Pandemi Covid-19, Ancaman Serius Bagi Dunia Pendidikan


100 view
Pandemi Covid-19, Ancaman Serius Bagi Dunia Pendidikan
Ilustrator: Edi Wahyono
Ilustrasi siswa belajar tatap muka di tengah pandemi COVID-19.
Pematangsiantar (SIB)
Pandemi Covid-19 merupakan ancaman serius bagi dunia pendidikan selama 10 tahun ke depan, bukan saja karena kemampuan daya beli pendidikan masyarakat sangat terbatas, tetapi juga terjadinya pembengkakan investasi pengelolaan pendidikan khususnya bagi PT (Perguruan Tinggi) Swasta.

Informasi yang diperoleh dari tiga PT Swasta di Pematang-siantar masing-masing Ketua LPPM STIE Sultan Agung Robert Tua Siregar, Rektor USI DR Corry Purba dan Rektor FKIP Nommensen Prof Sanggam Siahaan, Selasa (5/10) mengatakan hal senada, selama 2 tahun terakhir jumlah pendaftar baru di PT Swasta berkurang antara 10-30% dari penerimaan normal.

Dr Corry Purba menyebutkan, pendaftar mahasiswa baru di USI berkurang 10% dari rata-rata sebelumnya. "Tahun ini, jumlah pendaftar mahasiswa baru berkurang sekitar 100 orang lebih dari sebelumnya rata-rata 1.100 orang setiap ajaran baru," katanya.

Sedangkan jumlah pendaftar mahasiswa baru di FKIP Nommensen selama 2 tahun terakhir dikatakan mencapai 30%. "Penerimaan mahasiswa baru sebelum pandemi Covid-19 bisa mencapai 1.100 orang tetapi selama 2 tahun ini hanya rata-rata 700 orang mahasiswa baru," sebut Sanggam.

Perekonomian masyarakat diduga terpuruk akibat dampak pandemi Covid-19 sehingga daya beli pendidikan masyarakat melemah. Masalah ini diharapkan menjadi perhatian pemerintah, agar memperbanyak atau menambah kuota mahasiswa penerima bantuan.

Sementara, Robert Tua Siregar menyampaikan estimasinya bahwa jumlah pendaftar mahasiswa baru PT Swasta berkurang sekitar 30% di daerah-daerah secara nasional. "Dunia pendidikan dalam menghadapi pandemi ini juga mengikuti instruksi pemerintah dalam hal pencegahan penyebaran virus, perkuliahan secara tatap muka tidak dilaksanakan dan diganti dengan cara lain," katanya.

Dijelaskannya, tiga tantangan yang mempengaruhi kampus swasta. Pertama, daya beli masyarakat menurun disebabkan keuangan keluarga terpuruk akibat kehilangan sumber penghasilan. Kedua, proses belajar mengajar berubah dengan sistim online mengakibatkan biaya investasi harus digelontorkan. Ketiga, biaya operasional akan berubah dengan sistim full online atau mix learning serta implementasi tehnologi internet.

"Kendala yang konkrit saat ini bahwa secara filosofis pendidikan sangat penting, namun kenyataannya karena dampak Covid-19, semua sektor khususnya ekonomi masyarakat terpuruk maka pembelian pendidikan mungkin dilakukan setelah situasi normal," jelas Siregar. (BR4/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com