Hidup Itu Keras, Inilah Cara Mengatasinya

Oleh Upa Madyamiko Gunarko Hartoyo

131 view
Internet
Ilustrasi
Serangkaian ajaran Sang Buddha menawarkan kepada kita teknik ampuh untuk mengubah kesulitan hidup menjadi kebangkitan dan manfaat. Guru Zen Norman Fischer dalam penjabarannya memberikan kita suatu bimbingan melalui ajaran Buddha tersebut. Terdapat pepatah kuno Zen: seluruh dunia terbalik. Dengan kata lain, cara pandang dunia dari sudut pandang biasa yang kita pahami atau konvensional sebenarnya sangat berlawanan dengan kondisi dunia yang sebenarnya.

Terdapat sebuah cerita yang menggambarkan hal ini.Suatu ketika ada seorang guru Zen yang terkenal dengan sebutan Sarang Burung Roshi dikarenakan dia bermeditasi di sarang elang di puncak pohon. Dia menjadi sangat terkenal karena hal berbahaya yang dilakukan ini. Penyair Dinasti Song Su Shih (yang juga merupakan seorang pejabat pemerintah) suatu kali datang mengunjunginya dan, berdiri jauh di bawah guru yang bermeditasi tersebut, dan bertanya apa yang merasukinya untuk hidup dengan cara yang begitu berbahaya. Sang roshi menjawab, "Anda menyebut ini berbahaya? Apa yang kamu lakukan jauh lebih berbahaya! " Hidup normal di dunia, dengan mengabaikan kematian, ketidakkekalan, dan kehilangan dan penderitaan, seperti yang kita lalui sehari - hari secara rutin, seolah-olah cara yang normal dan aman untuk hidup, sebenarnya kehidupan kita tersebut jauh lebih berbahaya daripada keluar dari kehidupan untuk bermeditasi.

Meskipun mencoba menghindari kesulitan yang mungkin tampak wajar dan dapat dimengerti, namun sebenarnya sering kita tidak berhasil. Kita berpikir masuk akal untuk melindungi diri dari rasa sakit, tetapi perlindungan diri kita akhirnya menyebabkan rasa sakit yang lebih dalam. Kita pikir kita harus berpegang pada apa yang kita miliki, tetapi pegangan kita yang kuat menyebabkan kita kehilangan apa yang kita miliki. Kita terikat pada apa yang kita suka dan mencoba menghindari apa yang tidak kita sukai, tetapi kita tidak dapat menyimpan objek yang menarik dan kita tidak dapat menghindari objek yang tidak diinginkan. Jadi, meskipun mungkin berlawanan dengan intuisi, menghindari kesulitan hidup sebenarnya cara hidup yang berbahaya tanpa kita sadari. Jika ingin memiliki kehidupan yang penuh dan bahagia, di saat-saat baik dan buruk, kita harus terbiasa dengan gagasan bahwa menghadapi kesulitan secara langsung lebih baik daripada mencoba melarikan diri darinya.

Hal ini bukanlah berarti kita berfokus pada kesulitan hidup. Namun ini merupakan pendekatan yang paling tepat menuju kebahagiaan. Tentu saja, jika kita dapat mencegah kesulitan, kita melakukannya. Dunia mungkin terbalik, tetapi kita masih harus hidup di dunia yang terbalik ini, dan kita harus menjalankannya dengan sejumlah kondisi yang tidak dapat kita hindari. Ajaran tentang mengubah keadaan buruk menjadi sang jalan tidak menyangkal hal tersebut. Namun dipahami sebagai sikap yang mendasari kecemasan, ketakutan, dan kesempitan yang membuat hidup kita tidak bahagia, takut, dan kecil sehingga kita dapat memahami jalan berhentinya sumber penderitaan.

Mengubah keadaan buruk menjadi sang jalan dikaitkan dengan praktik kesabaran. Terdapat sejumlah latihan pikiran dapat kita gunakan yakni mengubah semua musibah menjadi jalan setapak yang tetap harus dijalani, bersyukur kepada semua orang, melihat kebingungan melalui jalan buddha dan mempraktikkan makna ketidakkekalan, berbuat kebaikan, menghindari kejahatan dan melatih pikiran untuk suatu bantuan.

Kesabaran adalah kapasitas untuk menyambut kesulitan ketika datang, dengan semangat kekuatan, daya tahan, kesabaran, dan martabat daripada rasa takut, kecemasan, dan penghindaran. Tidak ada dari kita yang suka ditindas atau dikalahkan, namun jika kita bisa menahan penindasan dan kekalahan dengan kekuatan, tanpa merengek, kita dimuliakan olehnya. Kesabaran memungkinkan hal ini. (c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com