Keinginan Yang Tidak Wajar

Oleh : Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo

109 view
https://static.inilah.com
Ilustrasi
Saat makanan yang kita makan terasa tawar, pastinya menambahkan garam ke dalamnya akan jadi lebih nikmat. Namun, kita semua setuju bahwa menambahkan garam yang banyak justru akan menjadikan makanan kita sangat asin, bahkan bisa tidak termakan.

Orang-orang yang serakah memahami ibarat kalau ditambahkan garam, masakan apa pun akan menjadi lebih enak. Dengan segera orang serakah meyakini bahwa garamlah yang menjadi kunci kelezatan sebuah masakan dan orang serakah diibaratkan meminta secangkir garam dan dalam sekejap menuangkan semua isi cangkir tersebut ke dalam mulutnya. Tidak diduganya, ternyata garam itu menjadi terasa asin minta ampun dan langsung memuntahkannya dari dalam mulut. Hal ini bermakna bahwa seorang manusia sebaiknya menghindari sifat rakus dengan cara mengonsumsi makanan dalam takaran yang tepat karena dengan demikian, barulah tubuhnya berpotensi menjadi lebih sehat.

Kondisi ini memang terdengar sangat lucu. Benarkah ada orang yang mengambil garam begitu banyak hanya karena berpikir bahwa garamlah yang membuat masakan menjadi lebih enak? Anak kecil pun tidak akan melakukan kebodohan seperti itu. Tetapi satu hal di dalam cerita itu patut kita renungkan, keinginan untuk mencari kenikmatan sebuah masakan ternyata berasal dari diri kita masing-masing. Kemajuan budaya dan teknologi yang kita alami menjadikan banyak di antara kita memiliki pandangan yang berbeda mengenai hakikat kepuasan sejati. Kepuasan zaman sekarang seolah selalu hanya tertuju pada tempat tinggal yang megah, mobil mewah, makanan yang lezat, dan hiburan vang beraneka ragam, seakan akan kepuasan yang sifatnya permanen hanya berhasil dicapai ketika mereka mampu hidup enak, memiliki rumah besar, dan memakai baju yang bagus. Padahal pandangan tersebut sebenarnya sangat keliru.

Hal ini dikarenakan kebanyakan orang tidak menyadari bahwa di dalam dirinya masih diliputi oleh kekotoran-kekotoran batin, salah satunya adalah keserakahan. Kekotoran batin inilah yang merupakan keinginan yang tidak wajar karena seseorang dapat melakukan tindakan buruk untuk mencapai keinginannya sehingga dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Dalam agama Buddha, keserakahan dikenal dengan istilah lobha yang secara psikologi berarti terikatnya pikiran oleh objek-objek. Objek-objek yang dimaksud adalah objek-objek yang menyenangkan karena adanya kontak dari mata, telinga, hidung, lidah, badan dan pikiran. Seseorang yang memiliki keserakahan (lobha) terhadap kesenangan-kesenangan indra, harta, kedudukan dan sebagainya. Misalnya, seseorang yang sudah memiliki kekayaan, namun masih mempunyai keinginan untuk merebut harta orang lain karena tidak adanya kepuasan pada kepemilikan diri sendiri. Ia akan melakukan apapun untuk mencapai keinginannya termasuk melakukan tindakan yang tidak baik seperti mencuri, merampok dan korupsi yang merupakan peristiwa yang sering kita lihat dan kita dengar melalui media massa.

Memang kita ketahui bahwa, keserakahan adalah kekotoran batin yang sulit dilenyapkan secara total. Namun, hal ini dapat dicegah untuk berkembangnya keserakahan (lobha), dengan menggunakan sati (perhatian, kewaspadaan, kesadaran), berusaha untuk tidak selalu menuruti keinginan, merenungkan untung dan rugi dengan menggunakan pañña (kebijaksanaan), membangkitkan hiri (malu berbuat jahat) dan ottapa (takut akan akibat dari perbuatan jahat), mengembangkan ajaran kebenaran/Dhamma yang berlawanan dengan lobha, seperti berdana (Ajitamanavasa, Solasa panha).

Lobha atau keserakahan tidak akan muncul jika tidak ada kondisi yang sesuai dan pada seseorang yang memiliki sati (perhatian yang murni, kewaspadaan, kesadaran). Oleh karena itu, seseorang hendaknya memilki perhatian, kewaspadaan, kesadaran terhadap apa yang dilihat, didengar, dicium (bau), dikecap, disentuh dan yang dipikirkan. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah munculnya tindakan buruk sebagai akibat dari pikiran yang tidak baik, salah satunya adalah pikiran yang disertai dengan keserakahan.

Berusahalah untuk tidak selalu menuruti keinginan dengan berusaha untuk merasa puas (santutthi) dengan apa yang dimiliki, hidup sederhana dan berkecukupan tanpa harus memiliki banyak keinginan. Kita dapat merasakan kepuasan dan kebahagiaan dengan membatasi keinginan-keinginan kita. Perasaan puas dan bahagia ini akan mengkondisikan pikiran menjadi damai dan tenang. Namun, bila kita serakah dan selalu ingin lebih akan mengakibatkan pikiran menjadi kacau dan tidak sehat. Tidak lagi mengenal kedamaian.

Sebagai manusia biasa kita tentunya masih mempunyai keinginan. Namun, kita dapat bijaksana mengoreksi keinginan tersebut. Apakah merupakan keinginan yang wajar, bermanfaat dan cara yang akan digunakan untuk mencapai keinginan itu adalah cara yang baik sehingga tidak merugikan baik diri sendiri maupun orang lain atau sebaliknya. Bagi orang yang bijaksana akan mengetahui apa yang baik dilakukan dan apa yang tidak baik untuk dilakukan. Ia akan melakukan usaha yang benar, bermata pencaharian yang benar untuk mencapai keinginannya. Namun sebaliknya, bagi orang yang tidak memiliki kebijaksanaan dalam mencapai sesuatu. Ia hanya akan membahayakan dirinya sendiri dan orang lain, seperti syair Dhammapada berikut: Kekayaan dapat menghancurkan orang bodoh, tetapi tidak dapat menggoda ia yang ingin mencapai pantai seberang (Nibbana). Keserakahan pada kekayaan dapat menghancurkan diri sendiri dan orang lain.

Hal lain yang juga dapat menekan kemunculan lobha adalah membangkitkan hiri dan ottapa yang sering kita kenal dengan pelindung dunia. Seseorang yang memiliki perasaan malu untuk melakukan perbuatan buruk, maka ia akan menjalankan sila dengan baik dengan menghindari tindakan-tindakan buruk, seperti mempraktikkan Pancasila Buddhis. Seseorang yang memilikinya adalah orang yang menghargai martabat dan kehormatannya, sedangkan perasaan takut (Otappa) akan akibat dari perbuatan buruk merupakan wujud dari keyakinan akan hukum kamma bahwa segala bentuk tindakan baik melalui pikiran, ucapan maupun perbuatan yang didasari oleh pikiran yang tidak baik akan mangakibatkan penderitaan. Demikian pula dengan segala bentuk tindakan, baik melalui pikiran, ucapan maupun perbuatan yang didasari oleh keserakahan akan membawa pada penderitaan baik pada saat sekarang maupun yang akan datang.

Membiasakan diri untuk berdana/ sedekah merupakan latihan untuk melepas apa yang kita miliki, untuk mengurangi kemelekatan yang membelenggu batin, untuk meringankan penderitaan orang lain. Hal ini dilakukan untuk mengurangi keegoan kita dan mengembangkan kepedulian kita terhadap orang lain serta untuk mengikis sifat keserakahan.

Keserakahan (lobha) merupakan kemelekatan yang sangat berlebihan terhadap sesuatu sehingga membuat pikiran selalu merasa lapar, serakah dan tidak puas dengan apa yang telah dimiliki. Keserakahan muncul ketika bertemu dengan kondisi yang sesuai, yakni adanya kontak antara indra-indra dengan objek-objek yang menyenangkan. Keserakahan sulit dilenyapkan, namun dapat kita tekan kemunculannya dan perkembangannya serta kita dapat mengikisnya dengan sati, santutthi, pañña, hiri dan ottapa serta berdana. Oleh karena itu, kita hendaknya mempraktikkan Dhamma dengan baik sehingga kita dapat melenyapkan keserakahan dan kebahagiaan sejati dapat kita capai. (c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com