Undang Tokoh-tokoh Agama dan Marga Pada Hari Raya Idul Fitri

Tuan Syech Ali Akbar Marbun Banyak Bercerita Tentang Budaya dan Adat Batak


727 view
Tuan Syech Ali Akbar Marbun Banyak Bercerita Tentang Budaya dan Adat Batak
Foto SIB/Horas Pasaribu
FOTO BERSAMA : Pemimpin Pondok Pesantren Al-Kautsar Tuan Syech Ali Akbar Marbun foto bersama Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani Sormin,  Anggota DPD RI Pdt WTP Simarmata MA, Kapolrestabes Medan Kombes Pol Riko Sunarko, Uskup Agung Medan Emeritus Mgr AG Datubara OFMCap, Ketua DPW Punguan Pomparan Siraja Oloan Sanggam SH Bakkara, Pengusaha Sudarwo,  Ustadz Amiruddin, Zulfikar Hajar, Ustadz Amhar Nasution, Ketua Toga Manalu Kota Medan Ir Romein Manalu, Ir Gregorius Lumbanbatu dan lainnya foto bersama pada pertemuan tokoh agama dan tokoh marga di Pondok Pesantren Al Kautsar Jalan Pelajar Timur, Medan, Minggu (24/5). 
Medan (SIB)
Pemimpin Pondok Pesantren Al-Akutsar-Al Akbar Tuan Syech Ali Akbar Marbun mengundang tokoh-tokoh agama di kediamannya Jalan Pelajar Timur Kecamatan Medan Denai, Minggu (24/5). Pertemuan tersebut dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 H.

Tampak hadir Ustadz Amiruddin, Zulfikar Hajar, Ustadz Amhar Nasution, Anggota DPD RI/Ephorus HKBP Emeritus Pdt WTP Simarmata MA, Uksup Agung Emeritus Mgr AG Datubara, Ketua Sumatra Berdoa JA Ferdinandus, DR RE Nainggolan, Sudarwo (mewakili agama Budha, Ketua DPW Pomparan Siraja Oloan Sumut Sanggam SH Bakkara, Ketua Pomparan Toga Manalu Kota Medan Ir Romein Manalu, tokoh Katolik Gregorius Lumbanbatu. Hadir juga Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani Sormin dan jajarannya yang didampingi Kapolrestabes Medan Kombes Riko Sunarko.

Pertemuan sederhana itu tetap mengacu social distancing, mencuci tangan dan menggunakan masker. Tuan Syech yang akrab dipanggil Buya tersebut lebih banyak bicara tentang adat dan budaya Batak yang begitu kaya. Dia begitu bangga dengan budaya Batak terlebih Dalihan Natolu, yaitu:”Somba Marhula-hula, Elek marboru dan Manat Mardongan Tubu”.

Adat istiadat Batak tersebut diperkenalkan Buya kepada Kapolrestabes Medan Kombes Riko Sunarko yang baru beberapa hari menjabat di Medan. Dia bercerita bahwa orang Batak sangat berbudaya, terlihat sekilas seperti keras, padahal hatinya lembut. Terlihat dari lirik lagu Batak yang menceritakan tentang ibu dan ayah, membuktikan kelembutana hati orang Batak.

“Tidak ada konflik dan perpecahan, kalau ada perselisihan adatlah digunakan sebagai hukum. Tulang (paman/saudara laki-laki dari ibu) adalah orang yang paling dihormati, kalau ada perselisihan maka dipanggillah tulang untuk mendamaikannya, biasanya setelah didamaikan kedua belah pihak yang berseteru kembali bergandengan tangan,” terang Tuan Syech.

Menurut dia, oang Batak tidak membedakan agama, saya beragama Islam, tapi keluarga ibu dan bapak saya banyak yang Kristen. Ibu saya selalu mengajarkan adat istiadat, tulang atau hula-hula harus dihormati. Orang Batak akan tersinggung kalau dibilang tidak beradat, itu makanya sampai sekarang adat batak tetap lestari.

Perbedaan, suku agama dan ras itu kata Buya Ali Akbar Marbun tidak perlu dipertentangkanm karena itu adalah ciptaan Tuhan. Manusia diciptakan Tuhan berbeda-beda supaya mengenal satu sama lain. Untuk itu, setiap orang tidak boleh memaksakan kehendak, tidak boleh menceritain agama orang lain, tapi saling menghormati harus dikedepankan.

Anggota DPD RI Pdt WTP Simarmata mengatakan, dampak Covid-19 inni telah mengajak semua orang untuk mempererat persaudaraan dan saling tolong-menolong, bahkan solidaritas bersama tanpa membeda-bedakan suku, agama dan ras. “Pertemuan ini menunjukkan keindonesiaan yang luar biasa. Karena yang berkumpul ini lintas agama, ada Islam, Kristen, katolik, Budha, Hindu dan latar belakang etnik/suku. Inilah sebetulnya gambaran dari bangsa kita untuk bisa dipertahankan di masa akan datang,” kata WTP.

Kemajemukan ini kata WTP adalah pemberian Tuhan dan kekayaan serta kekuatan bangsa Indonesia. Karena kebersamaan selalu menjadi kekuatan dan keterpisahan akan membuat bangsa jadi lemah. “Buya Syech Ali Akbar marbun tidak hanya sebagai tulang saya juga sebagai guru yang wawasannya luas, banyak kebijakannya yang dapat dipelajari dari dia. Yang lebih membanggakan lagi, Buya bisa mempersatukan kita yang berbeda ini,” terangnya.

Sanggam Bakkara mengatakan, pertemuan ini punya arti yang sangat besar, karena hahdir semua tokoh-tokoh agama. Ini adalah buah karya nyata dari seorang Ali Akbar Marbun, tokoh seperti ini harus ada regenerasinya. Sehingga Ali Akbar Marbun lainnya mucul di Sumut di masa akan datang menjadi pemersatu bangsa. “Sumut dikenal sebagai miniatur Indonesia, tokoh-tokoh harus banyak terlibat untuk menjaga kodisifitas Sumut. Apabila kita bagaimana kita mencegah virus Corona ini,” terangnya.

Pada kesempatan itu, Tuan Syech mangulosi Kapolrestrabes Medan yang baru seraya mengucapkan selamat bertugas di Medan, kemudian mangulosi Anggota DPD RI Pdt WTP Simarmata dan pemgusaha Sudarwo dari etnis Tionghoa yang ikut memberi perhatian terhadap Ponpes Al Kautsar. (M10/f)


Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com