Stunting Agara 34,1 Persen, Peringkat 8 di Aceh


270 view
Stunting Agara 34,1 Persen, Peringkat 8 di Aceh
(Foto SIB/Armentoni Munthe)
ARAHAN : Wakil Bupati Aceh Tenggara Bukhari (tengah) yang juga selaku Ketua TPPS Aceh Tenggara saat menyampaikan arahannya. 

Kutacane (SIB)

Berdasarkan hasil studi status gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2021 BKKBN Aceh, angka Stunted Kabupaten Aceh Tenggara berada di posisi 34,1 persen, sehingga menempatkan daerah ini di posisi 8 besar di tingkat kabupaten / kota se- Aceh. Angka tersebut masih melampau angka rata rata provinsi Aceh yang hanya 33,2 persen.


Demikian penegasan tersebut, disampaikan Sekretaris BKKBN Aceh Husni Thamrin SE MM kepada SIB, seusai acara pembukaan Rekonsiliasi Stunting Tingkat Kabupaten/Kota, di Oproom Kantor Bappeda Aceh Tenggara, Senin (9/5).


Dikatakannya, Prevalensi Balita Stunted (Tinggi badan menurut Umur)berdasarkan Kabupaten dan Kota di Provinsi Aceh, SSGI Tahun 2021, Stunted tertinggi, Kabupaten Gayo Lues, Kemudian Kota Subulussalam, Bener Meriah, Kabupaten Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah dan Aceh Tenggara di peringkat tertinggi ke 8, bahkan di level Nasional Aceh berada di peringkat tertinggi ke tiga setelah NTT dan Sulawesi Barat, karena posisi rata rata Stunting Indonesia berada diangka 24,4 persen ungkapnya.


Maka untuk menekan serendah rendahnya angka stunting di Propinsi Aceh, kita turun ke Kabupaten / Kota, sebagaimana Perpres Nomor 72 Tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting. Pemerintah menargetkan penurunan prevalensi stunting 14 persen di Tahun 2024.


Setelah lebaran, secara perdana kegiatan Rekonsiliasi tingkat Kabupaten/ Kota digelar di Kabupaten Aceh Tenggara, kemudian ke Kabupaten Gayo Lues, Bener Meriah dan Takengon, pungkas Husni.


Sementara Wakil Bupati Bukhari, yang juga selaku Ketua tim percepatan penurunan Stunting(TPPS) Kabupaten Aceh Tenggara, saat membuka kegiatan Rekonsiliasi Stunting Tingkat Kabupaten/Kota, di Oproom Kantor Bappeda Aceh Tenggara, Senin 9 Mei 2022, dalam arahannya berharap, bersama sama bersinergi dengan pemerintah pusat, provinsi, Kabupaten dan desa untuk mengentaskan permasalahan stunting ini, karena dampaknya sangat besar bagi masyarakat.


Kami selaku Ketua tim percepatan penurunan stunting di Kabupaten Aceh Tenggara, bersama tim atau dinas terkait, akan berupaya menekan serendah rendahnya angka stunting di Kabupaten Aceh Tenggara kedepan, katanya.


Kadis Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Aceh Tenggara, Budi Afrizal SKM MKM kepada SIB menuturkan, berdasarkan SSGI Tahun 2021 Stunting di Aceh Tenggara berada di posisi 34,1 persen, sementara target yang musti kita capai di Tahun 2024 berdasarkan Perpres nomor 72 Tahun 2021 diangka 14 persen, jadi kita punya tugas banyak untuk menurunkan prevalensi stunting di Aceh Tenggara.


Jadi untuk mengatasi itu, kita tetap bekerja sama dengan pihak Tim percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Provinsi, disamping itu kita sudah membentuk TPPS Kabupaten, Kecamatan dan Desa, katanya.


Tadi pihaknya sudah berdiskusi dengan pak Husni dari Provinsi, yang jelas kita harus satu data, jangan data kita berbeda dengan data di Pusat atau di Provinsi, yang jelas kalau di Puskesmas ada aplikasi Elektronik pencatatan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM) yang pertama kami melakukan pendataan ulang, yang kedua pembentukan tim di lapangan Tim pendamping Keluarga (TPK) yang terdiri dari Bidan desa, Ibu Ketua PKK bersama dengan kader KB, mereka inilah yang melakukan pendampingan terhadap keluarga keluarga yang beresiko stunting.


Budi juga menjelaskan, kader TPK itu ada 3 orang perdesa dikali 385 Desa yang ada di Aceh Tenggara, ditambah 111 Tim karena setiap desa itu ada 2 tim, jadi sekitar 1.488 tim pendamping keluarga yang ada di Desa.


Tugas mereka melakukan pendampingan dan pendataan mulai dari calon pengantin yang belum menikah 3 bulan, sebelum menikah harus mereka dampingi, pendampingan Ibu Hamil, mendampingi ibu yang memiliki anak dibawah 5 Tahun, jadi mulai belum nikah sampai punya anak, anaknya dilakukan pendampingan, biar tidak terjadi misalnya kekurangan Anemia, Energi kronis, kurang protein, termasuk tersedia nggak jamban dirumahnya, ada beberapa indikator yang diperhatikan, pungkas Budi. (B6/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: KORAN SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com