Mencari Solusi Persoalan Banjir di Tiga Kecamatan

Muara Berubah Jadi Daratan karena Sedimentasi, Wamas dan Muspicam Susuri Sungai Asahan dan Nantalu


217 view
Muara Berubah Jadi Daratan karena Sedimentasi, Wamas dan Muspicam Susuri Sungai Asahan dan Nantalu
Foto Dok/Wamas
Usai mengitari Sungai Asahan dan Sungai Nantalu, Wamas bersama Muspicam foto bersama di muara Sungai Nantalu yang mengalami sedimentasi bahkan sudah menjadi daratan, Kamis (18/10). 

Asahan (SiB)

Wahana Masyarakat Aliran Sungai (Wamas) bersama sejumlah unsur musyawarah pimpinan kecamatan (Muspicam) Seikepayang, Pulaurakyat dan Aekkuasan menyusuri Sungai Asahan, Sungai Nantalu dan alur parit di areal PT Inti Palm Sumatra (IPS) yang dituding sebagai penyebab banjir yang melanda sejumlah desa di tiga kecamatan itu, Kamis (18/10).

“Kami mengundang unsur Muspicam antara lain Camat Seikepayang Aspihan, Kapolsek Seikepayang AKP Sutari, Danramil Sei Kepayang, Camat Aekkuasan Ramadhan dan Camat Pulaurakyat Haris Margolang," ungkap Ketua WAMAS Awaluddin, SAg, MH didampingi Sekretaris Sumantri, SH, MH kepada sejumlah wartawan, Minggu (21/1).

Kegiatan menyusuri sungai itu digagas WAMAS, semata-mata ingin mencari solusi atas persoalan banjir yang masih dirasakan masyarakat di Desa Padangmahondang, Persatuan, Bangun, Rawasari dan Alangbonbon, termasuk sejumlah desa lainnya di Kecamatan Sei Kepayang. “Kita tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, tapi bagaimana caranya agar persoalan banjir yang melanda desa-desa dapat teratasi,” ungkap Awaluddin

Dari hasil penyusuran itu, unsur Muspicam sepakat agar pemerintah melakukan normalisasi Sungai Nantalu dan Sungai Asahan, karena di muara Sungai Nantalu terjadi pendangkalan atau sedimentasi sehingga kini sudah menjadi daratan. “Ini terbukti, unsur Muspicam termasuk Wamas berdiri dan berjalan di muara itu,” ucapnya.

Dia menambahkan, alur sungainya juga mengalami penyempitan dan sedimentasi sehingga fungsi Sungai Nantalu sebagai penerima limpahan air dari Desa Padangmahondang, Desa Persatuan, Desa Bangun, Desa Rawasari dan Desa Alangbonbon, tidak berfungsi lagi untuk mengalirkan air ke Sungai Asahan. Akibatnya air tetap tergenang di desa-desa tersebut.

Demikian halnya dengan alur Sungai Asahan, mulai dari wilayah Pulaurakyat, Telukdalam, Simpangempat dan Tanjungbalai juga mengalami sedimentasi.

“Hasil pengukuran kami, sebelumnya Sungai Asahan kedalamannya 8 sampai 10 meter, sekarang rata-rata 3,5 meter,” sebut Awaliddin lagi. Alhasil, PT Inti Palm Sumatra yang berdampingan langsung dan juga terdampak membuat alur parit bekoan untuk membantu mengalirkan air limpahan dari Sungai Nantalu yang datang dari sejumlah desa tersebut ke Sungai Asahan.

Berdasarkan penyusuran itu, unsur Forkopicam melihat ada dua alur yang dibuat perusahaan untuk mengalirkan air ke Sungai Asahan. Pertama alur yang langsung mengalirkan ke Sungai Asahan dan kedua alur yang melalui lahan konsensi HGU perusahaan menuju Sungai Loba di Desa Perbangunan yang akhirnya bermuara ke Sungai Asahan.

Sebelum meninjau lokasi, Wamas sebelumnya meminta klarifikasi atau penjelasan dari perusahaan terkait persoalan itu. Ternyata perusahaan juga mengalami nasib serupa dengan masyarakat dimana lahan perusahaan bolak-balik diterjang banjir akibat sedimentasi Sungai Asahan dan Sungai Nantalu

Terjangan banjir terus terjadi meskipun pihak perusahaan telah melakukan pembentengan di sejumlah titik. “Kita telah mendapat penjelasan dari perusahaan terkait persoalan itu,” terangnya.

Oleh karena itu, Awaluddin berharap kepada seluruh camat yang desanya terdampak oleh kondisi Sungai Nantalu agar menyatukan persepsi untuk mencari solusi. “Paling penting diketahui bahwa kewenangan Sungai Asahan dan Sungai Nantalu adalah Kementerian PUPR, bukan kewenangan provinsi, kabupaten apalagi perusahaan,” tegasnya.

Selama ini lanjutnya, Kabupaten Asahan dan Kota Tanjungbalai telah menerima dampak dari pengelolaan sumber daya air di hulu Sungai Asahan yang memiliki daya rusak, sedimentasi, penyempitan dan lain sebagainya.

“Kami meminta kepada Kementerian PUPR melalui Dirjen Sumber Daya Air dan juga Perum Jasa Tirta, bisa bergerak cepat untuk mengatasi permasalahan ini,” ungkap Awaluddin lagi.

Unsur Muspicam menegaskan bahwa pihaknya akan melaporkan apa yang mereka saksikan kepada Bupati Asahan, agar kiranya bisa disampaikan kepada Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) II Medan. “Kami berharap BWSS jangan hanya memberikan angin surga kepada masyarakat, yang diperlukan adalah aksi, bukan janji-janji,” ungkap Camat Seikepayang Aspihan.(**)

Penulis
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com