Mengalokasikan Dana Investasi Tidak Ganggu Biaya Kebutuhan Rutin


112 view
foto: via Shutterstock
Ilustrasi
Medan (SIB)
Hari Raya Idul Fitri tiba sebentar lagi. Banyak orang sibuk mempersiapkan baju lebaran, kue-kue, dan belanja berbagai pernak-pernik sampai perabot baru pengisi rumah. Ada nggak yang berpikir untuk mengalokasikan uang Tunjangan Hari Raya (THR) untuk berinvestasi?

Kepala Kantor Perwakilan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumatera Utara Muhammad Pintor Nasution mengatakan, para pekerja kantoran saat ini sedang mempunyai uang lebih dalam bentuk THR dari perusahaan masing-masing. Begitupun para entrepreneur sedang banyak keuntungan, misalnya penjual kue lebaran, baju, kain dan lain-lain yang berlimpah pesanan di masa ini.

“Bagaimana kalau keuntungan usaha dan THR itu dialokasikan sepertiganya untuk dana investasi,” katanya dalam siaran tertulisnya, Senin (10/5).

Ia mengatakan, dengan mengalokasikan dana investasi dari THR, 30 % saja, otomatis tidak mengganggu biaya kebutuhan rutin. Dan sisanya 70 % masih bisa digunakan untuk memenuhi keinginan dan berbagi selama Lebaran.

Katanya, akan lebih ringan lagi jika menyisihkan uang THR untuk investasi dibanding menggunakan pemasukan tiap bulan.

“Nah, kalau rutin dilakukan setiap tahun, lama-lama nilai investasi akan menggunung dalam jangka panjang,” ujarnya.
Menurutnya, investasi dialokasikan untuk mencukupi kebutuhan di masa depan., karena nilai uang di masa depan bisa menurun akibat inflasi (kenaikan harga barang dan jasa).

Jika hanya menabung, katanya bisa jadi nilai uang yang disimpan sulit untuk mencukupi kebutuhan di masa nanti, misalnya 10 atau 20 tahun lagi.

Contoh, saat ini harga satu unit kendaraan sejenis MPV sekitar Rp200 juta. Misalnya, kita mau membeli mobil MPV sepuluh tahun lagi. Berarti setiap tahun dari sekarang kita akan menabung Rp20 juta. Coba kita bayangkan, 10 tahun kemudian, ketika uang kita sudah terkumpul Rp200 juta, apakah harga mobil MPV masih sama? Mungkin saja saat itu harga MPV sudah melonjak menjadi Rp300 juta. Artinya, nilai uang yang kita miliki akan tergerus inflasi. Kerja keras menyimpan uang di tabungan menjadi tidak berarti.

Salah satu cara untuk membuat nilai uang kita tetap sama dengan nilai uang di masa depan adalah dengan berinvestasi.

Sementara, menabung tujuannya untuk mempersiapkan dana likuid dalam jangka pendek. Uang di tabungan semestinya betul-betul hanya untuk penyimpanan uang kebutuhan sehari-hari sampai dengan setahun saja.

Berapa besar angka inflasi tahunan? Tergantung dari jenis barang atau jasa. Bisa berbeda-beda. Inflasi umum pada bulan April 2021 menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 1,42 % (yoy). Angka ini fluktuatif setiap tahun.

Sebelum pandemi, jelas Pintor, angka inflasi jauh lebih tinggi karena daya beli masyarakat yang lebih tinggi pula. Bahkan, inflasi untuk kelompok barang yang pergerakan harganya cukup bergejolak (volatile goods) seperti bahan makanan tertentu, kenaikannya melampaui inflasi umum, yaitu sebesar 2,73 % (yoy).

“Sekarang pertanyaannya, kemana sebaiknya kita mengalokasikan dana investasi agar mendapatkan hasil sama atau melebihi kenaikan harga atau inflasi tersebut?” ungkap Pintor.

Pada masa lalu, orang tua atau kakek-nenek kita biasa mengatasi inflasi dengan membeli emas atau tanah. Ketika ada kebutuhan di masa depan, mereka menjual emas dan aset tanah. Namun, berinvestasi dalam bentuk barang atau tanah tentu tidak mudah. Apalagi jika ada kebutuhan yang sifatnya mendadak atau segera.

Di saat ini, ada pilihan investasi yang lebih praktis dan likuid (mudah diuangkan), yakni dengan membeli reksa dana di manajer investasi maupun saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), atau biasa disebut dengan investasi portofolio.

Saham atau reksa dana yang dibeli sebagai investasi, bentuknya berupa bukti kepemilikan elektronik, sehingga tidak susah disimpan. Bandingkan dengan investasi emas yang membutuhkan tempat penyimpanan dan risiko kehilangan. Sementara investasi tanah dan bangunan membutuhkan biaya perawatan dan pajak tahunan.

Sebaliknya, saham atau reksa dana mudah dijualbelikan di BEI. Setiap hari ada transaksi jual dan beli di pasar saham. Harga yang terbentuk juga berdasarkan harga penawaran dan permintaan melalui sistem perdagangan, sehingga tidak perlu repot menentukan harga. Bandingkan dengan menjual aset tanah yang bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan tahunan untuk menemukan harga dan pembeli yang cocok.

Apa bedanya saham dan reksa dana? Untuk membeli saham, seorang investor harus mengerti dan punya waktu untuk memilih saham-saham yang tepat. Sementara melalui reksa dana, investor bisa mempercayakan kepada manajer investasi yang menjadi pengelola reksa dana.

Dana investasi untuk membeli reksa dana juga relatif lebih terjangkau karena bisa dibeli dalam pecahan unit reksa dana mulai dari Rp100.000. Sementara untuk saham minimal pembelian sebanyak 1 lot (100 lembar saham) dengan harga per lembar saham yang bervariasi.

Hasil investasi saham dan reksa dana bisa memberikan keuntungan (return) yang optimal untuk melawan inflasi dalam jangka panjang. Tentu dalam perjalanannya akan ada risiko fluktuasi (naik turun) harga saham. Namun sejarah menunjukkan, dalam siklus 5 dan 10 tahun, trennya terus meningkat yang sekaligus menunjukkan ruang untuk bertumbuh masih besar. Oleh karena itu, tidak perlu lagi untuk rutin berinvestasi, ungkapnya. (A1/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com