Menghadapi Virus Varian Baru, Masyarakat Harus Tetap Vaksin


116 view
Menghadapi Virus Varian Baru, Masyarakat Harus Tetap Vaksin
Foto: harianSIB.com/Victor Ambarita
Dialog Virtual: Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas (Satgas) COVID-19, Brigjen TNI (Purn) dr. Alexander Ginting (kanan) dalam Dialog Virtual Semangat Selasa Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) - KPCPEN, Selasa (14/9/21).
Jakarta (harianSIB.com)

Pemerintah terus mengingatkan masyarakat agar meningkatkankewaspadaan terhadap virus Covid-19. Hal ini sebagai langkah antisipasi kemungkinan lonjakan kasus maupun munculnya varian baru.

"Virus Covid-19 sebagaimana virus pada umumnya, memiliki sifat alamiah untuk bermutasi, berevolusi, dan bereplikasi. Sepanjang terjadi penularan, maka virus akan menemukan inang baru untuk berkembang dan bermutasi, sehingga kemungkinan lahirnya varian baru akan tetap ada," papar Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas (Satgas) Covid-19, Brigjen TNI (Purn) dr. Alexander Ginting dalam Dialog Virtual Semangat Selasa Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) - KPCPEN, Selasa (14/9/21).

Karena itu, menurut Alexander, upaya pengendalian pandemi seperti disiplin protokol kesehatan, penguatan testing, tracing, treatment (3T) serta vaksinasi, harus tetap dilaksanakan. “Intinya tidak boleh lengah. Apapun varian virusnya, kita harus tetap vaksin, sebab vaksin memberikan proteksi dari gejala berat maupun kematian. Kemudian, meskipun sudah divaksin, kita masih bisa terinfeksi virus. Karenanya, harus tetap waspada mencegah penularan,” katanya.

Upaya pengendalian Covid-19, menurut Alexander, bukan hanya menjadi tugas pemerintah melainkan tanggung jawab setiap pihak. Ia menyebutkan, sebagai upaya perluasan cakupan vaksinasi, misalnya, Posko Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di desa dan kelurahan diharapkan dapat melakukan sistem “jemput bola” mendatangi dan memberikan kemudahan akses bagi kelompok khusus.

“Vaksinasi bukan hanya hak mereka yang sehat sensorik dan motorik. Justru harus menjangkau kelompok rentan, misalnya para lansia yang memiliki angka mortalitas tinggi,” ujarnya.

Menurut Alexander, setiap daerah sebaiknya memiliki strategi, mekanisme dan pendekatan berbeda dalam rangka akselerasi vaksin, tergantung kondisi alam, juga karakteristik dan pola hidup warga. "Karena itu, pelaksanaan vaksinasi di daerah sangat membutuhkan kerja sama dari pemimpin daerah juga keterlibatan operasional dari dinas kesehatan setempat," imbuhnya.

Hal senada diutarakan Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi. "Apa pun varian virusnya, sebagai ikhtiar proteksi kesehatan dari setiap individu, masyarakat diharapkan tetap disiplin mengenakan masker serta tentu adalah menyukseskan dan mengikuti vaksinasi," beber dia.

Vasin, ditegaskan Nadia akan melindungi masyarakat dari gejala berat bahkan risiko kematian hingga 95%. “Penularan virus, apapun variannya, tidak melihat populasi tertentu sehingga setiap orang bisa tertular. Di dalamnya, termasuk kelompok rentan seperti lansia, anak, dan orang dengan komorbid yang harus diperhatikan,” ujarnya.

Nadia mengungkapkan varian virus di Indonesia saat ini, 98% adalah virus Delta. Namun begitu tidak tertutup kemungkinan masuknya varian virus baru dari negara lain seperti Mu atau Lamda.

“Masyarakat jangan euforia. Cakupan vaksinasi kita belum cukup, jadi kita harus tetap saling mengingatkan dan disiplin protokol kesehatan. Dalam hal ini, pemerintah juga menggunakan aplikasi PeduliLindungi dalam memantau dan memastikan masyarakat aman saat melakukan kegiatan di ruang publik,” tambah Nadia.

Terkait manfaat vaksinasi, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Vaksinolog dr. Dirga Sakti Rambe menambahkan, vaksin juga memiliki andil dalam menekan angka penularan. “Orang yang sudah divaksin, replikasi virus di dalam tubuhnya lebih sedikit. Karena itu, kemampuannya dalam menularkan virus akan lebih rendah,” jelasnya.

Dirga yang aktif mengajak masyarakat melakukan vaksinasi ini mengatakan, masyarakat tidak perlu tergesa-gesa mengejar vaksin booster, karena memperluas dan memperbanyak cakupan vaksin lebih penting daripada kekebalan yang terpusat pada satu orang. “Yang mengendalikan pandemi adalah kekebalan komunitas, bukan individu. Andil masyarakat dalam pengendalian pandemi, tidak hanya melalui penerapan protokol kesehatan, vaksinasi, serta partisipasi 3T," tegasnya.

Pelaku Vaksinasi Massal Guntur Triyoga menegaskan, setiap orang juga dapat menjadi agen penyebaran informasi yang benar tentang Covid-19, dengan memanfaatkan kreativitas dan kelebihan masing-masing. Kendati semakin banyak masyarakat yang berpikiran terbuka, edukasi tentang vaksin Covid-19 harus terus digencarkan secara masif.

“Kita melakukan pendekatan serta memberikan pengertian. Setelah masyarakat mau divaksin dan paham, mereka akan mengajak orang-orang di sekitarnya untuk ikut divaksin. Efek domino ini yang
kita harapkan,” urainya.

“Mulai dari kita, ayo kita jadi role model (teladan) bagi masyarakat. Lakukan apa saja yang dapat dilakukan, untuk hal positif dan membantu sesama,” pungkas Guntur. (*)

Penulis
: Victor Ambarita
Editor
: Robert/Eva
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com