Yayasan Cerdas Bersama Asus Indonesia Gelar Seminar Pembelajaran Pasca Pandemi


97 view
Yayasan Cerdas Bersama Asus Indonesia Gelar Seminar Pembelajaran Pasca Pandemi
(Foto: SIB/Roni Hutahaean)
JELASKAN: Pembicara Indra Charismiadji menjelaskan pembelajaran pasca pandemi mengikuti teknologi, menggunakan perangkat gawai atau telepon seluler maupun perangkat komputer.

Medan (SIB)

Yayasan Center For Education Regulations and Development Analysis (Cerdas) bersama Asus Indonesia, menggelar seminar pembelajaran pasca pandemi, Rabu (31/8) di Grand Mercury Angkasa Hotel.

Turut hadir Kadisdiksu Asren Nasution diwakili Pelaksana Harian Sekretaris Disdiksu Dr Suhenri, Ketua Badan Musyawarah Perguruan Swasta Indonesia (BMPSI) Medan Muhammad Arif, mewakili Kadisdik Medan Kabid Pembinaan SMP Bambang Sudewo, para narasumber yakni praktisi dan pemerhati pendidikan Indra Charismiadji, Field Account Enginering Assus Indonesia, Adrian Pradipta dan para stakeholder terkait.

Pembicara Indra Charismiadji memaparkan, pembelajaran pasca pandemi mau tidak mau harus mengikuti teknologi, dimana pembelajaran harus menggunakan perangkat gawai atau telepon seluler maupun perangkat komputer.

Dalam paparannya, Indra mengajak peserta untuk menilik kembali sistem pembelajaran yang dilaksanakan masa pandemi dan saat ini.

Bagaimana sekolah bisa berlangsung dengan baik, harus sesuai dengan perkembangan zaman.

Kemajuan zaman harus diikuti.

Dia mengakui sangat penting adanya kerjasama antara sekolah atau yayasan dengan dinas pendidikan, masyarakat dalam memajukan sistem pendidikan berbasis digital ini.

Hal lain disampaikannya, era pandemi Covid-19, pembelajaran berdeferiansi.

Dimana konsep deferensiasi ini juga dinilai model yang tepat di tengah era pandemi yang menuntut para siswa selalu menggunakan gawai dan atau gadget untuk setiap pembelajaran.

Indra menyebutkan kalau bicara konsep baru, kita harus menggunakan cara yang baru.

“Tidak bisa pakai cara lama. Artinya pembelajaran diferensiasi tidak akan berjalan jika menggunakan guru yang berjalan di depan kelas, metodenya mendengarkan atau mencatat. Tidak akan mungkin bisa menjadi pembelajaran berdeferiansi,” ujarnya.

Menurutnya, sistem berbasis teknologi digital, yang saat ini dilakukan di era pandemi, sudah diterapkan di luar negeri sejak 15 tahun lalu.

“Sekolah negeri di Amerika, 15 tahun lalu anak-anak sudah membawa Laptop ke sekolah. Kita kalau gak gara-gara Covid, teknologi itu dilarang,” sebutnya.

Dijelaskannya, berdeferiansi juga tidak mungkin bila tidak menggunakan teknologi.

“Salah satunya konsep learning management system (LMS). Kalau dulu di kelas, itu guru mengajar. Kalau sekarang menggunakan teknologi, lebih kepada guru diskusi, bedah kasus dan lainnya, yakni flipped classroom,” katanya.

Berdeferensiasi, paparnya, juga bisa dilakukan dengan konsep project-based learning.

“Dikerjakan berkelompok, mata pelajaran terpadu, model belajarnya flipped learning, bentuk karya dibebaskan, dan harus kontekstual artinya yang dinilai bukan karyanya tapi prosesnya,” pintanya.

Sedangkan Adrian Pradipta, Field Account Enginering Assus Indonesia, narasumber berikutnya, menyebutkan, pihaknya sendiri sudah mendesain perangkat yang mendukung dari segi pendidikan, khususnya hal berkaitan dengan pembelajaran dan teknologi itu sendiri.

“Kami dari Asus ikut mendukung dari pendidikan, terkait diferensiasi. Kita butuh teknologi, salah satu kekurangan teknologi yang cepat, perlu produk baterai yang baik. Dulu teknologinya belum ada, tapi sekarang teknologinya sudah di depan mata," katanya. (A18/d)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com