Vihara Tertua Kedua dan Sejarah Etnis Tionghoa di Pantaicermin

* Ratusan Warga Tionghoa dan Pengurus Yasora Ikuti Sembahyang di Vihara Dewi Kwan Im

285 view
Vihara Tertua Kedua dan Sejarah Etnis Tionghoa di Pantaicermin
(Foto Dok/Humas Yasora)
CENDERAMATA: Ketum Angsapura Medan Drs Ronald Tok menerima cenderamata dari Cundoro salah seorang Ketua Panitia Pembangunan Penambahan Vihara Dewi Kwan Im, usai memberikan dana partisipasi untuk kelanjutan penambahan vihara tersebut,  Kamis (02/11). 
Medan (SIB)
Ratusan warga Tionghoa dan umat Buddha dari Kota Medan, Tebingtinggi, Seirampah, Perbaungan bahkan dari provinsi lain seperti Jakarta dan Kalimantan mengikuti ritual sembahyang memeringati HUT Dewi Kwan Im di Vihara Dewi Kwan Im Jalan Menang, Desa Pantaicermin Kiri, Kecamatan Pantaicermin, Kabupaten Serdangbedagai (Sergai) Sumatera Utara, Kamis (2/11). Vihara itu juga disebut sebagai yang tertua kedua di Indonesia sekaligus bukti sejarah masuknya leluhur etnis Tionghoa ke wilayah Pantaicermin, Sergai.
Rombongan pengurus Yayasan Sosial Angsapura (Yasora) Medan dipimpin Ketua Umum Drs Ronald Tok bersama Sekum Dr Leo Mery MKes juga hadir yang disambut Panitia Pembangunan Penambahan Vihara Dewi Kwan Im, di antaranya Ketua Cundoro dan Toni, Sekretaris Tjun Lian serta Bendahara Herman dan Suhatman.
Unsur pengurus Yasora yang hadir antara lain Rustam Phanato, Robinson Tok, Yansen Wijaya, Loli Ankay, Iskandar Budiman, Rico dan Jandi Salim, Ketua Taman Damai Sejahtera (TDS) Ery Salim, Sie Kioh, Sukir, Bak Hing, Ismanto King Cumi Wati, juga tokoh pemuda Kedai Durian Acai yang akrab disapa Rudy.
Mereka berbaur bersama masyarakat Tionghoa dan umat Buddha dari berbagai daerah mengikuti ritual sembahyang di luar gedung maupun di dalam vihara. Ritual sembahyang itu di antaranya menggunakan hio kecil, dupa dan peralatan sembahyang lainnya.
Ketum Yasora Medan, Drs Ronald Tok usai menjalani ritual sembahyang menjelaskan, kedatangan pengurus Yasora atas undangan pengelola Vihara Dewi Kwan Im yang berdekatan dengan Vihara Angsapura. "Saya baru tahu ternyata Vihara Dewi Kwan Im di Pantaicermin ini sudah berusia di lebih 2 abad. Sudah sewajarnya dilakukan pembangunan vihara tambahan, mengingat jumlah pengunjung terus bertambah,” kata Ronald Tok.
Dalam kesempatan ini, Yayasan Angsapura juga berpartisipasi menambah dana untuk biaya pembangunan penambahan vihara tersebut. “Semoga partisipasi itu dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya," ujar Ronald Tok.
Toni, Ketua Panitia Pembangunan Penambahan Vihara Dewi Kwan Im menjelaskan, pembangunan telah dimulai dengan peletakan batu pertama yang dilakukan Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) RI Prof DR Yasonna Laoly SH MSc PhD beberapa waktu lalu.
“Kami sangat berterima-kasih kepada pemerintah maupun masyarakat khususnya Pantaicermin yang memiliki empati dalam menjaga toleransi dan kerukunan umat beragama. Terbukti sejak ratusan tahun Vihara Dewi Kwan Im berada di tempat ini tidak pernah terjadi hal-hal negatif yang membuat perpecahan di antara umat beragama,” ujar Toni.
Toni mengisahkan, penambahan Vihara Dewi Kwan Im itu berkat ide ide sahabatnya. “Mimpi saya yang mendapat wahyu dari Tuhan, saya ceritakan kepada teman-teman. Hingga akhirnya kami bergotong- royong membangun Vihara Dewi Kwan Im lebih besar lagi,” sebutnya.
Keinginan untuk membesarkan Vihara Dewi Kwan Im itu kata Toni atas panggilan Tuhan lewat wahyu yang diterimanya berturut- turut selama tiga kali. Hal itu pula membawa hikmah buat dirinya sehingga berkeinginan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan lebih intens lagi.
Sejarah Etnis Tionghoa di Pantaicermin
Toni menyebutkan, Vihara Dewi Kwan Im sudah sangat lama berdiri di Kecamatan Pantaicermin. Bahkan vihara itu konon sebagai vihara tertua kedua di Indonesia. Menurut cerita para generasi tua, leluhur etnis Tionghoa ratusan tahun lalu mulai masuk ke Kecamatan Pantaicermin lewat jalur laut, kemudian menetap.
Salah satu bukti sejarah keberadaan etnis Tionghoa di Kabupaten Sergai ratusan tahun lalu adalah Vihara Dewi Kwan Im yang berada persis di dekat sungai yang mengalir ke pantai.
“Inilah saatnya kita berpatisipasi buat Uma panggilan lain Dewi Kwan Im, agar penambahan gedung Vihara Dewi Kwan Im cepat selesai dan bisa dimanfaatkan lebih banyak lagi masyarakat Tionghoa datang untuk beribadah," tutup Toni.
Usai ibadah sembahyang itu, rombongan pengurus Yasora dan panitia pembangunan Vihara Dewi Kwan Im kemudian bergerak mengunjungi Vihara Angsapura yang hanya berjarak 8 meter dari Vihara Dewi Kwan Im. (**)

Penulis
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com