Pelantikan Pengurus Pemuda Batak Bersatu Sumut Diwarnai Seminar Narkoba

Sumut Nomor 1 Peredaran Narkoba di Indonesia, 1,5 Juta Jiwa Pecandu Baru 3000 Direhab

* HUT ke-3, PBB akan Datangkan 100.000 Wisatawan ke Danau Toba

218 view
Sumut Nomor 1 Peredaran Narkoba di Indonesia, 1,5 Juta Jiwa Pecandu Baru 3000 Direhab
(Foto: SIB/Dok PBB DPD Sumut)
PENCERAHAN: Ketua Umum DPP Pemuda Batak Berdsatu Lambok F Sihombing memberi pencerahan dan pembekalan tentang organisasi kepada pengurus DPC se-Sumut dan DPD pada pelantikan pengurus PBB DPD Sumut yang dirangkaikan dengan Rakorda, Sabtu (24/9) di Convention Danau Toba, Medan. Tampak mendampingi Wakil Ketua Sumut Godfried Lubis,Victor Sitinjak dan  Janpatar Simamora. 

Medan (SIB)

Badan Narkotika Nasional (BNN) Sumut mencatat, Sumatera Utara ranking 1 di Indonesia dalam penyalahgunaan narkoba. Jumlah pecandu narkoba di Sumut 1,5 juta jiwa dalam setahun terakhir.


Sedangkan yang diirehabilitasi baru 3000 orang, sehingga masih ada 1.497.000 lagi orang Sumut tidak mendapat fasilitas rehabilitasi.


Melalui Perda Nomor 1 Tahun 2019, sudah ada payung hukum masalah P4GN Provsu dan diperkuat lagi dengan Surat Edaran Gubernur Nomor 354 Tahun 2022 tentang pembangunan desa/kelurahan bersinar dan pemberian bantuan rehabilitasi bagi keluarga yang tidak mampu. Gubernur Sumut sudah menganggarkan Rp 6 miliar untuk program rehabilitasi anak-anak korban narkotika yang tidak mampu.


“Ada rehabilitasi sekitar 1000.000 orang pecandu narkoba bantuan dari Pemrov Sumut. Di Sumut ada 18.514 jiwa yang mengalami gangguan jiwa. Dari jumlah tersebut, 768 yang mengalami gangguan jiwa tersebut karena narkoba,” kata Hariyanto dari BNN Sumut ketika menyampaikan materi seminar narkoba dalam rangkaian pelantikan Pengurus Pemuda Batak Bersatu (PBB) DPD Sumut, Sabtu (24/9) di Convention Hotel Danau Toba, Medan.


Menurut Hariyanto, banyaknya pecandu narkoba yang tidak direhabilitasi mengakibatkan mereka mengalamai gangguan jiwa dan membuat kerusuhan di keluarga maupun lingkungan masyarakat.


Kondisi inilah yang menjadi beban negara, sehingga Indonesia sekarang ini mengalami “froxy war” (perang semu), yakni berperang tanpa senjata.


“Tidak seperti perang Rusia melawan Ukraina, negara luar berusaha mencekokin generasi muda kita agar hancur, semua suku kita di Indonesia dirusak, terutama generasi muda yang mentalnya tidak tahan menolak narkoba, inilah menjadi PR kita bersama,” ucapnya.


Dikatakannya, ada satu bangsa di dunia ini yang runtuh dan hilang dua generasinya karena narkoba yakni Dinasti Qing di Cina.


Mulai dari pejabat sampai masyarakatnya kecanduan opium/ Tahun 1800an mereka perang candu dengan Inggris.


Cina menjual teh sedangkan Inggris menjual opium.


Akibatnya dinasti Qing mengalami kegagalan sampai bubar tahun 1920 an.


“Inilah yang menjadi pelajaran kita, sebuah bangsa hancur karena narkoba karena semuanya tidak perduli. Yang harus kita lakukan adalah pencegahan berupa sosialisasi, pembentukan relawan, satgas. Dalam UU Nomor 35 Tahun 2009, di pasal 104 sampai pasal 108 dinyatakan bahwa masyarakat diberi kesempatan berpartisipasi dalam pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan serta peredaran gelap narkoba. Jika ada melihat transaksi narkoba di lingkungan, bisa kita tangkap tangan dan laporkan ke pihak berwajib,” terangnya.


Untuk rehabilisasi, terangnya, masyarakat bisa membantu untuk merehabilitasi dengan membangun panti rehabilitasi seperti di Sergai milik Jhoni Panjaitan, di P Siantar namanya Narwastu dan ada di Sibolangit.


BNN Sumut membuat program rehabilitasi, ribuan pecandu sudah diamankan yang dijaring dari tempat hiburan, warnet dan komunitas tertentu.


Warnet di Kota Medan dilakukan pemetaan, dari 23 pengunjung di atas jam 12 malam, setelah di test urin positif 20 orang.


Survei lainnya adalah dari 220 orang sopir angkot, 46 orang yang positif. Artinya, dari 4 sopir angkot 1 orang positif narkoba.


Kemudian BNN merazia preman yang terdiri dari juru parkir (jukir) liar, “Pak Ogah”, dari 120 orang, 89 orang diantaranya positif, dari 4 orang preman, 3 orang positif narkoba dan semuanya itu direhab oleh BNN.


Ketua DPP PBB Lambok Sihombing mengatakan, rohnya PBB itu ada di kedukaan, karena organisasi ini waktu dideklarasikan adalah untuk sosial dan kemanusiaan.


Misi organisasi tersebut tidak boleh ditinggalkan, kalau ditinggalkan maka masyarakat akan mencemoh dan menganggap program PBB hanya kepura-puraan dan pencitraan.

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com