Bijaksana Dalam Ketidakpastian

Oleh Upasaka Madyamiko Gunarko Hartoyo

158 view
grid.id
Ilustrasi.
Pada umumnya, setiap orang sebenarnya memiliki rasa kepastian tentang cara hidup, bisnis sehari-hari, dan pergerakan ekonominya. Rasa kepastian ini memungkinkan kita untuk merasakan bahwa ada dasar yang kuat bagi kita, di mana kita dapat mempertahankan apa yang kita miliki dan mengejar impian lebih lanjut. Ini bisa menjadi kondisi psikologis dimana rumah, pekerjaan, dan tabungan kita membantu kita merasa bahwa kita mengendalikan hidup kita dan merasa aman. Perasaan yang sama dapat kita rasakan dalam suatu persahabatan, dalam hubungan seseorang dengan komunitas.

Namun ternyata setiap bentuk kenyamanan tersebut bertumpu pada fondasi yang sangat rapuh. Kenyataan yang baik tersebut tidak selamanya memberi kenyamanan, tanpa disadari diam-diam berubah ke sudut gelap kesadaran kita. Kondisi baik tersebut bisa membawa kita kepada lamunan di mana seolah hidup bisa diprediksi, diisi dengan semua rencana kita, seperti liburan bulan depan, keinginan pensiun yang terencana dengan baik, dan banyak lagi harapan lainnya. Jika kebenaran yang tidak menyenangkan ini diungkapkan ke pikiran sadar kita, kecemasan dan ketakutan kemudian mengacaukan rasa kesejahteraan yang sedang kita raih. Banyak di antara kita yang belum dilatih untuk menikmati fakta yang telah diperoleh, dan justru tidak dapat menyangkal bahwa seolah ketidakpastian adalah keadaan yang sebenarnya. Lebih buruknya banyak di antara kita tidak mampu berdamai dengan fakta tersebut.

Alam seringkali bersahabat dan mendukung keberadaan kita dengan memberi kita apa yang dibutuhkan untuk bertahan hidup dan berkembang. Namun tidak sedikit kondisi bagaimana alam mendatangkan malapetaka pada semua orang, menggagalkan tatanan sosial dan menciptakan kekacauan yang meluas yang mempengaruhi kehidupan jutaan orang. Terkadang ini adalah hasil dari tindakan langsung oleh manusia yang mengabaikan keseimbangan alam untuk mempertahankan kebiasaan hidup yang nyaman.
Saat ini, virus corona telah menjadi pandemi tak terbendung yang merenggut nyawa puluhan ribu orang. Pandemi telah membawa gangguan pada struktur ekonomi dunia dan rutinitas harian kita. Banyak di antara kita hidup dalam ketakutan, tidak tahu seperti apa kehidupan ini nantinya. Tentunya dunia akan terus berlanjut apapun yang terjadi. Ini bukan pertama kalinya dunia menyaksikan pandemi. Sementara itu, masalah yang tidak dapat diatasi menyebabkan banyak kesusahan. Kepanikan psikologis muncul dalam diri kita ketika kita dipaksa keluar dari zona nyaman dan merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak diketahui - seperti sejenis monster tak terlihat - melayang di atas kita yang tidak akan hilang dalam waktu dekat.

Kecemasan kolektif ini muncul karena ketidakmampuan kita merenungkan hakikat sebenarnya kehidupan, yang selalu berubah, terkadang menjadi lebih baik dan di saat lain menjadi lebih buruk. Ajaran Buddha memiliki kebijaksanaan yang sempurna untuk mempersiapkan diri menghadapi keadaan sulit seperti ini. Ini disebut Anicca (ketidakkekalan). Sang Buddha menyatakan bahwa segala sesuatu pada dasarnya bersifat sementara dan Beliau mendorong kita untuk merenungkan hal ini - saat kehidupan kita sedang stabil atau sedang tidak teratur. Dengan pemahaman seperti itu kita dapat menemukan keseimbangan, menyadari bahwa ketidakpastian adalah bagian dari kehidupan. Maka hidup tidak akan mengguncang kita saat ada yang buruk terjadi. Tidak hanya itu, pemahaman seperti itu akan memungkinkan kita untuk mengalami kebebasan batin yang terbebas dari rantai kemelekatan.

Apakah pandemi ini akan menghasilkan yang terbaik atau terburuk dalam umat manusia? Itu semua tergantung kita. Ini berarti kita harus bersama-sama membuat pilihan, sebagai satu keluarga manusia. Ego kita siap membawa kita ke arah ketidakpercayaan, menyalahkan, perpecahan, dan perlindungan diri. Atau kita dapat memilih untuk menggunakan ini sebagai waktu untuk melampaui batas ras dan kebangsaan, untuk saling membantu, dan untuk menyadari bahwa hanya ada satu keluarga manusia, di mana kita semua adalah bagiannya.

Saat ini, mereka yang kehilangan orang yang dicintai sedang mengalami banyak kesedihan. Mari menjadi teman mereka dan kirimkan doa kepada mereka sebagai tanda niat baik. Sebagian besar penduduk di setiap negara kehilangan haknya atau kesulitan memenuhi kebutuhan. Inilah orang-orang yang akan paling menderita. Bukankah menyenangkan jika ada lebih banyak kemurahan hati? (c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com