Rudapaksa Terhadap Anak Terulang di Toba


191 view
Rudapaksa Terhadap Anak Terulang di Toba
Internet
Ilustrasi pemerkosaan
Jakarta (SIB)
Kasus rudapaksa atau kejahatan seksual/perkosaan terhadap anak kembali terjadi di KabupatenToba. Kali ini menimpa Bunga (gadis dibawah umur) yang diduga dilakukan oleh BN (53) tahun yang merupakan tetangga rumah korban.

Informasi yang diperoleh dari Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menyebutkan kasus ini terungkap berkat laporan S (ibunda Bunga) ke Polres Toba dengan nomor LP/B/369/IX/2021/SKPT/Polres Toba.

"BN (53) warga Porsea, Kabupaten Toba, terduga pelaku saat ini sudah ditahan di Polres Toba," jelas Arist Merdeka Sirait dalam keterangan tertulisnya yang diterima SIB di Jakarta, Rabu, 22 September 2021.

Dikatakan Arist Merdeka Sirait, penangkapan BN yang juga tetangga korban dikuatkan dengan keterangan empat orang saksi yang melihat dan mengetahui peristiwa ini. Keterangan saksi juga didukung barang bukti berupa celana dalam, sandal dan celana panjang yang ditemukan di tempat kejadian perkara. Atas dasar keterangan dan bukti tersebut penyidik Polres Toba menangkap dan menahan pelaku.

Langkah Polres Toba yang cepat tanggap atas laporan ini mendapat apresiasi dari Komnas Perlindungangan Anak. Arist menyampaikan apresiasi kepada Satreskrimum Polres Toba.

Menurut Arist, kasus rudapaksa yang menimpa Bunga ini sudah berlangsung tiga kali sejak Agustus hingga September 2021. Setiap kali melakukan rudapaksa, pelaku selalu mengancam korban.

Awalnya, BN yang juga tetangga korban membantah melakukan rudapaksa. Bahkan saat dikonfrontir dengan korban dihadapan istri pelaku, BN bersih keras membantah tidak melakukan rudapaksa terhadap Bunga.

"Tentu saja S selaku ibu korban tidak puas dengan jawaban pelaku. kemudian S melaporkan kepada Polres Toba,"ujar Arist.

Atas laporan S, terduga pelaku BN ditahan dan dijerat dengan UU RI nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan Perpu nomor 01 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas undang-undang 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman pidana penjara minimal 10 tahun dan maksimal 20 tahun.

Menurut Arist, peristiwa serupa kian tahun kian meningkat di Toba. Kalau tahun 2019 hanya 12 kasus, maka tahun 2020 meningkat tajam menjadi 27 kasus.

Berkaca dari banyaknya kasus yang menimpa anak di Toba, Arist Nerdeka Sirait menghimbau semua pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, aparat penegak hukum, gereja, tokoh adat, tokoh masyarakat untuk bahu-membahu menyelamatkan anak-anak dari kejahatan seksual yang terus meningkat.

"Keterlibatan kita semua dibutuhkan untuk menjamin peristiwa serupa tidak terulang. Untuk menjamin anak anak kita aman dan bebas dari tindak kejahatan terhadap anak,"ujar Arist. (BR8/c)


Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com