Renungan Buddha Dhamma

Kebahagiaan dari Orang Tua

Oleh Madyamiko Gunarko Hartoyo

294 view
PxHere
Ilustrasi
Dalam deretan tiga puluh delapan berkah Manggala Sutta, menyokong orang tua merupakan salah satu berkah utama. Bahkan orang bijak di masa lampau meskipun ditawarkan satu kekuasaan untuk memimpin seluruh negeri yang luas, menolaknya dan memilih untuk menyokong orang tua mereka.

Diceritakan dahulu kala di Kota Benares, terdapatlah seorang brahmana hartawan yang sangat kaya tetapi tidak memiliki seorang putra. Hingga akhirnya, Bodhisatta, yang beranjak meninggalkan alam brahma, terkandung di dalam rahim istri hartawan, dan dilahirkan dengan nama Sona. Di saat Sona mampu berlari, seorang makhluk lain lagi beranjak meninggalkan alam brahma dan juga terkandung di dalam rahim yang sama, dan terlahir dengan nama Nanda.

Saat bertumbuh dewasa, Sona menolak tawaran orang tuanya untuk sebuah ikatan perkawinan karena dirinya sudah merasa cukup dengan kehidupan duniawi yang telah dinikmatinya dan berkeinginan menjaga kedua orang tuanya hingga wafat nantinya kemudian meninggalkan keduniawian menjadi seorang petapa.

Karena tidak berhasil membujuk Sona, mereka beralih menyampaikan kepada Nanda untuk menjalani kehidupan berkeluarga. Nanda juga menolak hal tersebut karena tidak mau menerima sesuatu yang ditolak oleh abangnya dan akan mengikuti abangnya menjadi seorang petapa. Mendapati kenyataan tersebut kedua orang tua mereka memutuskan untuk meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjalankan kehidupan petapa. Mereka pun mendermakan seluruh kekayaan, dan membagikan apa yang benar dan pantas diberikan kepada saudara-saudara mereka, dan mereka berempat menuju ke Himalaya memulai kehidupan sebagai petapa.

Mereka membuat satu tempat pertapaan di dalam hutan yang menyenangkan, di dekat sebuah danau yang ditumbuhi oleh lima jenis teratai, dan di sana mereka tinggal sebagai petapa. Dua bersaudara itu menjaga kedua orang tua mereka dengan menyiapkan segala bentuk kebutuhan dan melakukan pelayanan lain sepenuhnya.

Setelah beberapa lama berlalu dengan keadaan demikian, Yang Bijak Nanda berpikir akan menyediakan buah-buahan untuk ayah dan ibu yang dibawanya pada awal pagi untuk dimakan dan setelahnya melakukan puasa Uposatha. Sedangkan Yang Bijak Sona pergi jauh untuk mengumpulkan buah-buahan yang lebih manis dan masak, namun menyadari buah-buahan yang dibawanya tidak dibutuhkan karena lebih lambat sampai. Hari berikutnya juga terjadi hal yang sama, dan begitu seterusnya.

Sona menyayangkan Nanda yang membawakan buah yang belum masak maupun setengah masak dan khawatir akan menurunkan kesehatan orang tua mereka serta tidak akan dapat hidup untuk waktu yang lama. Oleh sebab itu, Sona meminta Nanda menunggu dirinya kembali terlebih dahulu dan bersama sama memberikan kepada orang tua mereka untuk dimakan. Namun karena menginginkan jasa kebajikan untuk dirinya sendiri, Nanda tidak mengindahkan perkataan saudaranya. Akhirnya Sona memutuskan mengusir Nanda karena tidak mau dinasihati agar menjaga kesehatan orang tua dan mengingat tanggungjawabnya sebagai putra sulung.

Setelah diusir demikian,Nanda melatih meditasi dan mengembangkan lima kesaktian serta delapan pencapaian. Nanda pun berpikir untuk bagaimana caranya memohon maaf kepada Sona dengan menyusun rencana membawa raja termasyhur di seluruh India memohonkan maaf untuknya. Dengan kesaktiannya, Nanda memberi keyakinan kepada raja Manoja akan mampu memerintah seluruh negeri, dengan menaklukan kerajaan lainnya tanpa mencucurkan darah siapa pun, tanpa menghabiskan harta kekayaan raja.

Raja mempercayai kata-katanya dan berangkat, dengan kekuatannya, Nanda menjadikan Raja Manoja sebagai raja termasyhur di seluruh India menghabiskan waktu selama tujuh tahun, tujuh bulan, dan tujuh hari untuk menaklukkan seluruh kerajaan yang ada.

Setelah beberapa waktu berlalu, Raja Manoja memikirkan kembali tentang kejayaan dan kekuasaannya sebagai hasil jerih payah Nanda dan berkeinginan memberikannya kekuasaan untuk memerintah seluruh India. Akan tetapi, jika Nanda adalah seorang dewa, raja akan memberikan penghormatan yang selayaknya diberikan kepada seorang dewa. Memahami hal tersebut, Nanda akhirnya menjelaskan keinginannya agar raja berkenan membantunya menemukan kedua orang tuanya yang tinggal bersama saudara sulungnya, seorang bijak bernama Sona agar dirinya bisa mendapatkan jasa kebajikan dari orang tuanya.

Akhirnya Nanda dipertemukan dengan saudara sulungnya Sona, Raja Manoja dengan segala kebesarannya diikuti oleh seratus satu raja penaklukannya, memohon kepada Sona untuk memaafkan saudaranya. Nanda pun menyampaikan niatnya bahwa pelayanan yang baik kepada orang tua telah lama dilakukan oleh Sona, dan minta diberi kesempatan untuk memperoleh jasa kebajikan agar dapat terlahir di alam menyenangkan dengan memberikan pelayanan dan kebahagiaan orang tua mereka.

Sona pun menjelaskan bahwa siapapun berbuat buruk terhadap orang yang lebih tua, akan terbakar, terlahir di alam neraka dan kewajiban utama tersebut terletak pada yang paling tua. Dan seperti nahkoda yang mengemudikan laju sebuah kapal, Sona tidak akan pernah meninggalkan kebenaran tidak mengurus kedua orang tuanya. Demikianlah, walaupun para raja telah sekian lama berada di pihak Nanda dengan menyaksikan hasil dari kekuatan gaibnya, tetapi kali ini hanya dengan kekuatan dari kebijaksanaan Sona, para raja berpaling dari Nanda dikarenakan mereka dapat menerima perkataannya.

Nanda menyadari abangnya Sona adalah orang yang cendekia dan pandai dalam memaparkan kebenaran telah memenangkan hati para raja tersebut dan membuat mereka beralih kepadanya. Akhirnya Nanda meminta permohonan sendiri untuk menjadi seorang pelayan yang siap menjalankan semua perintah Sona. Mendengar hal ini, Sona menjadi amat gembira karena berhasil menurunkan kesombongan diri adiknya, dan memperbolehkannya menjaga ayah dan ibu dan meminta kedua orang tuanya menentukan apakah mengizinkan dirawat Nanda mengamalkan kehidupan suci.

Akhirnya Nanda mendapatkan bagian dari seorang anak tertua mengurus seorang ibu sedangkan ayah tetap dilayani oleh Sona. Sona yang merupakan Bodhisatva dalam kehidupan sebelumnya, kembali mengingatkan jika seseorang mengabaikan orang tuanya, tidak merawatnya, tidak ada lagi tempat berakhir lain yang diharapkannya selain neraka.

Cerita tersebut mengambarkan kepada kita bagaimana menyokong orang tua merupakan rebutan orang orang yang bijak sebagaimana juga disebut dalam Manggala Sutta. Orang yang mengabaikan ibu dan ayahnya akan segera amat menyesali akibatnya. Kebahagiaan, kegembiraan, canda tawa, dan kesenangan adalah hal yang pasti didapatkan oleh seseorang yang merawat ibu dan ayahnya di hari tua mereka. Atas pelayanan anak terhadap orang tua, seseorang bijak dalam kehidupan ini akan berlimpah ruah dengan kebahagiaan, demikian juga setelah meninggal, menerima kebahagiaan di surga. (c)
Penulis
: redaksisib