Pasien Direpresif di Toba, Pakar Kesehatan SU: Jangan Lihat Covid-19 Seperti Momok


366 view
Pasien Direpresif di Toba, Pakar Kesehatan SU: Jangan Lihat Covid-19 Seperti Momok
Foto: LSM PAKAR SU
Disiplin: Dr Harry Butarbutar SpB anjurkan jangan phobi dan disiplin prokes Covid-19. (Kiri) Ir Linseria Br Naiggolan.
Medan (SIB)
Wakil Ketua Komisi Peduli AIDS (KPA) Sumatera Utara (SU), Dr Harry Butarbutar SpB, meminta semua pihak jangan melihat Covid-19 seperti momok. Jika stigma buruk tidak dieliminir atau dibuang, akan terjadi hal represif lainnya di masyarakat pada pasien. Satu contoh seperti terjadi di Toba. “Menghadapi Covid-19 harus disiplin. Semuanya. Yang sehat dan yang terpapar,” tegasnya di jeda silaturahmi komunitas digital di Jalan Dr Sofyan Kompleks USU Medan dengan ahli bait Ivy Butar-butar.

Ia mencontohkan dirinya yang ahli bedah tapi tak harus phobi pada pasien terpapar. “Kalau parno, imun tubuh turun, rentan terpapar,” tambah pria yang rutin menyuluh publik di masa pandemi tersebut.

Hal serupa diutarakan Ketua DPW LSM PAKAR Ir Linseria Nainggolan. “Jika memandang Covid-19 sebagai momok, ya itu... represif. Lebay. Ketua Gustu Covid-19 harus sesegeranya mengedukasi masyarakat. Apalagi yang di bona pasogit, mungkin phobi hingga berbuat kontraproduktif,” ujarnya di Sekretaria LSM PAKAR SU di Jalan Busi No 22 PS Merah Baru - Medan Kota, Medan, Minggu (25/7)

Sebagaimana viral, video seorang pria pasien positif Covid-19 di Kabupaten Toba direpresif warga. Pria bernama Selamat Sianipar, di video, diikat dan didorong berkali-kali oleh beberapa menggunakan kayu hingga tersungkur di tanah. “Sebagai boru Batak, saya marah. Judulnya sudah pasien, diperlakukan manusiawilah. Apalagi narasinya begitu bar-bar,” simpul Linseria Nainggolan.

Ia berharap, aparat desa yang berhubungan langsung dengan masyarakat harus ikut mengedukasi bagaimana Covid-19. Ikuti prokes, ikut vaksin dan seterusnya. “Saya protes atas kasus represif pada penderita Covid-19,” simpulnya.

Atas kasus tersebut, Kabid Humas Polda SU, Kombes Hadi Wahyudi mengatakan, pasien dua kali dibawa ke rumah sakit (RS) tapi melarikan diri dan kembali dibawa ke RS di Silaen.

Bupati Toba Poltak Sitorus mengatakan pria itu bukan dianiaya tapi diamankan dan sudah kembali dirawat di RSUD Porsea.
Kepala Desa Pardomuan, Toba, Timbang Sianipar, mengatakan pihaknya melakukan isolasi mandiri kepada pasien dengan kebutuhan dipenuhi pemerintah desa.

Dr Harry Butarbutar mengungkap pengalamannya ikut menangani pasien terpapar. Yang wajib adalah disiplin memakai masker, rajin mencuci tangan dengan air mengalir dan hand sanitizer serta minum air hangat. “Masyarakat harus tahu, virus corona mati di suhu 26 derajat Celcius. Air hangat dikonsumsi di atas 26 derajat, virus akan mati,” tegasnya.

Ia menunjuk keseharian masuk ke luar ruang isolasi pasien Covid-19. “Disiplin jaga jarak. Pakai masker dan bicara usahakan jangan tatap muka tapi satu arah... hingga bila ada virus terbang, tak langsung ke hidung dan mulut,” tegasnya. “Yang lainnya, konsumsi asupan yang proporsional. Bukan harus yang mewah tapi usahakan hangat. Rajin berjemur agar vitamin D di tubuh meningkat,” simpul Dr Harry Butarbutar. (R10/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com