Tim Kajian UU ITE: SKB Pedoman Bukan Produk Hukum, Tak Berlaku Surut


160 view
Tim Kajian UU ITE: SKB Pedoman Bukan Produk Hukum, Tak Berlaku Surut
Foto: Istimewa
Sugeng Purnomo
Jakarta (SIB)
Menkominfo Johnny G Plate, Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin, dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo meneken Surat Keputusan Bersama (SKB) Pedoman UU ITE. Tim Kajian UU ITE mengatakan bahwa SKB Pedoman UU ITE bukanlah produk hukum.

"Keputusan bersama ini bukan salah satu produk hukum. Tetapi keputusan bersama ini diperlukan sebagai komitmen penegak hukum untuk mengisi kekosongan yang ada. Untuk mengatasi misalnya penafsiran-penafsiran tentang ketentuan yang ada sehingga itu bisa seragam penanganannya," kata Ketua Tim Kajian UU ITE Sugeng Purnomo kepada wartawan, Kamis (24/6).

Sugeng mengatakan SKB Pedoman UU ITE ini tidak berlaku surut. Menurutnya, semestinya sebuah perkara tetap menjadikan SKB Pedoman UU ITE sebagai pedoman.

"Jadi kalau dikatakan berlaku surut, tidak. Cuma permasalahannya begini 'Pak bagaimana kalau perkaranya ini sedang di proses penyidikan atau sedang proses'. Mestinya ini tetap bisa dipedomani. Jadi tidak berlaku surut," ujarnya.

Kendati demikian, SKB Pedoman UU ITE ini tidak bisa dipakai untuk membuat perkara yang tadinya masuk tindak pidana berhenti diproses.

"Misalnya ini 'pak perkara sudah putus, sebelum kejadian lahirnya pedoman ini. Kalau mengacu pada pedoman ini, mestinya itu bukan tindak pidana atau tidak diproses', ya nggak bisa," tuturnya.

Sebelumnya, disebutkan bahwa terbitnya SKB itu untuk memedomani implementasi pasal-pasal yang dianggap sebagai pasal karet.

Penandatanganan itu dilakukan di Kantor Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (23/6). Penandatanganan disaksikan langsung oleh Menko Polhukam Mahfud Md.

Ada 4 pasal yang dianggap merupakan pasal karet yang implementasinya diatur dalam SKB Pedoman UU ITE itu. Empat pasal itu adalah Pasal 27, 28, 29, dan 36 UU ITE.

Misalnya implementasi Pasal 27 ayat 1. Dalam SKB Pedoman UU ITE itu dijelaskan bahwa fokus pasal tersebut adalah perbuatan mentransmisikan, mendistribusikan, dan/atau membuat dapat diaksesnya, bukan pada perbuatan kesusilaan itu.

"Pasal 27 ayat (1), fokus pada pasal ini adalah pada perbuatan mentransmisikan, mendistribusikan, dan/atau membuat dapat diaksesnya, bukan pada perbuatan kesusilaan itu. Pelaku sengaja membuat publik bisa melihat atau mengirimkan kembali konten tersebut," demikian bunyi lampiran SKB Pedoman UU ITE.

Berikut ini isi lengkap SKB Pedoman UU ITE:

a. Pasal 27 ayat (1), fokus pada pasal ini adalah pada perbuatan mentransmisikan, mendistribusikan, dan/atau membuat dapat diaksesnya, bukan pada perbuatan kesusilaan itu. Pelaku sengaja membuat publik bisa melihat atau mengirimkan kembali konten tersebut.

b. Pasal 27 ayat (2), fokus pada pasal ini adalah pada perbuatan mentransmisikan, mendistribusikan, dan membuat dapat diaksesnya konten perjudian yang dilarang atau tidak memiliki izin berdasarkan peraturan perundang-undangan.
c. Pasal 27 ayat (3), fokus pada pasal ini adalah:

1) Pada perbuatan yang dilakukan secara sengaja dengan maksud mendistribusikan/ mentransmisikan/membuat dapat diaksesnya informasi yang muatannya menyerang kehormatan seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal supaya diketahui umum.

2) Bukan sebuah delik pidana jika konten berupa penghinaan yang kategorinya cacian, ejekan, dan/atau kata-kata tidak pantas, juga jika kontennya berupa penilaian, pendapat, hasil evaluasi atau sebuah kenyataan.

3) Merupakan delik aduan sehingga harus korban sendiri yang melaporkan, dan bukan institusi, korporasi, profesi atau jabatan.

4) Bukan merupakan delik penghinaan dan/atau pencemaran nama baik jika konten disebarkan melalui sarana grup percakapan yang bersifat tertutup atau terbatas.

5) Jika wartawan secara pribadi mengunggah tulisan pribadinya di media sosial atau internet, maka tetap berlaku UU ITE, kecuali dilakukan oleh institusi Pers maka diberlakukan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

d. Pasal 27 ayat (4), fokus pada pasal ini adalah perbuatan dilakukan oleh seseorang ataupun organisasi atau badan hukum dan disampaikan secara terbuka maupun tertutup, baik berupa pemaksaan dengan tujuan untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum maupun mengancam akan membuka rahasia, mengancam menyebarkan data pribadi, foto pribadi, dan/atau video pribadi.

e. Pasal 28 ayat (1), fokus pada pasal ini adalah pada perbuatan menyebarkan berita bohong dalam konteks transaksi elektronik seperti transaksi perdagangan daring dan tidak dapat dikenakan kepada pihak yang melakukan wanprestasi dan/atau mengalami force majeur. Merupakan delik materiil, sehingga kerugian konsumen sebagai akibat berita bohong harus dihitung dan ditentukan nilainya.

f. Pasal 28 ayat (2), fokus pada pasal ini adalah pada perbuatan menyebarkan informasi yang menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan terhadap individu/kelompok masyarakat berdasar SARA. Penyampaian pendapat, pernyataan tidak setuju atau tidak suka pada individu/kelompok masyarakat tidak termasuk perbuatan yang dilarang, kecuali yang disebarkan itu dapat dibuktikan.

g. Pasal 29, fokus pada pasal ini adalah pada perbuatan pengiriman informasi berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi atau mengancam jiwa manusia, bukan mengancam akan merusak bangunan atau harta benda dan merupakan delik umum.

h. Pasal 36, fokus pada pasal ini adalah kerugian materiil terjadi pada korban orang perseorangan ataupun badan hukum, bukan kerugian tidak langsung, bukan berupa potensi kerugian, dan bukan pula kerugian yang bersifat nonmateriil. Nilai kerugian materiil merujuk pada Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2012. (detikcom/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com