Renungan Buddha Dhamma

Kekuatan Tata Susila

Oleh Madyamiko Gunarko Hartoyo

322 view
vippng
Ilustrasi
Dalam Manggala Sutta juga disebutkan disiplin moral dengan terlatih dalam menjaga tata susila adalah salah satu berkah untuk kebahagiaan seseorang. Segala sesuatu yang dikerjakan dengan menjaga moralitas tinggi dan kebijaksanan akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar.

Cerita dalam Sila Vimamsa Jataka berikut memberikan kita pemahaman bahwa seseorang yang memiliki tata susila yang baik akan mendapatkan manfaat besar darinya. Pada suatu ketika seorang Brahmana kerajaan ingin menguji seberapa besar kekuatan moralitas yang telah dimilikinya. Untuk mengujinya, ia pun mencuri satu keeping uang logam selama dua hari berturut-turut dari tempat penyimpanan harta kerajaan.

Akhirnya, pada hari ketiga dirinya tertangkap dan dibawa ke hadapan raja atas tuduhan melakukan pencurian uang kerajaan. Dalam perjalanan menuju istana, brahmana tersebut sempat melihat seorang pawang ular yang mampu membuat seekor ular menari-nari. Kejadian tersebut mejadikan dirinya tercerahkan.

Sesampai di istana, Sang Raja menanyakan hal apa yang mendorong brahmana melakukan pencurian. Degan tegas, brahmana membalas kemarahan raja melalui ungkapan "Untuk menguji kekuatan moralitas diriku." Kemudian, dia mengambarkan maksudnya dengan uraian fenomena pawang ular yang disaksikannya.

Moralitas itu menyenangkan-demikian yang terpikir.

Moralitas di seluruh dunia dianggap tinggi.

Lihatlah, ular yang mematikan ini tidak mereka bunuh.

'Karena dia adalah yang baik,' kata mereka.

Ungkapan tersebut jika kita pahami lebih mendalam, brahmana bermaksud mengambarkan bagaimana seekor ular yang dianggap beracun dan berbahaya tidaklah dibunuh oleh manusia di sekelilingnya seperti pada lazimnya. Hal ini dikarenakan ular yang menari mengikuti alunan suling pawangnya adalah ular yang baik. Kondisi tersebut mengambarkan moralitas ular tersebut mengalahkan persepsi yang ada bahwa seekor ular adalah binatang yang jahat dan mematikan mangsanya tanpa ampun. Kemudian sang brahmana melanjutkan syairnya:
Di sini saya katakan betapa terberkahinya moralitas
dan betapa menyenangkannya di dunia ini:
Dia yang bajik (memiliki moralitas) dikatakan
melewati jalan menuju kesempurnaan.
Kepada para sanak saudagar,
dia akan bersinar di antara mereka:
dan ketika badan jasmaninya hancur terurai,
akan terlahir kembali di alam surga.

Untaian kalimat indah tersebut mengambarkan betapa tingginya seseorang yang mampu menjaga tata susila ataupun moralitas.

Setelah melantunkan pujian terhadap moralitas dan memberikan wejangannya, sang brahmana kemudian menambahkan bahwa telah banyak yang diberikan oleh keluarganya kepada raja, barang-barang milik ayah ibunya dan juga apa yang brahmana miliki.

Setelah mengambil beberapa uang logam dari tempat itu untuk menguji nilai dirinya sendiri, di hadapan raja sang brahmana menyampaikan akhirnya sadar betapa tidak berharganya kelahiran dan keturunan ini, hubungan darah dan keluarga, ternyata yang paling baik adalah moralitas.

Ungkapan tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa seberapa banyakpun hal yang diberikan kepada seseorang oleh diri kita dan keluarga kita yang terpandang tidaklah lebih bernilai dari moralitas. Sang Brahmana akhirnya meninggalkan keduniawian dan pergi ke Himalaya, tempat dia menjalankan kehidupan sebagai petapa, mengembangkan pencapaian meditasi dan kekuatan gaib, sampai akhirnya terlahir di alam brahma.

Pemahamanan pentingnya menjaga moralitas diuraikan dalam Maha Parinibbana Sutta tentang lima bahaya bagi seseorang yang bermoral buruk, gagal dalam moralitas. Pertama-tama, ia akan menderita kehilangan harta-benda karena melalaikan tugas-tugasnya.

Kedua, ia akan mendapatkan reputasi buruk karena moralitas yang buruk dan perbuatan salah. Ketiga, kelompok apa pun yang ia datangi, apakah khattiya, brahmana, perumah tangga atau petapa, ia melakukannya dengan perasaan segan dan malu. Keempat, ia meninggal dunia dalam keadaan bingung. Kelima, setelah meninggal dunia, saat hancurnya jasmani, ia muncul di alam yang tidak baik, bernasib buruk, di alam menderita, di neraka.

Dengan kita selalu terlatih dalam tata susila/ bermoral maka kita akan mendapat berkah dalam kehidupan. Orang yang bermoral adalah orang yang bijaksana, kombinasi moralitas dan kebijaksanaan disebut paduan tertinggi di dunia bagaikan satu tangan mencuci tangan lainnya. Cerita tersebut di atas mengambarkan kepada kita bagaimana sesuatu yang telah dihasilkan/diberikan sirna seketika ketika moralitas dipertaruhkan. (d)
Penulis
: redaksisib