Digugat Suami ke Pengadilan, Istri Tak Mau Diceraikan


770 view
Digugat Suami ke Pengadilan, Istri Tak Mau Diceraikan
Internet
Ilustrasi 
Medan (SIB)
Dr Leonida Manurung, selaku tergugat menolak untuk diceraikan oleh suaminya, dr Eka Samuel Parulian Hutasoit yang tak lain adalah Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Methodist Indonesia. Hal itu dikatakan Leonida menanggapi gugatan perceraian yang dilayangkan Dr Eka selaku penggugat ke Pengadilan Negeri (PN) Medan.

"Saya terkejut digugat cerai oleh suami saya. Saya juga tidak tahu apa salah saya sehingga saya digugat cerai ke pengadilan," ucap Dr Leonida di Medan, Minggu (17/1).

Menurut Leonida, perceraian adalah hal yang bertentangan dengan ajaran agama Kristen. Selain itu, secara pribadi, dokter yang berparas cantik ini masih membutuhkan sosok suami (penggugat) secara jasmani maupun rohani untuk membimbing keluarga. "Saya sudah dua kali datang ke proses mediasi yang digelar PN Medan. Tetapi dianya (Eka) tidak pernah datang. Tapi intinya, saya tidak terima untuk diceraikan," terangnya.

Sementara, Maurits Manurung selaku perwakilan Keluarga Besar Manurung mengaku terkejut dengan adanya gugatan itu. Selama ini yang ia tahu, penggugat beserta keluarga besarnya merupakan keluarga yang rohaniwan dan berpendidikan dan cukup dikenal di lingkungan gereja Methodist. Ayahnya merupakan mantan pendeta di gereja Methodist.

"Oleh karena itu, sebagai perwakilan keluarga besar Manurung, saya malah mempertanyakan apakah penggugat sudah mempertimbangkan secara matang mengenai prinsip-prinsip perkawinan dalam ajaran Agama Kristen seutuhnya yang benar, sebelum mengajukan gugatan," ucap pria yang tak lain adalah abang kandung Dr Leonida tersebut.

Sebelumnya, dr Eka melayangkan gugatan cerai terhadap Dr Leonida Manurung ke PN Medan dengan No 793/Pdt.G/2020/PN.Mdn. Melalui kuasa hukumnya penggugat Marudut Simanjuntak, alasan menggugat karena terjadi ketidakharmonisan dalam rumah tangga sejak 2008 disebabkan perselisihan dan perbedaan pendapat.

Selain itu, dalam gugatannya tersebut disebutkan terjadi percekcokan yang terus menerus apalagi tergugat dr Leonida kerap mengungkit dan meminta kembali pemberian orang tua tergugat. Pertengkaran kerap terjadi saat penggugat membawa orang tuanya tinggal bersama.

Hingga akhirnya pada 2018 penggugat dan tergugat tidak tinggal bersama dan dinilai tergugat meninggalkan rumah tanpa izin penggugat. "Penggugat sudah berupaya untuk memperbaiki rumah tangganya tetapi upaya damai tidak berhasil," kata Marudut dalam petikan gugatannya.

Menurutnya, alasan gugatan tersebut sudah sesuai dengan UU No 1 Tahun 1974 Pasal 39 Ayat (2) dan Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975 Pasal 19 Huruf F. Untuk itu penggugat meminta majelis hakim menerima dan mengabulkan gugatan penggugat.

"Menyatakan perkawinan penggugat dan tergugat yang dilangsukam secara tata cara agama Kristen Protestan dan terdaftar di Catatan Sipil Medan pada 14 Agustus 1999 dengan akta perkawinan Nomor 230/1999, putus karena dengan perceraian dengan segala hukum akibatnya," tulis bunyi gugatan tersebut. (M14/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com