Renungan Buddha Dhamma

Kebahagiaan Nibbana

Oleh Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo

277 view
PNGWing
Ilustrasi
Dahulu kala, Bodhisatta turun dari alam Brahma terlahir sebagai Bodhi-kumara. Ketika tumbuh dewasa, di luar kemauannya, kedua orang tuanya mencarikannya seorang gadis untuk dijadikan sebagai istri. Gadis ini juga turun dari alam Brahma yang terlahir di dunia ini, dan memiliki kecantikan yang luar biasa seperti seorang peri.

Kedua manusia ini dinikahkan meskipun mereka tidak menginginkannya. Mereka pun tidak melihat satu sama lain dengan pandangan yang penuh nafsu, atau melakukan perbuatan semacamnya di saat mereka tidur. Demikian mereka menjaga sucinya kehidupan mereka tersebut.

Tidak lama kemudian orang tua Bodhi-kumara meninggal dunia. Keduanya tidak menginginkan harta kekayaan yang ditinggal orang tua mereka dan lebih memilih menjadi petapa untuk mencari perlindungan. Mereka berdua akhirnya mendermakan kekayaan mereka dan pergi ke suatu tempat yang menyenangkan di Himalaya menjalani petapaan. Di sana mereka bertahan hidup dengan memakan buah-buahan liar dan tinggal selama sepuluh tahun. Walaupun demikian mereka tidak mencapai tingkat kesucian apapun.

Setelah tinggal di sana selama sepuluh tahun, mereka pergi ke pedesaan untuk memperoleh bumbu garam yang akhirnya membawa mereka sampai ke Kota Benares, dimana mereka tinggal bertapa di taman kerajaan tersebut menghabiskan waktu mereka dalam kebahagiaan menjalani kehidupan suci.

Ketika raja melewati taman tersebut, ia melihat mereka berdua yang sedang duduk bertapa di sana. Di saat matanya memandang ke arah wanita yang menyenangkan dan cantik, raja menjadi jatuh cinta kepadanya. Dipenuhi dengan nafsu, raja bertanya apa hubungannya dengan petapa laki-laki tersebut. Bodhisatta menjelaskan kepada raja bahwa petapa wanita tidak ada hubungan apa-apa dengannya, hanya mengikuti dirinya menjalani kehidupan suci namun sebelum menjadi petapa, wanita tersebut adalah istirnya
Ketika mendengar ini, raja berpikir dalam dirinya sendiri meyakinkan bahwa wanita tersebut sekarang tidak ada hubungan apa-apa dengan petapa pria dan berkeinginan mengambilnya dengan kedaulatan kekuasaan seorang raja tanpa bisa ditolak petapa laki-laki.
Petapa pria yang mendengar permintaan raja menahan kemarahannya dengan menyampaikan bait berikut …."Sekali muncul, ia (kemarahan) tidak akan meninggalkan diriku, kehidupanku untuk waktu yang lama, tidak, tidak sama sekali: Seperti hujan badai yang membasahi debu lagi, hancurkanlah ia (kemarahan) sewaktu masih kecil."

Demikianlah Sang Mahasatwa memberikan jawabannya dengan suara yang sekeras auman singa. Tetapi walaupun telah mendengarnya, raja tidak dapat mengendalikan gejolak hatinya dikarenakan kebutaannya, dan ia memerintahkan salah satu pengawalnya untuk membawa petapa wanita itu ke istana. Dengan keadaan menangis dan meratap, petapa wanita dibawa ke dalam istana. Bodhisatta yang mendengar teriakannya hanya menoleh sekali.

Kemudian raja Benares cepat kembali ke dalam istana menyuruh pengawal untuk membawa wanita itu dan memberikannya kedudukan yang terhormat. Namun petapa wanita tersebut hanya mengatakan bahwa kehormatan yang demikian itu tidak ada gunanya, memperbandingkan manfaat menjalani kehidupan seorang petapa.

Raja yang merasa tidak dapat memenangkan hatinya dengan cara apapun, mengurungnya di ruang yang terpisah. Raja mulai berpikir bagaimana di dalam istana ada seorang petapa wanita yang tidak peduli dengan segala kedudukan kehormatan, dan di luar ada seorang petapa laki-laki yang tidak menunjukkan wajah marah meskipun membawa paksa petapa wanita. Raja khawatir hal tersebut adalah tipu daya dari para petapa dan sedang merencanakan sesuatu untuk melukai dirinya. Raja memutuskan kembali menemui petapa pria dan mencari tahu.

Tanpa melihat raja, petapa tersebut duduk menjahit bajunya. Raja berpikir petapa tidak akan berbicara karena sedang marah dan telah berbohong tidak akan membiarkan kemarahan muncul. Dengan pemikiran ini, raja mengungkapkan kenapa petapa mengucapkan omong kosong dengan duduk menjahit menjadi tuli disebabkan kemarahan.

Ketika Sang Mahasatwa mendengar ini, ia menunjukkan kepada raja bahwa ia tidak sedang dikuasai oleh kemarahan dengan mengucapkan kembali bait yang disampaikannya "…… Sekali muncul, kemarahan tidak akan pernah meninggalkan diriku, …. menghancurkannya sewaktu ia masih kecil."

Petapa tersebut mengungkapkan pada Raja bahwa kemarahan membawa banyak penderitaan dan kehancuran. Dengan memunculkan perasaan yang baik atau gembira dapat menghancurkannya, dan kemudian ia memaparkan penderitaan dari kemarahan.

"Benda dilihat dengan jelas tanpanya, seseorang menjadi seperti buta dengannya, …menimbulkan kepuasan terhadap musuh kita yang menginginkan penderitaan menimpa diri kita,…. menghancurkan berkah dalam diri seseorang yang membuat tipuannya membebaskan setiap hal yang berharga, besar, merusak,…. dengan sekumpulan hal menakutkan pernah muncul dalam diriku, tetapi tidak dibiarkan bebas-kemarahan, muncul dari kebodohan. "

Petapa kemudian melanjutkan uraiannya bahwa api kemarahan akan berkobar lebih besar jika ditambah minyak dan dikarenakan api menjadi lebih besar, minyak itu sendiri pun terbakar. Seseorang yang membiarkan kemarahannya berkembang seperti api dengan minyak dan rumput yang tumbuh liar, seperti bulan di kegelapan di malam hari, demikian pula kehormatannya berkurang dan membusuk.

Setelah mendengar ajaran Sang Mahasatwa, raja menjadi merasa sangat senang dan membawa petapa wanita itu kembali. Kemudian mengundang petapa yang tidak memiliki nafsu kemarahan itu untuk tetap tinggal di taman bersama dengan dirinya. Dalam kebahagiaan mereka menjalani kehidupan suci seraya berjanji untuk melindungi dan menjaga mereka seperti yang seharusnya dilakukan. Kemudian ia meminta maaf dengan sopan dan pergi. Hanya mereka berdua yang tinggal di taman itu .

Seiring berjalannya waktu, petapa wanita itu meninggal. Setelah ia meninggal, petapa laki-laki itu kembali ke Gunung Himalaya. Dengan mengembangkan kesaktian dan pencapaian meditasi, dan membangkitkan kesempurnaan dalam dirinya, kemudian ia terlahir di alam Brahma.

Uraian cerita Jataka di atas mengambarkan pada kita bagaimana mereka yang mencapai kebahagiaan Nibbana. Bagaimana nafsu harus dikendalikan, karena penyebab perbuatan jahat tidak boleh memiliki tempat di dunia ini ataupun di kehidupan yang akan datang. Seseorang yang telah mendalami ajaran Sang Buddha Yang Maha Tinggi dapat mengendalikan nafsu keinginan mereka dan mencapai kebahagiaan Nibbana.

Dalam Manggala Sutta, tersebut jelas mencapai Nibbana merupakan berkah tinggi yang mampu memberikan kebahagiaan. Seseorang yang mencapai Nibbana akan merasakan kenikmatan, kebahagiaan, dan ketenangan yang tak terbandingkan. Pencapaian Nibbana diperoleh dalam bentuk keinginan dimusnahkan dan pemadaman api nafsu keinginan (Lobha), kebencian (Dosa), dan khayalan (Moha). Bila semua keinginan dimusnahkan, daya kemampuan Kamma berhenti bekerja, dan seseorang mencapai Nibbana, terlepas dari lingkaran kelahiran dan kematian.(c)
Penulis
: redaksisib