Peluang Investasi UKM di Masa Pandemi

Serat Batang Pisang, Daun Nenas dan Rami untuk Bahan Baku Industri Ulos


148 view
Raya Timbul Manurung dan Eddin Sihaloho.
BAHAN SERAT: Inilh produk serat untuk benang bahan baku ulos, masing-nasing (kiri-kanan) dari sumber batang pisang, daun nenas dan daun rami. Inzet:  
Medan (SIB)
Kalangan surveyor dan konsultan jasa investasi serta praktisi bisnis usaha kecil menengah (UKM) di daerah ini, mendorong dunia usaha sektor industri tekstil untuk menjajaki investasi dan peluang bisnis pengolahan serat-serat alami menjadi bahan baku kain tenun ulos Batak secara berkesinambungan (ready stock).

Konsultan investasi Ir Raya Timbul Manurung MSc selaku pemerhati industri tekstil, dan praktisi bisnis UKM sektor pariwisata Eddin Sihaloho selaku kolektor 33 jenis Ulos Batak khusus 'produksi' rumpun marga Silahisabungan, secara terpisah menyebutkanmasa hening publik akibat pandemi Covid-19 bisa dijadikan momen kajian atau riset penjajakan produk-produk berpotensi untuk dijadikan serat benang yang bersumber dari tetumbuhan sekitar lingkungan sendiri.

"Banyak tanaman yang bisa menjadi sumber serat atau benang bahan baku pembuatan ulos, antara lain batang atau pelepah pisang, daun nenas, daun rami, batang melinjo dan lainnya. Tanaman ini tumbuh subur semarak di radius dekat halaman atau rumah, tapi tidak dimanfaatkan untuk olahan hilir menjadi produk benang atau serat untuk bahan baku pembuatan ulos dan kain-kain. Kita atau investor hanya perlu polesan teknologi untuk mencapai kualitas standar pembuatan kain tenunan (ulos) itu," ujar Raya Timbul Manurung kepada pers di Medan, Sabtu baru-baru ini.

Sembari menunjukkan referensi ilmiah dan ensikopledi riset dari tim mikorobiologi Unpad Bandung (Februari 2016), Raya Timbul menyebutkan pohon rami (Boehmeria Nivea) adalah salah satu jenis tanaman asli Indonesia namun sejak 6.000-an tahun lalu sudah digunakan untuk bahan baku tekstil pengganti kapas di sejumlah negara seperti Bangladesh, Belanda, India dan Tiongkok. Unsur yang bisa dijadikan serat atau benang dari pohon ini adalah daun, kulit dan akarnya.

Di Indonesia, serat dari rami sudah digunakan untuk industri tekstil sejak zaman kolonial Belanda. Tanaman ini tumbuh di Jawa Barat yang disebut haramay. Di Sumatera Barat khususnya Minangkabau disebut romin atau kelu, dan di Sulawesi disebut gambe. Rami merupakan spesies berumpun yang tumbuh tahunan di berbagai kondisi lahan dengan tingkat adaptasi lingkungan yang kuat serta relatif tahan serangan hama. Serat dari rami umumnya dijadikan bahan kain tenda, gorden, handuk, terpal, lapisan wol, bahkan untuk pembuatan uang kertas dan parasut militer.

"Untuk bahan baku serat atau benang dari daun nenas, sudah diuji dan diproduksi secara lokal di Sulawesi. Padahal di Sumut, hampir di semua daerah kabupaten ada ladang nenas, tapi daunnya terbuang begitu saja jadi sampah. Begitu juga tanaman pisang yang banyak tumbuh bahkan di belakang rumah penduduk, serat dari kulit batang atau pelepahnya bisa dijadikan serat bahan baku ulos atau kain tenun lain. Selama ini lebih banyak dibuat untuk kuas," ujar Manurung sembari memaparkan hasil uji produksi serat daun nenas oleh Tim CSR Project Collaboration Improvement (PCP) PT Pertamina (April 2015) di Sulawesi Tengah.

Sebelumnya, hal senada juga dicetuskan Eddin Sihaloho, dalam temu diskusi Komite Independen Batak (KIB) dan Asosiasi Independen Surveyor Indonesia (AISI) yang dipandu Tagor Aruan, bahwa penjajakan peluang investasi pengolahan sumber bahan baku serat untuk industri ulos ini tidak harus ramai-ramai, tapi realisasinya setelah ekonomi aman dari pandemi.

"Ada lima urgensinya. (1). Ide Gubernur Sumut Edy Rahmayadi agar India berinvestasi membangun pabrik benang di Sumut karena kita selama ini masih impor dari India (SIB 6/3). (2). Suplai sumber bahan baku alami seperti pohon pisang, nenas, melinjo dan rami sangat banyak tumbuh tersedia di Sumutyang perlu dikelola menjadi kebun produksi serat. (3). Kebutuhan benang sebagai bahan baku ulos terus meningkat, bahkan terungkap sudah 40 tahun lebih (SIB 18/3) walau produk kain pintalan modern terus bertambah di pasar konsumen. (4). Peluang buka lapangan kerja baru dan tenaga kerja bidang industri tekstil untuk mengurangi arus pengangguran, dan (5) Pengalihan alokasi biaya (APBN/APBD) untuk impor bahan baku selama ini (dari India) menjadi penguatan investasi dan ekspansi di daerah dan negeri sendiri. Kelima faktor kumulastif ini akan mewujudkan kesejahteraan sosial ekonomi pelaku UKM, bahkan bisa mendorong orang-orang non-Batak jadi berminat memproduksi ulos," ujar Eddin serius dan optimis. (A5/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Tag:ulos
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com