Ketua Kogana Sumut Kunjungi DPR RI, Paparkan Bencana Alam di Sumut

Publik Belum Mapan EWS, Deteksi Banjir Masih Dominan Google dan BMKG


441 view
Publik Belum Mapan EWS, Deteksi Banjir Masih Dominan Google dan BMKG
Foto: dok. Istimewa
Benny Yudi Purnama dengan anggota DPR RI Komisi III H Mohammad Romo Syafii.

Medan (SIB)

Maraknya peristiwa banjir dan longsor di sejumlah daerah di Indonesia termasuk di wilayah Sumatera Utara belakangan ini, tampak diperparah dengan minimnya pengetahuan dan kesiapan publik atau masyarakat terhadap risiko bencana, akibat minimnya sosialisasi dan edukasi kebencanan oleh kalangan Pemda serta instansi terkait selama ini.


Ketua Komunitas Siaga Bencana (Kogana) Provinsi Sumatera Utara, Benny Yudi Purnama, menegaskan kalangan masyarakat selama ini masih dominan mengetahui potensi dan risiko banjir dari tampilan data Google yang umumnya berupa data kondisi setelah terjadinya peristiwa (banjir-longsor dan bencana lainnya), bukan dari data sinyal instansi seperti BMKG atau perangkat peringatan dini (early warning system-EWS) di lokasi sekitar rawan bencana.


"Terlepas dari apa faktor penyebab maraknya peristiwa banjir-longsor selama ini, apakah karena faktor kerusakan lingkungan akibat maraknya perambahan hutan, atau akibat intensitas curah hujan yang tinggi dan sering jadi faktor kambing hitam, atau memang karena potensi dasar alam yang secara geologis memang rawan banjir-longsor pada 25 dari 33 daerah kabupaten di Sumut, hingga kini masih lebih banyak masyarakat yang kalang kabut ketika banjir terjadi akibat minimnya informasi dari pusat deteksi seperti EWS-EWS, plus tidak semua orang bisa dapat info yang disiarkan BMKG setempat," katanya kepada pers di Medan, Rabu (5/1).


Dia mengutarakan hal itu di Kantor Kogana Sumut, dalam temu bincang pengurus pasca kunjungan Ketua Kogana Sumut Benny Yudi Purnama ke Komisi III DPR RI yang diterima dan berbincang dengan H Mohammad Romo Syafii. Selain berpapar soal pentingnya pengadaan 10 jenis perangkat EWS untuk Sumut yang rawan bencana, Benny juga mengungkap kondisi terakhir pasca peristiwa banjir-longsor di sejumlah daerah di Sumut belakangan ini, khususnya banjir di Tapsel (Palas dan Madina) sejak 17 Desember 2021 lalu.


Bersama rekannya Ahmad Fitriansyah ahli perangkat IT di Kogana Sumut, Benny menyebut sinyal terkini (update info) tentang potensi banjir di suatu lokasi masih dilakukan oleh kalangan jurnalis media-media online atauorang pegiat medsos dengan pelacakan data (tagging) sendiri di Google map. Artinya, informasi tentang banjir di lokasi di-update Google, bukan berdasarkan EWS.


"Itulah sebabnya kita berharap dan terus dorong pemerintah untuk pengadaan ke-10 jenis perangkat EWS itu, terutama EWSFlood untuk deteksi dan monitoring banjir bandang, EWS Strong Wind-Rain untuk deteksi angin kencang dan hujan deras yang berpotensi longsor, EWS Volcano untuk deteksi dan antisipasi erupsi gunung api, EWS Tectonical untuk deteksi gerakan gempa bumi (earthquake), dan lainnya,"ujar Benny serius.


Dia mencontohkan terjadinya banjir besar di 17 desa dan 16 kecamatan di Kabupaten Padanglawas (Palas) dan Madina pada 17 Desember 2021, lalu disusul banjir bandang lanjutan yang melanda empat desa jelang Tahun Baru (31/12) didesa Tamiang, Manggis, Tanungbarani, dan desa Tanjungbaru Kecamatan Batang Lubuksutam.


Demikian juga dengan banjir berulang di Kota Medan sejak 26 November lalu, banjir di Labuhanbatu Utara yang menggenangi 1.619 rumah di lima kecamatan pada 19 November, banjir di Asahan hingga 10 hari pada Agutus 2021 akibat luapan Sungai Duahulu, banjir beruntun di Batubara sejak Agustus 2020 hingga awal Januari 2021 yang menggenangi seribuan rumah di tiga kecamatan plus 4.778 hektare lahan tani, juga banjir di Sergai dan Tebingtinggi yang mengenangi 5.600 rumah dan 95 hektare persawahan di Seirampah, banjir rob Belawan dan di daerah lainnya.


"Banjir yang meluas dan meluap akibat hujan deras di sejumlah daerah ini tidak hanya menimbulkan dampak ekonomi lokal yang beragam antara sektor bisnis yang panen dalam situasi bencana, dan sektor bisnis yang mengalami kerugian karena sepi transaksi. Dampak lainnya ialah fenomena lemahnya edukasi dan atensi publik tentang mitigasi bencana di tengah-tengah situasi yang justru tren IT. Kebanyakan ponsel --android hanya digunakan untuk posting-chattingan ketimbang monitor sinyal bencana yang selalu muncul tanpa diduga," ujar Benny serius. (A5/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com