Komisi III DPR RI Pesimistis Soal 11 Calon Hakim Agung: Lolos Separuh Aja Bagus

* Anggota Dewan Kaget Ada Calon Hakim Agung Naik Bus TransJakarta ke Kantor

137 view
Komisi III DPR RI Pesimistis Soal 11 Calon Hakim Agung: Lolos Separuh Aja Bagus
(Dok: DPR)
Ketua Komisi III DPR RI, Herman Hery. 
Jakarta (SIB)
Ketua Komisi III DPR RI, Herman Herry, mengaku pesimistis terhadap kesebelas calon hakim agung yang tengah diuji kelayakan dan kepatutan oleh Komisi III DPR RI. Herman pesimistis separuh calon hakim agung bisa lolos ke rapat paripurna.

"Dari hasil yang saya lihat tidak akan bisa lolos. Bisa separuh saja bagus. Dari 11, bisa separuh saja, misal enam, bagus. Itu dari hasil wawancara yang kami dapatkan," kata Herman kepada wartawan di gedung DPR/MPR, Senin (20/9).

Hingga kini proses uji kelayakan dan kepatutan masih berlangsung. Namun Herman menyebut sejauh ini para calon hakim agung belum ada yang memberi hasil sempurna.

Lebih lanjut, Herman menyampaikan sejumlah hal yang disoroti oleh para anggota Komisi III DPR. Dia memastikan integritas jadi yang terpenting bagi calon hakim agung.

"Tentu kalau integritas yang kami nilai kurang pasti kami tolak. Karena nomor satu menjadi hakim agung adalah integritas. Moral dan integritas karena itu nomor satu. Itulah sebabnya saya katakan dari awal tadi bisa dapat separuh saja bagus. Karena yang kami soroti soal integritas dan rekam jejak," lanjutnya.

Sebanyak 8 dari 11 calon hakim agung yang disampaikan KY ke DPR RI adalah dari Kamar Pidana, 2 dari Kamar Perdata, dan 1 dari Kamar Militer. Ke-11 calon hakim agung itu adalah:

Kamar Pidana
1. Aviantara, S.H., M.Hum. (Inspektur Wilayah I Badan Pengawasan Mahkamah Agung)
2. H. Dwiarso Budi Santiarto, S.H., M.Hum. (Kepala Badan Pengawasan Mahkamah Agung)
3. Jupriyadi, S.H., M.Hum. (Hakim Tinggi Pengawasan pada Badan Pengawasan Mahkamah Agung)
4. Dr. Prim Haryadi, S.H., M.H. (Dirjen Badan Peradilan Umum Mahkamah Agung)
5. Dr. Subiharta, S.H., M.Hum (Hakim Tinggi Pada Pengadilan Tinggi Bandung)
6. Suharto, S.H., M.Hum. (Panitera Muda Pidana Khusus pada Mahkamah Agung)
7. Suradi, S.H., S.Sos., M.H. (Hakim Tinggi Pengawas pada Badan Pengawasan Mahkamah Agung)
8. Yohanes Priyana, S.H., M.H. (Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Kupang)

Kamar Perdata
9. Ennid Hasanuddin, S.H., C.N., M.H. (Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Banten)
10. Dr. H. Haswandi, S.H., M.Hum., M.M. (Panitera Muda Perdata Khusus Mahkamah Agung)

Kamar Militer
11. Brigjen TNI Dr. Tama Ulinta Br Tarigan, S.H., M.Kn. (Wakil Kepala Pengadilan Militer Utama).

Kaget
Sementara itu, salah satu anggota Komisi III DPR, Adies Kadir kaget ada calon hakim agung naik bus TransJakarta ke kantornya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) yaitu Aviantara. Saat itu, Aviantara harus bolak-balik sidang ke Pengadilan Tipikor Jakarta di Kuningan. Padahal perkara yang diadilinya cukup berisiko karena mengadili perkara korupsi kakap.

"Mohon maaf, waktu itu saya belum punya kendaraan pribadi," kata Aviantara dalam fit and proper test di DPR sebagaimana disiarkan Chanel YouTube DPR, Senin (20/9).

Saat itu, gedung PN Jakpus ada di Jalan Gadjah Mada, sedangkan Gedung Pengadilan Tipikor Jakarta di Jalan HR Rasuna Said. Karena gedungnya terpisah jarak, maka Aviantara memilih naik Transjakarta dari dua tempat itu.
"Sekarang sudah punya mobil?" tanya Adies.

"Alhamdulillah sudah," jawab Aviantara.

Saat menjadi hakim di Pengadilan Tipikor Jakarta, Aviantara kerap memberi vonis berat kepada pelaku korupsi.
Pria kelahiran Malang, 10 April 1963, ini tercatat beberapa kali memberi vonis berat kepada pelaku korupsi, salah satunya terdakwa korupsi pengadaan Al-Qur'an, Zulkarnaen Jabar, dengan vonis 15 tahun, padahal tuntutan jaksa kala itu di bawah 15 tahun penjara.

Saat mengadili kasus Bank Century, Budi Mulya, Aviantara menghadiahi Budi Mulya dengan vonis yang cukup tinggi, yaitu 10 tahun penjara. Dalam menyidangkan Budi Mulya, Aviantara memeriksa Wapres Boediono sebagai saksi. Kini, Aviantara bergabung di Bawas MA untuk memelototi tingkah laku dan etika hakim/aparat pengadilan.

"Hobi saya olahraga air, diving. Sewa. Sekali nyelam Rp 600 ribu," kata Aviantara.

"Hobi mahal itu," kata Adies. (detikcom/c)


Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com