Ketakutan dan Cara Mengatasi Ketakutan

Oleh Upa.Madyamiko Gunarko Hartoyo

315 view
Net
Ilustrasi Rasa Takut.
Ketakutan merupakan bentuk emosi tidak menyenangkan yang muncul dikarenakan nafsu keinginan. Nafsu keinginan dan kemelekatan adalah penyebab banyak hal yang tidak bermanfaat, tidak menyenangkan, dan tidak baik dalam hidup ini. Karena kemelekatan, kita mengembara dalam samsara kehidupan, terbawa siklus kelahiran dan kematian. Sebaliknya, keadaan tanpa takut memberikan susasana kedamaian yang sempurna, ketenangan, dan kebahagiaan tertinggi.

Secara alami, semua mahluk mengalami ketakutan, takut akan masa kini, masa lalu atau masa depan. Hal ini dikarenakan semua makhluk berhubungan pada lima kelompok: bentuk, perasaan, persepsi, kehendak, dan kesadaran. Selama kita berpegang teguh pada lima kelompok unsur kehidupan ini, kita memiliki rasa takut. Bahkan, kita tidak hanya berpegang teguh pada lima kelompok kehidupan, tetapi juga banyak hal material dan yang tidak penting lainnya di sekitar kita. Karena itu, selama kita melekat, memahami, dan berpegang teguh pada hal-hal tersebut maka kita tidak akan luput dari rasa takut.

Jika memahami mentalitas saat ini, seseorang akan dapat melihat bahwa kita semua seperti laba-laba yang terjerat dalam jaring tenun sendiri. Kita menjalin jaring keterikatan dan harapan serta terjebak, yang menyebabkan kita menderita karena takut akan banyak hal berbeda tentang kita dan hal di sekitar kita. Misalnya, banyak orang tua takut anak-anak mereka pindah ke rumah sendiri setelah mereka menikah, keamanan pekerjaan, hutang dll. Pada saat yang sama, anak-anak sendiri takut akan kesehatan dan keamanan orang tua mereka, seperti takut akan penuaan, penyakit, dan kematian. Sampai batas tertentu, karena ketidakpercayaan suami dan istri mungkin takut bahwa pasangannya dapat meninggalkan mereka kapan saja dan banyak lagi faktor lain yang berkontribusi pada meningkatnya rasa takut pada individu. Ketakutan tidak muncul dengan sendirinya, tetapi dalam kombinasi dengan faktor-faktor lain, seperti kecurigaan, asumsi, kecemburuan, informasi yang menyesatkan, kesombongan, dan permusuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari, ketakutan terbesar sebagian besar orang adalah perpisahan dengan anggota keluarga mereka untuk sementara atau selamanya. Terutama, karena tidak siap untuk menerima kenyataan bahwa semua benda hidup atau mati tidak kekal (anicca). Seperti yang diajarkan Sang Buddha kepada kita, tidak ada yang pasti atau permanen.

Kebanyakan di antara kita hanya mengikuti arus/mengambang. Pada hal ajaran Sang Buddha tidak hanya mengambang, namun mengajarkan kita untuk berjuang dan keluar dari sungai menuju keadaan yang tidak ada rasa takut, kesedihan, rasa sakit, kesedihan, atau kekacauan sama sekali. Mereka yang telah mencapai kondisi itu akan menikmati kebahagiaannya.

Dalam Dhammapada, Sang Buddha menunjukkan apa yang terjadi ketika rasa takut muncul dalam pikiran orang-orang duniawi. Karena rasa takut akan banyak hal, mereka mencari keselamatan ke berbagai tempat perlindungan, ke gunung, hutan, taman, pepohonan dan berbagai tempat pemujaan. Sang Buddha menjelaskan tidak satu pun hal tersebut menjadi perlindungan yang aman.

Bukan dengan mengandalkan perlindungan seperti itu seseorang dibebaskan dari semua penderitaan.Tetapi orang yang telah pergi berlindung kepada Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha akan melihat kebijaksanaan sempurna. Empat Kebenaran Mulia tentang penderitaan, timbulnya penderitaan, melampaui penderitaan, dan Jalan Mulia Berunsur Delapan yang akan mengarahkan diri pada akhir penderitaan.

Sesuai dengan penjelasan di atas, ketika rasa takut menyerang seseorang tidak dapat memahami berbagai hal dengan jelas. Karena itu, seseorang tidak tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Akibatnya, mereka pergi ke banyak tempat perlindungan tanpa memahami tempat perlindungan yang sebenarnya.

Tidak hanya itu, dengan persepsi buruk, mereka memahami bahwa segala sesuatu sebagai miliknya, dan menganggap apa pun yang tidak kekal sebagai kekal. Itulah bahaya di dalam persepsi yang salah. Karena itu, dengan berusaha menghilangkan ketakutan, mereka mulai melakukan banyak jenis ritual. Ini karena mereka ketakutan akan kehilangan apa yang telah mereka pahami dengan ketidaktahuan (Moha). Sebagai hasilnya, mereka sepenuhnya terlibat dalam personalisasi, keraguan. Ritual sedemikian jauh terikat erat pada siklus kelahiran dan kematian (samsara).

Selain itu, karena ketakutan mereka percaya bahwa ada entitas permanen sebagai jiwa atau diri yang perlu dilindungi dan akan menyelamatkan mereka dari rasa takut. Mereka secara keliru berpikir bahwa bentuk ini adalah diri saya sendiri, perasaan adalah diri saya sendiri, persepsi adalah diri saya sendiri, bentukan kehendak adalah diri saya sendiri, dan kesadaran adalah diri saya sendiri.

Mereka ragu tentang diri mereka merujuk pada masa lalu, masa depan, dan masa kini. Mereka berpandangan sama sekali tidak ada jalan untuk mencapai jalan tanpa rasa takut. Seperti yang diajarkan Sang Buddha, seseorang harus memotong ketiga belenggu kebencian, keserakahan dan ketidaktahuan terlebih dahulu untuk dapat mengikuti jalan menuju kondisi tanpa rasa takut berdasarkan pada satu-satunya perlindungan sejati yaitu Empat Kebenaran Mulia.

Ketakutan muncul karena keinginan dan kemelekatan. Ajaran Buddha memberikan kita banyak pemahaman cara untuk mengatasi rasa takut Bhante T. Seelananda, Bhavana Society Forest Monastery, USA mengungkapkan metode berikut dapat diterapkan yakni dengan bijak memahami hal-hal dengan benar, hidup berkesadaran dengan kondisi saat "kini", memahami situasi sebab dan akibat dari apa yang terjadi, kembangkan kepuasan diri atau rasa syukur. Memahami ketakutan sebagai jalan yang salah dan menghindarinya, ingat dan ingat kualitas Buddha, Dhamma, dan Sangha, memahami lingkaran samsara kehidupan dan bergegas untuk keluar diri dari keberadaan samsara, berusaha keras untuk mencapai keadaan memasuki arus dan pencerahan penuh sehingga dimungkinkan untuk sepenuhnya menghilangkan ketakutan. (c)