Warga Protes Aroma tak Sedap

Pabrik Diserang, Manajemen PT API KIM I Minta Ada Jaminan Hukum Berinvestasi


194 view
Internet
Ilustrasi 
Medan (SIB) -Pabrik PT Anugrah Prima Indonesia (API) yang berada di Kawasan Industri Medan (KIM) I Jalan Pulau Nusa Barung, Kelurahan Mabar, Kecamatan Medan Deli diserang warga, Minggu (25/4) sore. Penyebabnya disebut-sebut karena warga protes aroma tidak sedap dari pabrik yang mengolah bulu ayam menjadi bahan baku pakan ternak tersebut.

Akibat penyerangan itu, pabrik mengalami kerugian ditaksir Rp 65 juta, karena ada peralatan pabrik dan bahan olahan yang rusak dan ada uang Rp 15 juta juga hilang dan seorang tenaga ahli Yanzong Wan WNA asal RRC mengalami luka-luka. Pihak manajemen langsung mengadukan kejadian ke Polres Pelabuhan Belawan. Tiga orang warga yakni Z (38), MS (40) dan A (40) menjadi terlapor.

Indra Gunawan sebagai kuasa usaha perusahaan kepada wartawan dalam konferensi persnya, Selasa (27/4) di Multatuli mengatakan, fasilitas pabrik ada yang rusak dan karyawan asal RRC mengalami tindakan kekerasan secara fisik dan uangnya Rp 15 juta dirampas.

Sebelumnya, warga sekitar pabrik melakukan aksi unjuk rasa di DPR Medan meminta pabrik PT API supaya ditutup karena menimbulkan bau tidak sedap. Kemudian mereka diterima Komisi II untuk berdialog diterima anggota Komisi Sudari ST. Salah seorang warga mengatakan, setiap hari mereka menghirup bau tidak sedap yang bersumber dari bahan baku berupa bulu ayam.

Menanggapi pengaduan warga tersebut, Indra Gunawan sebagai pelapor dan kuasa usaha perusahaan kepada wartawan mengatakan, perusahaan berdiri dengan badan hukum yang jelas dan lengkap. “Kami tidak tahu motivasi apa yang membuat masyarakat menyerang kantor yang berada di areal pabrik dan melakukan penganiayaaan. Memang ada kami dengar penyebabnya adalah aroma yang bau dari pabrik,” kata Indra.

Tapi sesungguhnya, kata Indra, perusahaan tidak mengabaikan persoalan itu tapi sesuai yang digariskan undang-undang dan pernyataan Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan bahwa kualitas udara di sekitar pabrik sudah diukur secara berkala. Terakhir diukur Maret lalu, semuanya dalam kondisi baik, tidak melebihi ambang batas.

“Kita tidak mungkin bisa berpatokan pada penciuman semata, semuanya harus ada pengujian laboratorium. Kenapa kami melaporkan ke Polres Belawan, karena kami mengalami kerugian secara materi, baik perusahaan dan secara pribadi. Kami berharap ini tidak terulang lagi, kami butuh jaminan hukum terhadap investasi. Kalau di KIM saja peristiwa ini bisa terjadi, bagaimana pula perusahaan yang di luar kawasan industri. Perisitiwa ini sangat bertentangan dengan UU Cipta Kerja yang telah disahkan DPR RI yang salah satu isinya menjamin investasi,” ungkapnya. (A8/c)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com