Peringati Hari Kartini

Tokoh Perempuan Sumut : Pendidikan Membuat Pikiran Perempuan Semakin Cerdas dan Kritis


208 view
 Tokoh Perempuan Sumut : Pendidikan Membuat Pikiran Perempuan Semakin Cerdas dan Kritis
gramedia.com
Ilustrasi
Medan (SIB)
Memperingati Hari Kartini di tengah pandemi Covid-19, Koordinator WCC (Woman Crisis Centre) Sinceritas Perkumpulan Sada Ahmo (Pesada), Dina Lumbantobing mengajak kaum perempuan agar semakin cerdas dan kritis dalam berpikir dan bertindak sehingga mampu mengambil keputusan mandiri atas masa depannya. Yaitu dengan memiliki pendidikan setinggi mungkin , termasuk dalam memahami pendidikan kesehatan ketubuhan (seksual) yang menjadi bagian penting dari pendidikan. Hal ini agar kaum perempuan tetap terlindungi dari segala ancaman tindakan diskriminasi.

"Saya diingatkan kembali dengan 4 poin penting perjuangan RA Kartini, dimana dalam perjuangannya agar perempuan memperoleh pendidikan, semangatnya menulis pikiran-pikirannya dan mengomunikasikannya dengan kawan-kawannya. Kemudian,
kepasrahannya menjadi isteri kedua dan masalah kesehatan reproduksi yang membuatnya berpulang. Setelah 116 tahun Ibu Kartini berpulang, maka sudah selayaknya kita meneruskan perjuangannya," katanya kepada SIB di Medan, Selasa (21/4).

Dikatakannya, akibat pendidikan rendah , perempuan sering mengalami berbagai masalah, diantaranya gangguan kesehatan reproduksi dan perkawinan yang tidak harmonis ataupun KDRT. Untuk itu pentingnya pendidikan adalah untuk memberikan perubahan menuju pemikiran yang lebih maju sehingga membantu perempuan terlepas dari masalah-masalah tersebut.

"Melalui data yang terus masuk, banyak kesenjangan yang kerap terjadi , di antaranya angka melek huruf, kecenderungan menikah di usia dini yang mengancam kesehatan, meningkatnya kemiskinan dan Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP) di Indonesia yang mencapai 406.178 laporan kasus (Data Komnas Perempuan). Di Sumut sendiri, WCC Sinceritas Pesada menangani langsung 157 Kasus KTP dimana 30% di antaranya KDRT. Maka tidak mengherankan ketika Indonesia menjadi salah satu negara terburuk Angka Kematian Ibu (AKI), yang pada 2019 mencapai 305 kematian per 100.000 Ibu melahirkan," jelasnya.

Lanjutnya, untuk itu penting kerjasama yang baik dari berbagai kalangan untuk meningkatkan pendidikan kaum perempuan di Indonesia, terkhusus diharapkan peran negara dan masyarakat dalam menghapuskan semua kesenjangan gender , paling tidak di bidang pendidikan, kesehatan, dan di rumah tangga, agar cita-cita Kartini yang juga adalah cita-cita bangsa dapat dicapai, paling tidak dalam beberapa tahun ke depan.

Pendidikan dan perempuan, dua elemen yang berbeda namun tidak dapat dipisahkan . Pendidikan bukan hanya sebagai formalitas semata namun harus diterapkan secara fundamental. Perempuan yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas pula. Untuk itu, jikalau kurang meratanya pendidikan untuk perempuan, ini akan terus memberikan catatan buruk bagi NKRI. “Karenanya, peran negara untuk segara mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dan terus sosialisai penghapusan Perkawinan Anak sangat diperlukan dalam membantu perempuan Indonesia hidup lebih layak dan sejahtera. Selamat merayakan Hari Kartini. Tetap di rumah saja dengan berbagai peran, jaga sehat, dan aman dari segala bentuk kekerasan," katanya. (M20/c)
Penulis
: redaksisib
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com