Membangun akan membuat kita bisa mencapai masyarakat adil, makmur, setara, berkeadilan. Hak-hak segenap rakyat kita penuhi sebagai hasil dari pembangunan. Maka pembangunan adalah fondasi kokoh untuk persatuan," tegasnya.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas ini juga menegaskan untuk menjemput Indonesia Emas pada tahun 2045 tak ada pilihan lain selain saling bahu-membahu, bekerja sama dan bersama-sama memulihkan keadaan dengan membangun.

"Modal sukses pembangunan kita saling merapat dan bukan saling menjauh. Kita bersatu dan bukan terpecah belah," pesannya.

Dia lantas mengutip penggalan syair lagu Syukur dan bercerita tentang Sayyid Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad Al-Mutahar yang lebih dikenal sebagai Mutahar, Sang Pencipta lagu Syukur. Menurutnya, obituari yang ditulis salah satu media massa yang menyebut Mutahar sebagai representasi generasi prakemerdekaan.

Rupanya obituari itu, sebut Suharso, menginspirasi Willem Berybe, seorang guru di SMA Katolik Giovanni, Kupang, dengan mengupas sosok Mutahar dan tembang Syukurnya yang disebut karya Mutahar sebagai 'Musik Fungsional'.

"Ada yang menarik di sana. Tidak ada jarak ke-Indonesia-an antara Willem dan Mutahar. Dari sisi usia mereka sungguh berjarak. Dari sisi agama, mereka berbeda. Tetapi itu tak menghalangi Willem, seorang penganut Katolik yang taat, untuk mengapresiasi Mutahar yang Sayyid itu," urainya.

Lebih lanjut, dia menyampaikan optimismenya tentang Indonesia Emas akan terwujud di Tahun 20145 mendatang. "Mari yakin bahwa Indonesia 2045 adalah Indonesia yang gemilang. Mari yakini bahwa masa depan yang cerah terbentang di depan kita karena kita akan berusaha sekuat tenaga kita untuk meraihnya. Mari senantiasa berbaik sangka pada hari ini yang sedang kita jalani dan masa depan yang sedang kita rebut," pungkasnya. (detikcom/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com