Hanya 1.000 Angkot Disubsidi

Sejumlah Sopir Mulai Bereaksi Tolak Subsidi Tarif Timbulkan Kesenjangan Sosial


144 view
Sejumlah Sopir Mulai Bereaksi Tolak Subsidi Tarif Timbulkan Kesenjangan Sosial
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa
Ilustrasi subsidi angkot untuk warga Kota Medan dari Pemkot Medan yang dipimpin Bobby Nasution. 

Medan (SIB)

Penerapan subsidi yang diberlakukan Pemko Medan yang ingin membantu kesulitan masyarakat, malah semakin melebarkan kesenjangan sosial di antara kalangan sopir angkutan kota (angkot) yang beroperasi di Kota Medan.


Hal itu akibat Pemko Medan hanya memberikan subsidi 1.000 angkot saja, sementara ada 6.000 angkot beroperasi setiap hari di sejumlah trayek di Kota Medan.


Dengan demikian ada 5.000 unit angkot yang tidak mendapatkan subsidi atau tanda barkot subsidi.


Karena keterbatasan subsidi itu akan menimbulkan masalah baru terhadap sesama sopir angkot dan penumpang maupun perusahaan yang menaungi angkutan tersebut.


Untuk mencegah peristiwa terjadinya perbuatan saling sikut antara sesama sopir angkot, maka kalangan sopir kepada wartawan menyampaikan pernyataan sikap dan mulai bereaksi menolak kebijakan Pemko Medan yang dinilai belum memberikan rasa keadilan bagi semua pihak.


Padahal sudah dijelaskan dalam Undang-Undang Perhubungan dan regulasi, secara ekonomi subsidi diberikan untuk membantu daya beli masyarakat yang kurang berdaya atau masyarakat miskin.


Namun hal itu berbanding terbalik jika penyaluran subsidi tersebut akan terkesan pilih kasih mengingat tidak semua angkot yang beroperasi mendapatkannya.


Direktur PT Morina Jhon Sitindaon, Minggu (25/9) kepada wartawan mengatakan, mulai banyak menerima laporan sebagai bentuk kekhawatiran dari sopir-sopir angkot apabila penerapan subsidi itu mulai diberlakukan.


"Pada dasarnya kita sangat mendukung pemberian subsidi ini jika saja subsidi itu diberikan secara merata, tetapi apa yang disampaikan Wali Kota Medan Bobby Nasution yang memberikan subsidi terbatas hanya 1.000 angkot tentu sangat mencederai perasaan banyak sopir angkot lainnya yang notabene tidak mendapatkan subsidi," ungkapnya.


Untuk itu diharapkan Pemko Medan sebelum mengambil kebijakan hendaknya terlebih dahulu membuat study kelayakan, sehingga setiap kebijakan yang diambil memang menjadi solusi terbaik yang manfaatnya dapat dirasakan semua lapisan masyarakat.


Pemberian subsidi kepada 1.000 angkot akan menciptakan kesenjangan sosial dan gab yang semakin meruncing serta memperkeruh permasalahan.


Ini bukan tanpa alasan, karena akan memungkinkan terjadinya persaingan yang tidak sehat antar sesama driver angkutan yang berakibat kisruh serta menimbulkan kegaduhan kepada penumpang yang tidak mau membayar Rp 6.500 per estafet kepada angkot yang tidak memperoleh subsidi, mengingat penumpang merasa semua angkot sudah mendapat subsidi Rp 1.500 dari Pemko Medan sehingga penumpang tetap ngotot bayar Rp5.000.


Menurut Jhon jika Pemko Medan memang bersikukuh ingin membantu sopir angkot seharusnya subsidi diberikan saja kepada semua angkutan, sehingga sopir angkutan penumpang yang beroperasional di Kota Medan dapat terbantu untuk bisa terlepas dari kesulitan yang masih mendera.


Apalagi diketahui saat ini perekonomian masyarakat juga belum pulih, malah sudah diterpa lagi dengan adanya kenaikan harga BBM yang berimbas kepada kenaikan harga-harga termasuk spare part mobil angkutan.


"Kalau mau kasih subsidi jangan tanggung-tanggung. Misalnya dalam satu trayek itu ada 300 angkot yang beroperasional di situ ya dikasih saja subsidi secara merata. Tetapi jika tetap memberikan subsidi hanya kepada sebahagian kecil angkot saja, maka sebaiknya Pemko Medan membatalkan pemberian subsidi itu karena dianggap tidak membantu, tetapi malah menjadi pemicu perkelahian antar sopir angkot dan begitu juga kepada pemilik badan usaha angkot akan tidak nyaman mengelola usahanya karena akan selalu disalahkan," ujarnya.


Jhon lebih menanggapi dengan membiarkan saja penyesuaian tarif sesuai Surat Keputusan (SK) Wali Kota Medan yang menetapkan tarif Rp 6.500 per estafet tanpa diikuti dengan embel-embel pemberian subsidi yang alih-alih mau membantu, tetapi kenyataannya akan malah menyulitkan sopir angkot.


Karena tarif itu sudah berjalan di lapangan dan tidak mengalami kendala dan tidak ada masalah dengan sopir maupun penumpang angkot.

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com