Kartini Sekarang Sudah Sejajar dengan Kaum Pria

PBI Sumut Ajak Kaum Perempuan Lestarikan Kebaya yang Kerap Dipakai RA Kartini


181 view
Foto Dok
Syafitra Elisabeth Tambunan
Medan (SIB)
Kartini (perempuan) jaman sekarang sudah aktif di segala bidang, posisinya di dalam tugas dan pekerjaan hampir sama dengan pria. Bahkan sudah pernah ada yang menjadi presiden yakni Megawati Sukarnoputri, sekarang Ketua DPR RI Puan Maharani, beberapa kementerian dipimpin perempuan, menjadi gubernur, bupati, wali kota, presiden direktur, presiden komisaris di perusahaan swasta dan jabatan penting lainnya.

“Saya ikut merasakan kesejajaran itu, sudah 30 tahun bergelut di dunia perbankan, menduduki berbagai jabatan seperti pimpinan di Bank Danamon, Standard Chartered Bank, MNC Bank, sempat pimpinan Bank DKI di Sumut dan sekarang pimpinan salah satu pimpinan cabang May Bank (Bank Malaysia),” kata Syafitra Elisabeth Tambunan, Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Sumut kepada wartawan, Selasa (20/1).

Menurut Syafitra, jaman dahulu, jangankan jabatan, sekolah saja perempuan sangat sulit. Posisi perempuan di bawah kaum pria baik dalam pendidikan maupun pekerjaaan, cukup sebagai ibu rumah tangga dan ibu anak-anaknya. Berkat perjuangan Raden Ajeng Kartini pada zamannya bisa menciptakan sebuah gagasannya luar biasa ” habis gelap terbitlah terang”. Sampai sekarang Kartini tetap dikenang sebagai ibu pejuang, pelopor kaum perempuan sampai bisa sejajar dengan pria. Sehingga bisa dikatakan wanita itu adalah mitra bagi kaum pria di jaman sekarang ini.

“Masa kelam/gelap diperjuangkan RA Kartini menjadi terang. Sekarang perempuan merasakan terang itu, bisa sejajar dengan pria di dalam tugas dan pekerjaan. Saya berharap, walaupun jabatan perempuan hebat tetaplah ingat dasarnya sebagai ibu rumah tangga, pendidik di dalam rumah tangga dan tidak melupakan perjuangan RA Kartini yang begitu luar biasa,” terangnya.

Sebagai Ketua PBI Sumut, Fitra (Syafitra) bersama pengurus lainnya hadir dalam berbagai latar belakang profesi. Di PBI mereka hadir untuk melestarikan budaya warisan nenek moyang Indonesia yaitu busana kebaya yang juga dulu selalu dikenakan RA Kartini. PBI juga sedang berjuang mempromosikan kebaya bahkan mendaftarkannya ke Unesco seabagai warisan asli leluhur bangsa Indonesia.

“Khususnya kebaya Kutubaru, Encim, Noni dan kebaya Kartini yang akan kita lestarikan menjadi busana nasional dan akan didaftarkan ke Unesco PBB. Kita mulailah dari sekarang, janganlah kita lupakan kebaya. Bagaimanapun hebatnya model-model busana sekarang tapi kebaya janganlah dipandang sebelah mata. Sudah saatnya kita melestarikan, memakai dan menjaganya serta menjadikannya sebagai pakaian nasional, pakaian asli wanita Indonesia yaitu berkebaya. Karena wanita-wanita jaman dahulu selalu mengenakan kebaya, makanya PBI berjuang mendaftarkanya ke Unesco membuktikan bahwa ini adalah asli busana wanita Indonesia,” tuturnya.

Lanjut dia, PBI juga ingin meniru negara India dan Jepang yang menjadikan pakaian tradisionalnya, sari dan kimono menjadi busana nasional. Maka kebaya harus menasional, diharapkan, pada hari kebaya yang akan ditetapkan pemerintah, perempuan Indonesia memakai kebaya di sekolah, pekerjaan, rumah dan tempat-tempat umum. Sehingga dunia melihat bahwa kebaya adalah asli milik Indonesia. “Kartini jaman sekarang sudah hebat-hebat, terima kasih kami buat RA Kartini yang menjadi pelopor perjuangan kaum perempuan. Sebagai bakti kami, PBI memperjuangkan kebaya peninggalan nenek moyang dan selalu dipakai RA Kartini menjadi busana nasional dan terdaftar di Unesco,” tegasnya. (A8/d)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com