Melihat Kondisi Pandemi Covid-19, Masyarakat Cenderung Pasrah, Sedih Dan Frustrasi


148 view
Melihat Kondisi Pandemi Covid-19, Masyarakat Cenderung Pasrah, Sedih Dan Frustrasi
Foto Dok
Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Anis Matta
Jakarta (harianSIB.com).

Melihat kondisi pandemi Covid-19 saat ini, masyarakat cenderung takut, sedih, marah bahkan frustrasi. Karena itu, apabila tidak didalami secara cermat dan serius, maka bisa saja semakin berkembang dan menjadi ledakan sosial bahkan hingga krisis politik .

Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Anis Matta mengemukakan hal itu, saat memberikan pengantar diskusi Gelora Talks dengan tema 'Marah dan Frustasi: Mengupas Emosi Publik di Tengah Pandemi' yang disiarkan live di streaming Gelora TV dan Transvision CH.333, hari Sabtu petang (10/7/21) yang siaran persnya disampaikan kepada wartawan Minggu (11/7/21), termasuk kepada Jurnalis SIB Jamida Habeahan di Jakarta.

Diskusi tersebut juga dihadiri Direktur Eksekutif Lembaga Survei Median Rico Marbun, pengusaha dan relawan Kemenkes dr. Tirta Mandira Hudhi, dan Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia (UI) Prof Hamdi Muluk.

Anis Matta mengatakan, pihaknya mencoba mendalami situasi emosional publik sehingga diketahui apa yang bisa dilakukan lebih tepat, untuk mencegah pandemi dan krisis ekonomi jangan sampai berkembang menjadi ledakan sosial.

Dengan mengetahui public mood, diharapkan ledakan sosial tidak berkembang, apalagi menjadi ledakan sosial yang tidak terkendali. "Jika ledakan sosial sempat terjadi, akan membawa kita ke dalam krisis yang semakin susah untuk dikendalikan dan tidak ada satupun yang mengetahui kapan berakhirnya," ujar Anis Matta.

Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun mengatakan, situasi pandemi Covid-19 di Indonesia tahun ini dinilai publik lebih parah dibandingkan tahun lalu. Akibatnya, publik kurang percaya pemerintah, baik di pusat maupun di daerah.

Mayoritas publik menilai kondisi Covid-19 semakin parah 49,7 persen, sama saja 29,3 persen, lebih baik 14,2 persen, tidak tahu atau tidak menjawab 6,8 persen. Rico menilai, kasus Covid-19 semakin dekat dengan lingkungan sosial masyarakat. Buktinya semakin banyak ucapan duka cita yang menghiasi dunia maya.

" Tidak bisa dipungkiri, bahwa hal inilah yang ditemukan di grup-grup Whatsapp, Telegram, yang setiap hari ada ucapan bela sungkawa, permohonan doa untuk segera sembuh," kata Rico.

Melihat kondisi saat ini, pengusaha dan relawan Kemenkes dr. Tirta Mandira Hudhi mengaku hanya bisa pasrah. Sebab, tenaga kesehatan (nakes) sudah maksimal dalam menangani Covid-19. Sedangkan di lain pihak, masih banyak masyarakat yang tidak percaya Covid-19 dan ada pula yang menolak divaksin akibat masih adanya polarisasi politik.

"Pemerintah sekarang juga dalam kondisi bingung. Dikasih vaksin gratis ditolak, dikasih edukasi dibilang banyak omong. Emangnya yang protes-protes itu, punya solusi, nggak juga. Makanya, kalau ditanya mengenai kondisi saat ini, kita hanya pasrah," kata dr Tirta.

Tirta menyatakan perlu diberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya Covid-19, meski masih ada yang tidak percaya. Dia juga meminta agar para pejabat tidak sembarangan memberikan pernyataan soal Covid-19, karena akan memperburuk situasi dan keadaan.

Guru Besar Psikologi UI Prof Hamdi Muluk memahami kondisi psikologis masyarakat saat ini, akibat masih adanya bias politik, sehingga ada perbedaan cara pandang dalam melihat Covid-19. Ada yang menggunakan kacamata saintifik, politik dan agama. Dan yang jelas, banyak orang yang panik , sehingga harus ada orang yang menyalakan optimisme dan bersikap tenang.

Hamdi Muluk menambahkan, pemerintah hendaknya meniru cara Singapura dan Amerika Serikat yang mulai beradaptasi dengan Covid-19, sehingga bisa dikendalikan. Sebab, bagaimanapun Covid-19 tidak akan bisa dihilangkan seperti Flu Spanyol atau Influenza yang sudah berabad-abad tetap ada.

"Kita harus realistis seperti Singapura berpikir masa depan. Kondisi pandemi diubah dalam kondisi endemi. Membentengi sebanyak mungkin komunitas dengan vaksin, kalaupun tertular dampaknya tidak berat, sehingga aktivitas normal bisa dilakukan kembali," ujar Hamdi Muluk. (* )

Editor
: bantors@hariansib.com
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com