Bubarkan Kuda Kepang, Pendawa Sumut Sebut Oknum Anggota FUI Lecehkan Kesenian Jawa

* Polisi Profesional Tangani Kasus

136 view
Foto Dok
H Ruslan
Medan (SIB)
Ketua Paguyuban Pendawa (Persatuan Pemuda Jawa) Sumatera Utara, H Ruslan mengecam tindakan oknum anggota yang mengatasnamakan ormas Forum Umat Islam (FUI) yang membubarkan kegiatan kesenian kuda kepang (kuda lumping), Jumat (2/4) di lingkungan IX, Kelurahan Sei Sikambing B, Kecamatan Medan Sunggal. Dia meminta aparat penegak hukum menindak pelaku dengan tegas dan pemerintah diminta membubarkan ormas yang bertindak secara radikal.

Ruslan mengaku tersinggung terhadap perilaku ormas tersebut karena dinilai sudah melecehkan budaya Jawa yang sudah diwariskan secara turun temurun. Aparat harus bertindak tegas, karena tindakan ini bisa menjurus ke SARA. Pelaku sudah bertindak anarkis dengan meludahi seseorang dan diduga ada tindakan kekerasan di lokasi kejadian.

“Kami dari paguyuban Pendawa merasa tersinggung atas cara-cara kekerasan yang dilakukan oknum ormas FUI membubarkan kesenian Jawa Tengah yang benilai tinggi itu. Kuda Kepang dicintai bukan hanya etnis Jawa, suku-suku lain senang menonton Kuda Kepang, apalagi sudah dipatenkan menjadi kesenian Indonesia yang diwariskan turun temurun, seperti kesenian reok Ponorogo Jawa Timur,” terang Ruslan kepada wartawan, Jumat (10/4).

Menurut dia, kalau alasannya pertunjukan Kuda Kepang menimbulkan keramaian sehingga dikhawatirkan bisa menimbulkan kluster baru Covid-19, itu bukan tugas ormas. Karena ada tim gugus tugas yang ada di setiap kecamatan. Ormas bisa melaporkan itu kepada gugus tugas, dan petugaslah yang berhak meminta agar sebuah pertunjukan dihentikan.

“Bukan tugas ormas membubarkan pertunjukan, ormas bukan aparat pemerintah yang ditunjuk membubarkan keramaian. Apalagi tindakan tersebut sudah mengarah anarkis, ada yang diludahi, itu sudah menghina budaya Jawa. Mereka sudah melecehkan budaya, aparat harus menindak tegas mereka biar ada efek jera dan tidak merembet ke SARA,” harapnya.

Dikatakan Ruslan, bagi Pandawa, NKRI adalah harga mati. Persatuan, kesatuan dan keutuhan bangsa harus terjaga, agar jangan ada oknum-oknum ormas radikal yang merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Budaya apa saja adalah warisan leluhur nenek moyang bangsa Indonesia, apapun sukunya, semua budayanya adalah warisan bangsa.

“Pemerintah mengeluarkan anggaran untuk melestarikan kebudayaan yang ada di Indonesia agar lestari. Kok ada pula ormas yang membubarkan pertunjukan kesenian bangsa yang sangat dihargai negara bahkan bangsa-bangsa lain mencnitai budaya kita,” ungkapnya.

Polisi Profesional
Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumut Kombes Hadi Wahyudi, Jumat (9/4) sore di kantornya mengatakan, penyidik tengah menangani kasus pembubaran acara Langgem Budoyo dan kegiatan kuda lumping di Medan.

"Iya, Polda Sumut dan Polrestabes Medan telah melakukan penyelidikan terkait kasus dibubarkannya kegiatan kuda lumping dan keributan pertunjukkan Langgem Budoyo di Kecamatan Medan Sunggal serta mengamankan terduga pelaku berinisial S," katanya.

Hadi menerangkan, hasil gelar perkara kasus keributan acara kuda kepang itu telah dilakukan Dit Reskrimum Polda Sumut dan berkas perkara yang sebelumnya ditangani Polsek Medan Sunggal sudah dilimpahkan ke Sat Reskrim Polrestabes Medan dan dibackup Polda Sumut.

"Kita mengimbau masyarakat menjelang bulan suci Ramadan untuk menahan diri, saling menghormati, tidak mudah tersulut dan terprovokasi atas kasus tersebut. Kami sebagai penegak hukum akan profesional dalam menangani perkaranya," pinta Kabid Humas Polda Sumut. (A8/A18/f)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com