Soal Pasien Positif Covid-19 Dianiaya di Tobasa, LaNyalla Mattalitti Ajak Masyarakat Kedepankan Simpati


169 view
Soal Pasien Positif Covid-19 Dianiaya di Tobasa, LaNyalla Mattalitti Ajak Masyarakat Kedepankan Simpati
Foto Dok
LaNyalla Mattalitti
Mojokerto (harianSIB.Com)

Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengajak masyarakat untuk mengedepankan rasa simpatik menghadapi pasien Covid-19 yang memiliki tekanan psikologis.

Sebab, saat ini tidak tertutup kemungkinan banyak kejadian pasien Covid-19 menjadi depresi karena tidak bisa menerima keadaan yang dialaminya. Bahkan, ada beberapa peristiwa pasien Covid bunuh diri karena mendapat tekanan sosial.

LaNyalla menyatakan hal itu dalam siaran pers, di sela-sela reses di Mojokerto, kepada wartawan, Senin (26/7/2021), yang juga diterima jurnalis Koran SIB Jamida P Habeahan, di Jakarta, menanggapi berita seorang pasien positif Covid-19, bernama Salamat Sianipar (45) diduga dianiaya.

Dalam sebuah video yang viral di media sosial, diperlihatkan seorang pria bernama Salamat Sianipar dihadang warga dengan kayu. Warga kampungnya Nampak mengelilinginya.

Peristiwa itu diduga terjadi di Desa Sianipar Bulu Silape, Kecamatan Silaen, Tobasa, Sumatera Utara (Sumut), Kamis (22/7) lalu.

“Saat ini, banyak sekali kejadian pasien Covid-19 menjadi depresi karena tidak bisa terima dengan keadaannya. Tetapi, warga harus menghadapinya dengan simpatik," kata LaNyalla.

Dalam berita tersiar istri Salamat mengungkapkan, suaminya yang menjalani isolasi mandiri mencoba menularkan virus kepada keluarga dan warga di kampungnya.

Warga sudah beberapa kali mengamankan Salamat dan mengembalikannya ke tempat isolasi mandiri yang disiapkan warga. Namun, Salamat kembali keluar dan hendak pulang ke rumah.

Karena itu warga terpaksa menggunakan kayu serta bambu saat kembali mengamankan karena Salamat berusaha meludahi warga.

LaNyalla memahami ketakutan masyarakat, namun diharapkannya masyarakat menghindari aksi-aksi kekerasan.

“Kalau memang sulit menghadapi pasien yang depresi, serahkan saja kepada petugas yang berwenang. Karena petugas sudah memiliki keahlian menghadapi pasien dengan fasilitas memadai serta sesuai protokol kesehatan,” kata LaNyalla.

“Kebutuhan medis dari sisi psikologi setiap orang berbeda-beda. Perangkat desa perlu lebih bijaksana, di saat sekiranya sudah tidak bisa ditangani masyarakat, seharusnya langsung berkoordinasi dengan ahlinya untuk menghindari kejadian seperti ini,” kata LaNyalla.

LaNyalla berharap Pemkab Toba berkoordinasi dengan pihak rumah sakit agar korban bisa mendapat perawatan yang tepat sambil menyebutkan, dampak sosial pandemi perlu disikapi secara arif dengan mengedepankan unsur musyawarah. (*)

Editor
: Wilfred/Donna Hutagalung
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com