Perekonomian Sumut Tahun 2022 Diprakirakan Tumbuh Lebih Tinggi


215 view
Perekonomian Sumut Tahun 2022 Diprakirakan Tumbuh Lebih Tinggi
(Instagram/@danboyz88)
Ilustrasi Skyline Kota Medan, Sumatera Utara. 

Medan (SIB)

Kepala Kantor Bank Indonesia Wilayah Sumatera Utara Doddy Zulverdi mengatakan, perekonomian Sumatera Utara tahun 2022 diprakirakan tumbuh lebih tinggi dari tahun 2021 dengan rentang proyeksi 4,1%-4,9% (yoy).


"Semakin pulihnya mobilitas dan membaiknya daya beli akan mendorong konsumsi masyarakat," ujar Doddy di acara Bincang Bareng Media (BBM) yang digelar secara hybrid dan zoom, Jumat (30/9).


Ia mengatakan, tetap tingginya harga komoditas utama serta berlanjutnya program PEN juga diprakirakan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara tahun 2022 lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.


Namun, katanya, berlanjutnya konflik geopolitik yang berisiko melanjutkan gangguan rantai pasok global serta perkembangan ekonomi global yang diwarnai peningkatan inflasi menjadi hal yang perlu diwaspadai.


Ia merinci, ada beberapa faktor-faktor yang mendorong bias atas yakni yang pertama membaiknya krisis geopolitik global sehingga turut mendorong perbaikan rantai pasok dan menstabilkantekanan inflasi.


Kedua, terus berlanjutnya program PEN seperti KUR 3%, insentif bantuan tunai, dan insentif PPN-DTP (Ditanggung Pemerintah) yang dapat menjaga daya beli masyarakat," ujarnya.


Ketiga, tetap tingginya harga ekspor komoditas utama yang dapat mendorong penguatan produksi dan investasi.


Sedangkan faktor yang mendorong bias bawah yakni, pertama pandemi Covid-19 yang belum selesai dan wabah penyakit baru yang berisiko menahan mobilitas dan aktivitas masyarakat.


Kedua, konflik geopolitik tersebut terus berlanjut dapat memperpanjang kebijakan proteksionisme pangan global sehingga kembali mengganggu rantai pasok dan mendorong kenaikan inflasi global.


"Ketiga, potensi perlambatan ekonomi negara mitra yakni perekonomian Tiongkok yang terus menurun, b penurunan produksi industri manufaktur di Eropa terkait penetapan efisiensi gas yang lebih dalam dan dapat berdampak pada permintaan dan mempengaruhi kinerja ekspor," ujarnya.


Keempat, konflik geopolitik yang berkepanjangan dapat mengakibatkan sikap investor yang wait and see dan cenderung berinvestasi kepada aset safe haven, dan yang kelima dampak lanjutan penyesuaian harga BBM bersubsidi dan penurunan harga komoditas utama, seperti CPO. (A1/f)






Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com