Cerita dari Rumah Jompo

Oleh Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo

739 view
Cerita dari Rumah Jompo
Foto: potowa.org
Panti Jompo (ilustrasi)
Opa tua menatap kosong saat berbicara tentang kehidupannya di salah satu sudut rumah jompo.

Sambil menghela napas panjang, Opa menceritakan masa mudanya yang menghabiskan waktu untuk terus mencari usaha yang baik untuk keluarganya, khususnya untuk anak anak yang sangat dicintainya. Sampai akhirnya mencapai puncak kesuksesannya, beliau bisa tinggal di rumah besar dengan segala fasilitas yang bagus. Semua anak-anaknya berhasil sekolah ke luar negeri dengan biaya yang tidak pernah dibatasi dan berkembang menjadi pribadi yang berhasil dalam pendidikan, bisnis dan juga dalam berkeluarga.

Tahun berganti, tibalah masa sebagai orangtua merasa sudah saatnya pensiun dan menikmati hasil panen. Namun istri tercinta yang selalu setia menemani meninggal dunia karena sakit mendadak. Sejak kematian istrinya, Opa hanya tinggal dengan para pembantu. Semua anak-anaknya tidak ada yang mau menemani, karena semuanya sudah mempunyai rumah yang besar.

Kehidupan rasanya telah hilang bagi Opa, tiada lagi yang mau menemani saat Opa memerlukannya. Dalam sebulan tidak sekali pun anak -anak mau menjenguk atau memberi kabar melalui telepon. Tiba tiba si sulung datang mengatakan kalau dia akan menjual rumah Opa karena selain tidak efisien juga Opa dapat tinggal bersamanya. Dengan hati berbunga Opa segera menyetujuinya karena tidak memerlukan rumah besar lagi tanpa adanya orang-orang yang dikasihi di sisinya.

Namun kenyataan tidak seperti yang dibayangkan setelah ikut dengan si sulung. Setiap hari si sulung sibuk sendiri dan kalaupun ada di rumah jarang menyapa Opa. Semua keperluan pembantu yang memberi. Beruntung semenjak muda Opa selalu hidup teratur, meskipun sudah tua tidak pernah sakit- sakitan.

Lalu Opa berpindah ke rumah anak lainnya, sambil berharap akan mendapatkan sukacita di dalamnya, tapi rupanya sia-sia. Yang lebih menyakitkan semua alat-alat untuk dipakai Opa diganti. Mereka sediakan peralatan dari kayu dengan alasan keselamatan Opa, tapi sebetulnya mereka takut kalau Opa memecahkan alat mereka yang mahal. Setiap hari Opa makan dan minum dari alat alat kayu atau plastik yang sama dengan yang mereka sediakan untuk anjing peliharaan mereka. Setiap hari Opa makan dan minum sambil mengucurkan airmata dan bertanya dimanakah hati nurani anaknya.

Akhirnya Opa tinggal dengan si bungsu, anak yang sangat Opa kasihi melebihi yang lainnya. Karena dahulu dia adalah anak yang memberikan sukacita pada keluarga. Tapi apa yang Opa dapatkan? Setelah beberapa lama tinggal disana, si bungsu dan istrinya mendatangi Opa untuk mengatakan bahwa mereka akan mengirim Opa tinggal di Panti Jompo dengan alasan supaya Opa punya teman berkumpul.

Mereka berjanji akan selalu mengunjungi Opa. Namun sudah dua tahun berlalu tidak sekalipun mereka datang mengunjungi Opa, apalagi membawa makanan kesukaan Opa. Hilang semua harapan tentang anak- anak yang Opa besarkan dengan segala kasih dan kucuran keringat.

Cerita yang dibagikan Upasaka Pandita Sehi Vidyananda memberikan pelajaran pada kita bahwa selain harta duniawi, yang lebih penting adalah harta spiritual, ajaran yang baik dan benar kepada anak anak kita. Dengan spritual yang bagus, kita tidak tergantung orang lain untuk bahagia. Di sini kita lihat betapa pentingnya menanamkan kuat ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi contoh yang baik dan benar untuk anak-anak. Ajarkanlah pemahaman tentang hukum karma, bakti seorang anak dan hukum sebab akibat serta keagungan ilmu spiritual lainnya.

Orang tua harus mampu memberi contoh teladan untuk anak-anaknya dalam hal "bakti pada ortu" , sesuatu yang diperbuat pada orang tua akan dicontoh anak-anaknya. Bawalah anak-anak bersama-sama mengikuti aktifitas keagamaan, kegiatan sosial di panti jompo dan panti sosial. Seringlah bawa keluarga berkunjung ke rumah kakek nenek. Sediakan waktu yang cukup untuk keluarga, jangan terlalu banyak waktu habis untuk bekerja, sehingga tersedia waktu yang cukup untuk menjalin ikatan batin yang kuat antara anak dan orang tua. (c)

Penulis
: Redaksi
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com