Hakikat Waktu

Oleh Upa.Madyamiko Gunarko Hartoyo

204 view
tacticalstudent.com
Ilustrasi.
Lihatlah kehidupan saat ini, semuanya bergerak begitu cepat dan tampaknya sulit untuk kita imbangi. Banyak di antara kita mencoba untuk menemukan kepuasan, tetapi tidak peduli seberapa besar upaya yang kita lakukan. Tampaknya hampir tidak ada kemajuan untuk mencapai kepuasan tersebut. Hingga akhirnya kita menyadari bahwa sebenarnya kita tidak mampu mengikuti perubahan waktu yang cepat dan membingungkan saat ini. Hal ini terutama dikarenakan pekembangan dunia digital, khususnya arus informasi yang begitu terbuka dan cepat.

Kecepatan waktu saat ini terlalu cepat bagi pikiran kita untuk mengimbanginya, sehingga seolah kita merasakan adanya celah antara kita dan waktu. Karena celah itu, kita menjadi merasa hidup benar-benar terpisah dari alam semesta lainnya. Perasaan kita menjadi tidak enak, merasa tidak nyaman, kesal atau sedih dan ingin melarikan diri dari hiruk pikuk yang ada.

Namun jika melihat dengan cara yang benar, kita akan melihat hakikat waktu yang sebenarnya sebagai suatu ketidakekalan. Melihat ketidakkekalan bukanlah untuk menghadapi semacam nihilisme yang mengarah pada keputusasaan. Hal ini lebih ditujukan untuk menjadi diri sendiri sebagaimana adanya dengan melihat lebih terbuka dengan bahagia.

Buddha mengajarkan bahwa untuk mengikuti Jalan Mulia Berunsur Delapan dan mencapai pembebasan dari penderitaan, pertama-tama kita harus melihat dengan cara yang benar dan kemudian kita harus berpikir dengan cara yang benar. Kemudian menuju kepada bagaimana kita dapat membebaskan diri kita sendiri melalui aktivitas ucapan, perilaku, mata pencaharian, usaha, memiliki pikiran yang tenang dengan meditasi, dan memusatkan kekuatan hidup manusia. Untuk hidup dalam kedamaian dan harmoni kita harus melihat dan berpikir tentang kehidupan dengan cara yang benar.

Berpikir dengan cara yang tepat bukanlah memahami kehidupan melalui kecerdasan kita, namun merenungkan secara mendalam bagaimana kehidupan setiap hari dengan kebijaksanaan. Ketika kita melihat hakikat sejati waktu dan memahami bagaimana ketidakkekalan bekerja dalam hidup kita, kita dapat menggunakan waktu untuk mengembangkan hidup dan mengikuti tempo hidup tanpa merasa putus asa. Itu adalah dasar dari cara hidup manusia yang lengkap.

Kebanyakan kita tidak dapat memperoleh pikiran kesadaran spiritual dan mencari jalan tanpa memahami secara mendalam bahwa satu hari terdiri dari jutaan bahkan miliaran momen. Ksana, waktu sesaat sebagaimana istilah Buddhist untuk waktu yang paling terkecil dalam bahasa Sansekerta. Satu jentikan jari memiliki enam puluh momen, jadi satu jentikan jari sama dengan enam puluh ksana. Sebuah kamus Buddhis mengungkapkan bahwa satu momen sama dengan tujuh puluh lima detik. Angka sebenarnya tidak terlalu penting, tetapi kita harus mengetahui seberapa cepat waktu berjalan.

Menurut ajaran Buddha, semua makhluk di alam semesta muncul dan menghilang dalam sekejap. Istilah ketidakkekalan mengungkapkan fungsi momen, atau kemunculan dan lenyapnya semua makhluk sebagai momen. Ini berarti bahwa semua kehidupan bersifat sementara, terus-menerus muncul dan menghilang, terus berubah. Anda sementara, saya sementara dan mereka sementara. Semuanya sementara.

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak merasakan struktur waktu yang sementara karena pikiran rasional kita tidak dapat mengenali arus momen. Tempo waktu yang sebenarnya terlalu cepat bagi pikiran kita untuk mengimbanginya, sehingga kita merasakan adanya celah antara kita dan waktu. Kemudian, karena celah itu, kita merasa hidup benar-benar terpisah dari alam semesta lainnya. Ketika merasakan celah itu, kita hampir tidak tahan karena melampaui batasan kemampuan kita.

Pengukuran waktu tampak tidak relevan mengingat cara Buddhisme menjelaskan sifat waktu. Pada dasarnya, di sebagian besar aliran Buddhisme, dipahami bahwa cara kita mengalami waktu - yang mengalir dari masa lalu ke masa kini ke masa depan - adalah ilusi. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa pembebasan Nirwana adalah pembebasan dari ruang dan waktu. Menghadapi kerumitan kehidupan saat ini, sangat penting bagi kita melihat bahwa kehidupan manusia didasarkan pada ketidakkekalan. Waktu terus datang dan pergi , kita adalah saat ini. (d)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com