Penghasilan Berkurang, Nelayan Keluhkan Proyek Pengeboran Minyak di Paluh Kurau


510 view
Penghasilan Berkurang, Nelayan Keluhkan Proyek Pengeboran Minyak di Paluh Kurau
Foto SIB/Pally S
Keluhan : Sejumlah nelayan skala kecil asal Hamparan Perak dan Belawan, Kamis (29/9/2022) menyampaikan keluhan kepada wartawan, terkait proyek pengeboran minyak di Paluh Kurau atau di sekitar areal tangkap nelayan yang berdampak menurunnya penghasilan mereka.

Belawan (harianSIB.com)

Seratusan nelayan skala kecil asal Hamparan Perak, Kabupaten Deliserdang dan Kecamatan Medan Belawan, yang sehari-harinya mencari nafkah di perairan Sungai Paluh Kurau, Hamparan Perak mengeluhkan proyek pengeboran minyak Pertamina di Paluh Kurau.

Pasalnya akibat pengerjaan proyek tersebut perekonomian kalangan nelayan skala kecil terganggu, penghasilan mereka jauh berkurang, karena areal tempat mereka untuk mendapatkan kepiting maupun ikan dengan menggunakan alat tangkap ambai pancang, ambai apung dan bubu serta alat tangkap lainnya akhir-akhir menjadi lintasan kapal tonkang pengangkut berbagai peralatan proyek pengeboran minyak.

Selain itu, sejumlah kapal proyek yang digunakan untuk patroli di sekitar proyek maupun digunakan sebagai transportasi untuk para pekerja juga sering melintas pada areal tangkap nelayan, sehingga menimbulkan gelombang yang mengakibatkan proses penangkap kepiting serta berbagai jenis ikan tidak berjalan lancar.

"Proyek pengeboran minyak yang dilakukan Pertamina sudah berlangsung beberapa bulan lalu, namun hingga saat ini belum ada bantuan untuk nelayan, kegiatan mereka sangat mengganggu pendapatan nelayan, sebelum ada proyek ini, kami nelayan dari Hamparan Perak, Belawan dan Marelan, bisa berpenghasilan seratus hingga dua ratus ribu, tetapi sekarang jauh berkurang," ujar Tohir didampingi nelayan lainnya kepada wartawan di perairan Sungai Paluh Kurau, Kamis (29/9/2022).

Kalangan nelayan juga mengatakan, ketika kapal tongkang maupun kapal lainnya keluar masuk ke areal pengeboran minyak banyak sampah yang berada di dasar sungai naik kepermukaan dan sebagian masuk ke jaring maupun bubu para nelayan.

"Saat kapal melintas, jaring maupun bubu dipenuhi sampah, bukan ikan, beberapa waktu lalu jaring nelayan juga pernah ditabrak kapal, memang ada diberikan uang pengganti kerusakan tetapi tidak sesuai," lanjut Tohir.

Editor
: Robert/Eva
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com