Penyuluhan dan Pelatihan Tentang Koperasi dan Cocok Tanam Akan Digelar di Samosir


99 view
Penyuluhan dan Pelatihan Tentang Koperasi dan Cocok Tanam Akan Digelar di Samosir
Foto Dok
Ir. Kadiman Pakpahan, MM
Jakarta (SIB)
Penyuluhan dan pelatihan tentang koperasi dan bercocok tanam akan digelar bagi petani dan masyarakat umum pada Minggu 7 Nopember 2021 di Onan Runggu Kabupaten Samosir, dengan instruktur Ir. Kadiman Pakpahan, MM dan dr. Magdalena Sitorus, MARS.

Penyuluhan dan pelatihan tersebut dilaksanakan Koperasi Nauli Nalagu (KPN) pimpinan Magdalena Sitorus bekerjasama dengan Brigjend Purn. TNI AD Berlin Hutajulu (Ketua Umum DM LABB) dan Budi Sinambela BBA (Ketum DPP LABB).

Tujuannya adalah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat, khususnya petani untuk memperbaiki pendapatan dan masalah gizi.

Ir. Kadiman Pakpahan MM mengatakan kepada wartawan materi penyuluhan dan pelatihan meliputi pembuatan media tanam, pembibitan, pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dan pembuatan kompos.

Pembuatan media tanam mencakup pembibitan di atas tanah, pupuk kandang/kompos, arang sekam dengan perbandingan 1:1:1.

Pembibitan ini diadakan dalam polibag ukuran 40X40 cm untuk tanaman: tanah, pupuk kandang/kompos, arang sekam dengan perbandingan 2:1:1.

Media tanam ini dapat dimasukkan ke polibag, karung, atau dalam bentuk bedengan.

Sedangkan pembibitan jenis tanaman; pakcoy, porang dan kelor dijelaskan bahwa benih pakcoy ditebar di media pembibitan, di tray, di polibag atau bedengan khusus.

Benih porang, boleh dibibitkan dulu dalam polibag ukuran 15X15 cm, atau langsung ditanam di bedengan dengan mempersiapkan lubang tanam dan pupuk dasar.

Dapat juga melalui benih berupa biji kelor disemai dengan cara ditebar pada bedengan khusus pembibitan atau dengan cara stek.

Menurut Kadiman, pembuatan Pupuk Organik Cair (POC), bahan dasarnya adalah nasi basi.

Sekitar 4 hari nasi basi disimpan pada wadah tertutup dan di tempat gelap, sampai kelihatan jamur kuning, coklat, atau sudah mulai berbau tape.

Proses selanjutnya, disiapkan larutan gula dan dicampur dengan nasi yang sudah berjamur sampai rata dan dimasukkan pada wadah yang punya tutup lalu disimpan di tempat khusus yg tidak kena sinar matahari.

Setiap pagi wadah dibuka dan setelah itu ditutup lalu dikocok, buka lagi baru ditutup dan disimpan kembali.

Kadiman menjelaskan, bahan dasar kotoran hewan, dimasukkan ke dalam karung lalu dimasukkan ke wadah yang sudah berisi air ditambah dengan mol atau EM4.

Bahan dasar sabut kelapa, yang sudah dicacah secara halus lalu dimasukkan pada suatu wadah yang sudah berisi air lalu dicampur dengan mol atau EM4.

Proses fermentasi sekitar 4 minggu, lalu dapat digunakan setelah disaring dan dikocor pada media tanam.

Penggunaannya disesuaikan dengan jenis tanaman dan masa pertumbuhannya.

Sedangkan bahan dasar disesuaikan dengan bahan yang ada di lokasi petani, termasuk humus tanah.

Pembuatan kompos, bahan dasarnya adalah sampah dedauan kering dicampur dengan kotoran hewan serta mol atau EM4.

Campuran bahan kompos ini dibungkus dengan terpal atau di tanah yang sudah dilubangi dengan cara anaerob. Bahan kompos ini disesuaikan juga dengan potensi setempat.

Selain itu, bahan yang diperlukan meliputi benih, stek kelor, air, tanah, gula, kotoran hewan, mol, nasi, sabut kelapa, sampah organik, karung, terpal.

Sementara alat yang dibutuhkan,berupa golok, telenan, cangkul, garpu, tong, ember, gayung, jerigen, kayu pengaduk dan lain sebagainya. (H1/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com